
Beberapa hari sejak penyerangan itu, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala satu pun. Feng Ai juga sudah menjalani hari-harinya dengan baik. Gong Sheng pun juga aktif di barak berlatih bersama dengan pasukannya untuk melakukan simulasi peperangan agar mereka memiliki kemampuan dan insting yang tajam jika dihadapan pada peperangan.
Jika semua orang menjalani hari-harinya dengan baik lain dengan Yi Ye yang masih dipusingkan tentang rencana yang bisa memberikan pelajaran berharga pada Ming Yue tanpa mengejutkan siapapun terutama putra mahkota. Berulang kali Yi Ye mendapat ide, berulang kali juga dia menggagalkan nya karena tidak sesuai dengan keinginan dari tuannya. Jika seperti ini terus, Yi Ye mungkin akan stres karena ide yang tak kunjung benar.
Pagi ini Feng Ai kembali melakukan latihan ilmu beladiri dengan latihan ringan untuk mencapai tingkat berikutnya. Feng Ai harus bisa mencapai tingkat ke 6 sesegera mungkin. Bagaimana pun pada tingkatan itu, setiap spiritualis akan bisa mengendalikan hewan spiritualis. Dan Feng Ai sangat antusias untuk bisa merasakan kemampuan seperti itu.
Dari apa yang Shihan katakan, Gong Sheng memiliki hewan spiritualis yaitu elang merah. Burung yang memiliki kemampuan spiritual tingkat delapan yang artinya hewan spiritualis ini setingkat dengan tingkat master spiritualis tingkat lima. Untuk bisa mendapatkan hewan spiritualis ini, Gong Sheng sampai harus naik ke gunung tertinggi yang tingginya lebih dari 5000 ribu kaki dari daratan.
Yi Ye terlihat sedang merenung di taman anggrek milik Feng Ai. Otaknya sudah tidak mampu lagi menciptakan sebuah ide brilian karena syarat yang diajukan tuannya terlalu rumit. Pikirannya terbang kemana-mana hingga dia melihat kupu-kupu cantik berwarna kuning ditangkap oleh laba-laba besar untuk dijadikan santapan. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dipikiran Yi Ye karena melihat laba-laba dan kupu-kupu tadi.
" Akhirnya sebuah ide cemerlang keluar juga dari otak ku." gumam Yi Ye langsung meninggalkan taman anggrek untuk menunggu kepulangan tuannya dari barak. Yi Ye sudah tidak sabar mengutarakan rencananya, dalam hati dia berharap idenya ini tidak ditolak oleh tuannya atau dia harus kembali berpikir keras.
Latihan yang sedang dijalani oleh Feng Ai belum juga selesai ketika Yi Ye tidak saja berlalu melewati halaman belakang. Yi Ye mengernyikan dahinya, setahunya bukankah ini sudah terlalu lama untuk nyonya nya berlatih. Ini sangat gawat jika sampai nyonya nya kelelahan, karena jelas akan mempengaruhi janin yang dikandungnya.
" Shihan, kenapa latihan nyonya belum selesai?" tanya Yi Ye sekaligus dengan maksud mengingatkan.
" Baru juga dimulai paman. " jawab Shihan nampak frustasi.
" Bukannya sudah dari tadi?" tanya Yi Ye heran.
" Tuan putri sejak tadi hanya terduduk di sana dengan menikmati mangga muda yang baru saja aku petik. Tiba-tiba saja saat akan latihan, tuan putri menginginkan mangga muda, jadi ya aku ambilkan." Shihan mengutarakan isi hatinya melihat tingkah tuannya ini semakin aneh karena kehamilannya.
" Anggap saja ini latihan jika kau memiliki istri suatu hari nanti." ledek Yi Ye.
" Tidak, aku ingn seperti paman saja, mengenal perempuan itu rumit paman. Aku tidak ingin mengalami kerumitan karena wanita." elak Shihan. Dia memang belum memiliki keinginan untuk memperistri siapa pun itu karena fokusnya saat ini hanya ingin membantu pangeran ke 5 untuk menuntaskan masalahnya dengan kelompok putra mahkota.
Yi Ye tertawa sangat keras dan langsung meninggalkan Shihan yang geram padanya. Karena kesuksesannya menjalankan misi tuannya, Yi Ye jadi lepas kontrol dan mulai bertindak aneh. Feng Ai yang melihat itu hanya tertawa kecil saja. Lucu melihat dua pria dewasa sedang berdebat layaknya wanita.
Saat yang ditunggu Yi Ye telah tiba, dan disinilah dia berada, di ruangan kerja tuannya. " Tuan, saya sudah mendapatkan ide untuk rencana anda pada putri mahkota." lapor Yi Ye.
" Kenapa lama sekali paman? Ini seperti bukan kau saja?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Gong Sheng ini telah membuat emosi Yi Ye naik sampai ke ubun-ubun. Tidak tahukan dia penderitaan yanng harus dialami olehnya agar bisa berada disini saat ini.
" Anda sedang menghina saya tuan?" tanya Yi Ye dengan sangat berani.
" Tentu saja tidak, hanya tidak biasa saja kau membuat rencana sampai selama ini." Gong Sheng berusaha untuk menjelaskan.
" Persyaratan anda terlalu repot tuan. Saya sudah mendapatkan banyak ide namun semua itu belum bisa memenuhi keinginan anda." curhat Yi Ye pada Gong Sheng atas penderitaan nya seminggu ini.
" Laku bagaimana rencana itu sendiri? Kau harus menjelaskan semuanya pada ku. " titah Gong Sheng dan lansung di sanggupi oleh Yi Ye.
Dari kejauhan Feng Ai dapat melihat saat Yi ye mengutarakan rencananya itu pada sang suami. Fang Ai tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya tapi Feng Ai tahu bahwa keduanya sedang merangcang rencana untuk memberikan pelajaran pada orang yang telah menjadi dalang dibalik peristiwa penyerangan di kediaman pangeran ke 5.
Feng Ai pun berlalu dari sana dan kembali masuk ke kamar miliknya dan suaminya. Feng Ai biarkan saja suaminya dan kepala pelayan kediaman suaminya ini merancang sebuah rencana besar yang pasti akan mengundang kehidupan pribadi putri Mahkota. Tapi ketika hal tersebut terjadi, Feng Ai tidak akan melepaskan kedua matanya dari peristiwa tersebut dia ingin melihat sendiri bagaimana suaminya menghukum orang yang telah menganggu kehidupannya.
" Sekarang bersenang-senang lah, tunggu saja tanggal mainnya dan kau akan mendapatkan semua bayaran atas perbuatan mu. " gumam Feng Ai. Kini dia sedang berdiri di depan jendela kamarnya yang mengarah langsung ke kebun anggrek miliknya.
Ingatan nya pergi membawanya ke sebuah peristiwa yang begitu menyesakkan dadanya. Peristiwa yang ada di ingatan Feng Ai yang sudah dia tutup dengan begitu saja ta pa pernah lagi mau mengingatnya. Hingga akhirnya membuat Gong Sheng melupakan semua tentang dia dan juga Feng Ai.
Peristiwa ini ketika Feng Ai masih kecil dan saat itulah dia menyadari arti dari perasaannya yang tidak menentu saat melihat Gong Sheng. Namun ketika itu dia harus melihat Ming Yue menangis dan memeluk tubuh pangeran ke 5 dengan sangat erat. Hati Feng Ai hancur kala itu, sehingga dia pernah mencoret Gong Sheng dari kandidat calon suaminya.