The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 66



Meski di hatinya merasa ada yang mengganjal, namun Feng Ai tetap menjalani semuanya dengan baik. Dia tetap memiliki senyum yang menawan disetiap langkahnya, tapi banyak yang tidak tahu bahwa dalam hatinya Feng Ai begitu terluka. Luka yang menganga namun tak berdarah, dan lebih sakit dari sekedar luka berdarah.


Gong Sheng sedikit khawatir ketika melihat sang istri berprilaku seolah bahagia namun ternyata tidak. Di kepala Gong Sheng saat ini hanya dipenuhi dengan berbagai cara yang bisa membuat Feng Ai dapat kembali seperti sedia kala. Namun nyatanya Gong Sheng tak kunjung bisa menemukan ide untuk membuat Feng Ai senang.


" Tuan.." panggil Yi Ye membuyarkan lamunan Gong Sheng.


" Paman memiliki pemikiran yang sama dengan ku?" ujar Gong Sheng.


" Benar tuan. Saya punya sebuah ide, apakah anda mau mendengarkannya?" tanya Yi Ye.


" Tentu saja. Katakanlah!" titah Gong Sheng.


" Ajak saja nyonya pergi ke barak pasukan Ri Yue tuan. Bukankah hari ini aan ada latih tanding dengan pasukan dari jendral Siang." cetus Yi Ye.


Sejenak Gong Sheng nampak menimbang ide yang diusulkan oleh Yi Ye. Dia pun juga berpikir bahwa tidak akan ada masalah jika mengundang Feng Ai ke acara itu. Toh pertandingan ini biasanya sangat seru, jadi pasti bisa memberikan semangat baru untuk sang istri.


Gong Sheng langsung mendekati Feng Ai yang sedang merawat bung-bunga anggrek yang ada di taman. Gong Sheng langsung mengutarakan keinginannya, bersyukur Feng Ai langsung menyetujui hal itu. Mungkin juga karena Feng Ai sudah terlalu lama tidak keluar dari kediaman,membuat hatinya tak kunjung membaik.


" Apa tidak apa-apa jika saya ikut,, suami ku?" tanya Feng Ai merasa tidak enak.


" Tentu saja. Kenapa?" Gong Sheng balik bertanya.


" Saya hanya takut jika kedatangan saya justru menganggu acara ini. Lagipula saya juga baru pertama kali mengikuti acara seperti ini." jawab Feng Ai.


" Tidak akan ada masalah. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kau pasti sangat senang nanti ketika bisa melihat acara hari ini." ujar Gong Sheng menenangkan.


Tidak butuh waktu lama, kereta kuda milik Gong Sheng tiba di barak pasukan Ri Yue. Terlihat pasukan jendral Siang juga sudah berada di sana. Gong Sheng dengan senang langsung mengajak Feng Ai turun menuju ke arena pertandingan. Kedatangan mereka berdua mendapatkan sambutan yang baik. Bahkan pasukan Ri Yue bersorak gembira melihat jendral besar dan istrinya datang untuk mendukung mereka.


" Jika tahu anda membawa istri anda, saya juga seharusnya mengajak istri saya.' Siang Wei menyapa pangeran ke 5 dan sang istri yang baru saja memasuki arena pertandingan.


" Saya juga mendadak tadi ketika memutuskan istri saya untuk ikut. Suasana hai ibu hamil berubah-ubah, jadi saja berusaha untuk membuat perasaannya nyaman dengan mengajak istri saya kemari." dengan hati-hati Gong Sheng menjelaskan alasannya mengajak Feng Ai kemari.


" Jangan sungkan begitu tuan. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut." Siang Wei buru-buru menjelaskan.


" Terima kasih. Mari kita mulai saja sekarang.' ajak Gong Sheng.


Suasana seperti ini adalah hal baru untuk Feng Ai. Dia sama sekali tida pernah melihat pertandingan seperti ini. Bahkan semenjak dirinya masih menjadi Qiaofeng di dunia modern. Sejenak karena hal inilah feng Ai dapat melupakan masalah yang dia pikirkan. Jika saja Gong Sheng tahu apa yang sebenarnya telah dipikirkan oleh Feng Ai. Kira-kira bagaimana Gong Sheng menanggapinya.


