The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 88



Ketika Gong Sheng sampai di kediamannya, Feng Ai masih dalam proses pembukaan. Kata bidan bayi dalam kandungan Feng Ai dalam posisi sungsang sehingga perlu penanganan lebih untuk membuat bayi dalam kandungan Feng Ai menempatkan kepalanya dijalan lahir. Hal ini tentu akan sangat menyakitkan dan nyawa Feng Ai menjadi taruhannya, namun Feng Ai bersikeras bahwa dia harus melahirkan bayi ini karena bayinya adalah penerus dari pangeran ke 5.


Gong Sheng yang menantikan kelahiran sang anak di luar kamar begitu cemas. Takut jika apa yang menimpanya dulu juga akan menimpa calon anaknya yang sebentar lagi akan hadir kedua ini. Gong Sheng rasanya tidak sanggup membayangkan hidupnya tanpa wanita yang menjadi dunianya itu. Dalam hati Gong Sheng merapalkan banyak doa kepada dewa untuk melindungi istri dan calon anaknya.


" Aaarggghhh.... " teriak kesakitan Feng Ai terdengar sampai keluar.


" Paman,, kenapa sesakit itu kedengarannya... Seharusnya tidak seperti itu kan... " protes Gong Sheng yang disampaikannya pada Yi Ye.


" Tuan... Posisi bayi dalam kandungan nyonya sungsang. Hal ini pasti menyakitkan karena harus mengubah posisi bayi dengan mengurutnya. Dalam hal ini, memang sangat menyakitkan tuan... " ujar Yi Ye..


" Kalau begitu bagaimana dengan Ai? Apa dia bisa bertahan? "


" Semuanya tergantung pada takdir tuan. Saya tidak bisa mengatakan bagaimana nyonya nanti, karena saya tidak bisa memprediksinya.. " ujar Yi Ye..


Gong Shneg menutup rapat mulutnya, namun kakinya sama sekali tidak berhenti mondar mandir di depan kamarnya. Gong Sheng bingung jika harus dihadapkan dengan memilih salah satunya. Dia berharap ketakutannya ini tidak terjadi, karena jika benar terjadi maka Gong Sheng akan memilih mati untuk anak dan istrinya.


" Bertahanlah Ai... Demi aku... demi anak kita... " batin Gong Sheng menguatkan sangat istri.


Di dalam kamar pribadi miliknya, Fang Ai merasakan sakit yang luar biasa ketika bidan memutar perutnya agar posisi bayi bisa masuk jalan lahir. Waktu mereka tidak banyak karena air ketuban Feng Ai sudah pecah tadi, dan jika tidak segera dilahirkan maka anak dalam kandungan Feng Ai saat ini tidak akan selamat. Begitupun resiko yang harus ditanggung oleh ibu dari bayi.


Feng Ai merasakan seolah dirinya berada di neraka dan sedang disiksa karena dosa-dosanya. Menahan sakit ini, sama dengan menahan nyawanya agar tidak dijemput oleh malaikat pencabut nyawa. Feng Ai berharap dalam hati, pengorbanannya ini tidaklah boleh sia-sia.


" Tahan nyonya... Sebentar lagi posisi bayinya akan masuk jalan lahir. Silakan kekuatan anda untuk mengejan nantinya... " ujar bidan memperingati Feng Ai.


" Mengejan... " batin Feng Ai sudah tidak karuan lagi menahan sakitnya. Apalagi nanti ketika dirinya harus mengejan..


" Di dunia modern daripada mengalami sakit seperti ini sudah ada operasi Caesar... Apa disini belum ada pengetahuan tentang itu.... Aduh... aduh... sakit sekali... " Feng Ai berkeluh kesah dalam hati.


Setelah dirasa cukup lama, akhirnya Feng Ai merasakan ada sesuatu yang mendesak di bagian bawahnya. Seperti suatu benda yang memaksanya untuk melahirkan dan bidan tentunya langsung bersiap untuk menangani kembali Feng Ai yang mengalami kontraksi...


