The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 93



Wilayah dalam istana tepatnya di pintu gerbang istana yang ketiga, pertempuran antara dua kubu benar-benar tidak lagi mampu dielakan. Masing-masing kubu sudah sama-sama kehilangan banyak anggota mereka, tapi sama sekali tidak menyurutkan api perang yang telah berkobar.


Pasukan Ri Yue yang kalah jumlah awalnya memang terlihat biasa saja, namun lama-kelamaan mereka sudah mencapai ambang batas mereka. Pasukan Ri Yue sedikit demi sedikit mulai dipukul mundur oleh pasukan gabungan pangeran yang berniat berkhianat itu.


Gong Sheng pun sudah mencapai batasnya, tenaganya pun sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Luka akibat pertempuran sebelumnya memang memiliki dampak yang begitu besar pada tubuhnya. Salah satu dampak yanng paling kentara adalah berkurangnya tenaga dalam yang dia miliki.


Jurus hujan pedang yang dia keluarkan terakhir kali, membuat setengah dari tenaga yang dia miliki terkuras. Jika perang ini tidak segera dihentikan maka Gong Sheng pun akan ikut berakhir bersama dengan Xili. Karena itu sebisa mungkin mereka mengakhiri semuanya sebelum Gong Sheng mencapai batasnya.


Pasukan bantuan untuk Ri Yue masih belum tiba sampai sekarang karena mereka kesulitan mencapai tempat pertempuran yang sudah dipenuhi oleh pihak lawan. Butuh waktu untuk menerobos lawan agar bisa segera sampai di pusat pertempuran.


" Jendral,, Jika seperti ini terus maka kita akan berakhir disini..." ucap Muzi ketika dia menyandarkan punggungnya dengan punggung Gong Sheng untuk sekedar mencari udara.


" Mereka pasti terhambat masuk karena daerah istana sudah dipenuhi pasukan lawan. Bisa beruntung jika mereka masuk dalam kondisi pasukan yang utuh. Tapi jika kurang beruntung, mereka bisa kehilangan separuh pasukan kita." Gong Sheng menanggapi.


" Muzi,, dengarkan aku...!! Jika nanti pada akhirnya aku terpaksa mengeluarkan jurus hujan pedang sekali lagi. Jika hal buruk terjadi pada ku, bisakah kau membawa istri dan putra ku ke Goryeo?" pinta Gong Sheng yang seperti permintaan terakhir saja.


" Maka dengan sangat berat hati saya mengatakan bahwa saya tidak akan membiarkan ada mengeluarkan jurus itu dan berakhir terbunuh..:" Muzi langsung meninggalkan Gong Sheng yang menatapnya dengan raut wajah yang tidak terbaca.


Pasukan lawan sudah semakin maju, membuat pasukan Gong Sheng semakin undur hingga memasuki wilayah pelataran istana utama. Dimana pelataran ini biasa digunakan untuk mengadakan pertemuan dengan negara lain, dan juga biasa digunakan sebagai tempat pesta keluarga kerajaan.


Namun kali ini, pelataran ini akan menjadi sungai darah karena banyaknya pasukan yang akan meregang nyawa disini. Hari ini istana Xili, kerajaan Xili akan menangis darah. Perang saudara yang terjadi yang nnatinya akan ditulis dala sejarah Xili bahwa karena perang ini, Xili telah menangis darah.


Sungai, sumur dan juga semua sumber air akan berubah warna menjadi merah. Tawa dan senyuman rakyat akan menjadi tangis kesedihan untuk waktu yang tidak akan sebentar. Ini semua karena keegoisan dari orang-orang yang terlampau menganggap tinggi arti sebuah kekuasaan sehingga mengorbankan banyak nyawa demi meraih itu semua.


Disaat Gong Sheng menyerahkan nasibnya dan seluruh rakyat Xili kepada Dewa, tiba-tiba saja bantuan dari dalam datang. Gong Sheng menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di depan banyaknya pasukan yang Gong Sheng sendiri tidak mengetahui pasukan itu dibawah kepemimpinan siapa.


" Semuanya... Mari kita berantas para pemberontak!!!! " teriak pemimpin pasukan itu.