Sejujurnya dibandingkan memikirkan tentang masalah antara Kim Yozu dan Jia Li. Feng ai lebih memikirkan tentang aur cerita novel ini yang jauh berbeda dengan apa yang dibacanya. Apakah ini hidden story yang tidak bisa dibaca para penikmat novel ini. Ataukah memang kehadiran Feng Ai yang merubah jalan ceritanya. Ketakutan Feng Ai hanya satu, bahwa karena ulahnya cerita dalam novel ini digiring ke suatu penyelesaian yang tidak diharapkan oleh Feng Ai.


" Apakah kau masih memikirkan tentang paman dan kedua orang tua mu?" tanya Gong Sheng yang terusik dengan sikap Feng Ai yang masih melamun.


" Tidak. Saya hanya sedang shock saja mendengar itu semua. Dan saya bingung harus bagaimana menyikap hal itu. Bagaimana pun ayah saya terlibat dalam masalah ini. Dan kesakitan ibu saya juga karena ulah ayah saya sendiri." ujar feng Ai setengahnya berbohong.


" Jangan terlalu kau pikirkan. Masalah ini sudah berakhir sejak lama. Kau juga harus memahami apa yang diderita ayah mertua. Dia juga tidak pernah memiliki niat untuk berkhianat. Aku yakin itu."


" Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kau nikmati saja acara ini." ujar Gong Sheng.


Pertandingan latihan antara pasukan pangeran ke 5 dengan pasukan Jendral Siang pun dimulai. Total akan ad sekitar dua puluh orang yang akan bertanding dari masing-masing kubu. Dan untuk Hadiahnya adalah bonus liburan untuk tim yang menang karena penilaiannya menggunakan sistem hitungan.


Semua yang melihat pertandingan latihan ini bersorak gembira saat pertandingan pertama dimulai. Dua kubu yang mulai bertanding ini sama-sama meneriakkan nama temannya untuk memberikan semangat.


" Ai, coba kau tebak. Siapa yang akan menang? " ujar Gong Sheng.


" Kira-kira menurut anda siapa? " Feng Ai balik bertanya. Dia tidak paham dengan kemampuan setiap orang yang bertarung, karena itu dia tidak bisa mengevaluasi tentang kemampuan masing-masing yang bertanding untuk memutuskan siapa yang menang.


" Perbedaan yang mencolok dari pasukan ku dan jendral Siang adalah medan pertarungannya. Ri Yue lebih sering bertarung di daerah dataran tinggi sedangkan pasukan jendral Siang kebalikannya. Jadi menurut mu siapa yang akan menang? " ujar Gong Sheng memberikan petunjuk.


" Kalau begitu pasti pasukan Ri Yue yang menang. Apalagi jika pertarungan itu berlangsung dalam waktu yang lama. Karena pasukan Ri Yue terbiasa dengan medan berat sehingga stamina dan daya tempur mereka lebih kuat dibandingkan lawan saat ini. " ujar Feng Ai sesuai dengan pengamatannya.


" Kau tahu selain kemampuan apa yang membuat sebuah pasukan bisa memenangkan pertempuran? " Gong Sheng kembali bertanya untuk mengalihkan pikiran Feng Ai dari masalah yang terjadi saat ini menimpanya.


" Apakah ada? Saya rasa kemampuan adalah poin penting dalam sebuah pertempuran. "


" Keberuntungan... Karena tanpa itu, kemampuan yang mendukung tetap akan bisa kalah jika tidak memiliki keberuntungan. " ucapan Gong Sheng membuat Feng Ai menatap lekat manik suaminya itu. Berharap bahwa masa-masa seperti saat ini tidak akan berlalu. Saling duduk dan berbincang tentang banyak hal.


" Saya harap anda memiliki keberuntungan yang banyak, suamiku. Agar pada akhir cerita ini, anda akan tetap hidup dan melanjutkan semua asa dan mimpi anda.. " batin Feng Ai.