" Bidan... Tolong... Ini... ini... rasanya ada yang mau keluar... Tolong... " ucap Feng Ai lirih karena tenaganya sudah habis menahan sakit sejak tadi.


" Tenang nyonya... Jangan panik, ambil nafas dan buang kemudian anda perlu mengejan setiap momen ketika Anda akan melepaskan tarikan nafas anda. Ikuti instruksi saya!!! "


Feng Ai dengan tenang berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh bidan yang menangani dirinya. Feng Ai dia tidak bisa santai dalam hal ini atau anak dalam kandungannya yang sebentar lagi akan lahir ini dalam bahaya. Dan sekarang apa yang dinantikan akhirnya lahir juga..


Oek.. oek... oek....


Suara bayi menangis terdengar sampai keluar kamar. Bahkan para pelayan yang menunggu dengan cemas tak jauh dari kamar tuan mereka bisa mendengar dengan jelas tangisan bayi, anak dari tuan dan nyonya mereka.


" Selamat pada anda Yang Mulia... Putra anda telah lahir dengan selamat. Begitu pun dengan istri anda yang sekarang dalam baik.. Beliau hanya kelelahan dan setelah ini anda bisa masuk.. " lapor asisten bidan yang kelahiran istri pangeran ke 5.


" Kau dengar itu paman, aku punya anak laki-laki... Anak ku adalah laki-laki... " Gong Sheng bersorak gembira. Rasanya hatinya benar sangat bersyukur sekali memiliki anak laki-laki. Dengan begini calon untuk penerusnya telah lahir ke dunia.


Tak lama berselang Gong Sheng dipersilahkan masuk. Hal pertama yang dilihatnya adalah sang istri yang tengah menyusul putra mereka. Gong Sheng begitu bersyukur karena harta terindah dan paling berharga dalam hidupnya kini tengah tersenyum padanya. Gong Sheng tak tahan lagi menahan harunya sehingga langsung memeluk tubuh sang istri dan putra mereka.


Gong Sheng menghadiahkan kecupan di puncak kepala Feng Ai sebagai tanda Terima kasih yang tidak terkira banyaknya. Perjuangan Feng Ai demi penerusnya begitu mengunggah hatinya. Kini tidak ada lagi yang tidak dia miliki di dunia. Kini semua keinginannya telah lengkap dan itu berkat wanita dalam pelukannya ini.


" Terima kasih... Kau memberikan hadiah yang begitu indah dan tiada tandingannya di hari ulang tahunku... " ucap Gong Sheng. Hari ini, tepat dimana putra nya lahir adalah tanggal dan bulan yang sama dengan kelahirannya. Karena itu Gong Sheng merasa bahwa ini adalah takdir yang indah diantara dia dan kedua dunianya...


" Terima kasih karena anda telah menjadi pria yang begitu mencintai kami... " Feng Ai menangis hari..


" Selalu... Mencintai kalian... "


Momen indah ini disaksikan oleh semua orang yang tinggal dan bekerja di kediaman pangeran ke 5. Kebahagiaan telah menyelimuti kediaman ini, membuat mereka merasa perlu untuk berbagi kebahagiaan dengan semua yang membutuhkan. Dengan itu, semua pekerja berniat untuk membagi-bagikan sembako dan juga makanan dan itu semua disetujui oleh Gong Sheng dan Feng Ai.


" Tentu... Kalian harus melakukannya, demi putra ku, tuan muda kalian, Gong Jue... " ujar Gong Sheng menyebut nama putranya.


" Nama yang indah suami ku... " Feng Ai tersenyum bahagia. Rasanya lelah dan sakit yang dia rasakan tadi tergantikan dengan kebahagian karena semua menyambut kelahiran putranya dengan kebahagiaan juga.


Feng Ai merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Meski nyatanya di dunianya yang sesungguhnya tempatnya berasal memperlakukan nya dengan sangat buruk. Dia dihina dan dicaci maki seolah kekacauan dunia terjadi karenanya. Namun di dunia tempat dimana Gong Sheng berada, Feng Ai adalah wanita yang dipuja, dicintai, dan disayangi oleh pria yang paling berarti dalam hidupnya....