Disaat Gong Sheng terkejut dengan pemimpin pasukan bantuan itu, karena merupakan seseorang yang dia kenal dengan sangat baik. Pasukan bantuan sudah maju ke depan membantu sisa pasukan Ri Yue.


" Muzi,,, Kau lindung putri Feng Ai!!!" Gong Sheng berteriak memanggil Muzi ketika dirinya sudah yakin siapa yang menjadi pemimpin pasukan bantuan itu.


Gong Sheng melihat Feng Ai tersenyum menatap ke arahnya. Senyuman yang begitu teduh seakan mengatakan pada Gong Sheng bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Fong Sheng yang tadinya sudah menyerah dengan keadaan, tiba-tiba seperti memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Membuatnya bisa menandingi lawan dengan baik.


" Aku tidak menyangka anda memiliki pasukan sebanyak ini tuan putri?" tanya Muzi dengan nada mengejek.


" Pasukan yang aku dapatkan dari ayah ku sejak peristiwa di desa waktu itu. Ayah ku sudah mengetahui bahwa suatu hari ini peristiwa ini akan terjadi. Jadi sebelum semua terlambat, beliau memberikan pasukan ini untuk ku ." terang Feng Ai dengan tangan yang tidak berhenti mengayunkan pedangnya.


Dengan kehadiran pasukan bantuan, musuh mulai kewalahan. Bahkan mereka bisa dipukul mundur sampai ke gerbang kedua. Namun seperti pasukan Gong Sheng yang mendapatkan bantuan, pasukan lawan pun juga mendapatkan bantuan hingga kedudukan kedua pasukan ini kini imbang.


Gong Sheng tidak bisa berpikir tenang ketika di medan perang yang sama dengannya istrinya juga berada. Gong Sheng panik, tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada sang istri, dengan nekat Gong Sheng mengeluarkan jurus pedang langit dimana jurus ini memiliki kekuatan penghancur yang begitu besar.Namun itu semuanya harus dibayar dengan banyaknya tenaga dalam yang harus Gong Sheng keluarkan.


" Semuanya mundur ke tempat yang aman!!!!" Gong Sheng berteriak sekuat tenaga agar didengar oleh pasukannya.


Seakan tahu apa yang akan terjadi, pasukan yang berada dibawah kepimpinan Gong Sheng dan Feng Ai langsung mundur ke tempat yang aman. Begitu pasukan Gong Sheng dan Feng Ai mundur, tiba-tiba dari langit keluar pedang yang begitu amat besar. Pedang itu kemudian jatuh mengenai pasukan lawan membuat pasukan lawan berjatuhan.


Sungguh luar bias dampak yang dihasilkan oleh jurus ini. Pasukan lawan telah kehilangan tujuh puluh persen pasukan mereka. Hal ini tentu memudahkan pasukan Gong Sheng untuk menangkap dan memberantas pasukan yang tersisa.


Ketika semua mata dikerahkan untuk menatap pasukan yang masih bertahan hidup dari serangan Gong Sheng. Tanpa mereka ketahui dari jarak yang begitu dekat dengan posisi Gong Sheng berdiri lemah, seseorang melemparkan pedangnya ke arah Gong Sheng. Naas, Gong Sheng tidak bisa menghindar karena badannya bahkan tidak bisa digerakan.


Ketika Gong Sheng menutup mata menyambut pedang yang dilempar ke arahnya. Terlihat seseorang melompat tepat di depan Gong Sheng dan menerima lemparan pedang dari musuh. Seseorang itu langsung tumbang dalam pelukan Gong Sheng yang beberapa detik sebelum tubuh itu menghantam tanah, berhasil dia tahan.


Gong Sheng menatap nanar seseorang yang telah menyelamatkannya itu. Sesuatu yang tidak akan pernah Gong Sheng sangka bahwa penyelamat hidupnya adalah orang yang kini terbaring dalam pelukannya. Air mata Gong Sheng berjatuhan ketika orang dalam pelukannya itu justru menyunggingkan senyum yang Gong Sheng tahu itu adalah senyuman perpisahan...


" Tidak.... Tidak,,,,.... Tidak......!!!!!"