The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 54



Di dalam penjara bawah tanah yang ada di kediaman pangeran ke 5, terlihat Muzi sedang mengintrogasi pria yang menjadi ketua dari penyerangan ke kediaman pangeran ke 5 ini. Namun sudah disiksa sedemikian rupa juga pria itu tetap bungkam. Kalau tidak mengingat tujuannya untuk mengetahui si dalang, sudah Muzi eksekusi pria itu sejak tadi. Muzi sudah kepalang emosi karena pria itu hanya diam saja.


" Hah.... Kenapa jadi aku yang capek sendiri." gumam Muzi. Dia berjalan ke tempat duduk yang ada di hadapan pria yang berhasil dia dan Shihan tangkap tadi.


" Kau benar-benar akan tetap diam? Kau pasti tahu jika tuan ku yang turun tangan dia akan tetap tah meski kau tidak mengatakan." tanya Muzi setengah dongkol.


" Sial.... Orang ini bisu atau sariawan, dari tadi tidak mau buka suara." Muzi mulai menggerutu tidak jelas.


Shihan masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang dijadikan penjara untuk orang-orang yang berani mencari gara-gara dengan pangeran ke 5 itu. Dan siapa saja tahanan yang masuk ke ruangan ini sudah bisa dipastikan tidak akan lagi melihat matahari terbit dan terbenam.


Shihan menggelengkan kepalanya melihat saudara seperjuangannya sedang menggerutu tak jelas. Rupanya kebiasaan lama masih belum hilang dalam diri temannya itu.


" Apa mulut mu tidak lelah sedari tadi kau menggerutu tidak jelas?" sarkas Shihan.


" Ck, kau tidak tahu penderitaan ku agar bisa membuat pria itu buka suara. Dan semuanya sia-sia, pria itu diam seribu bahasa. Entah dia bisa bicara atau tidak." gerutu Muzi panjang.


" Kita tes saja." saran Shihan. Namun sepertinya Muzi belum mengerti maksud dari Shihan untuk mengetes apa dan siapa.


Kreeekkk.


" AAAARRGGHHHH" pria yang menjadi tawanan itu berteriak begitu kencang kala jari kelingkingnya dipatahkan oleh Shihan.


" Lihat, dia bisa bicara. Kau saja yang terlalu baik saat mengintrogasi orang seperti ini. " kembali Shihan mengolok temannya itu.


" Sialan kau, diam saja saat aku tanya..."


Bugh...Bugh...Bugh...


" Ampun uan. Saya mohon ampuni saya." pinta si pria.


" Yanng berhak mengampuni mu hanya tuan kami. Sama sekali bukan hak kami untuk membebaskan mu. Dan jika pun kami punya hak itu, kami tidak akan mengampuni mu."


Dulk.. Duk...


Muzi menendang perut pria tawanan itu dua kali. Kemudian bersama dengan Shihan meninggalkan pria itu. Biarlah nanti tuannya sendiri yang mengurus pria yang keras kepala itu. Padahal sejak diawal, Muzi sudah mengatakan akan mengampuni pria itu jika pria itu mau mengatakan siapa yang memerintahkan mereka untuk melakukan penyerangan ini. Muzi tahu betul bahwa kelompok yang menyusup dan menyerang para penjaga ini adalah orang-orang terlatih dan jelas seseorang Yanng berkuasa yang bisa memerintahkan mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan.


" Sepertinya kita akan dihukum oleh tuan." gumam Shihan penuh sesal. Andai saja tadi Muzi terlambat satu detik saja, maka bisa dipastikan kandungan nyonya mereka akan mengalami masalah dan bisa saja keguguran.


" Kau benar. Kita sangat lalai hari ini. " Muzi menambahkan.


" Tadi aku pikir, yang mulia akan kembali masuk ke paviliun utama setelah dari taman. Jadi aku membantu Hui Li untuk membereskan semua peralatan yang dipakai oleh yang mulia tadi. Kau sendiri tadi kemana?" Shihan balik bertanya.


" Perut kku tiba-tiba saja sakit, jadi aku pergi ke kamar mandi saat tahu nyonya sedang berkebun dengan mu dan pelayan pribadinya." jawab Muzi tak kalah menyesal.


" Tuan pasti akan sangat marah dan menghukum kita."


" Aku tidak akan menghukum kalian, tapi aku harap kalian menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya agar tidak sampai terulang." suara Gong Sheng mengagetkan Muzi dan Shihan yang asyik dengan lamunan mereka sendiri.


" kami meminta pengampunan dari anda, yang mulia." Muzi dan Shihan bersujud di depan kaki Gong Sheng.


" Kalian berdirilah. Aku tidak suka kalian seperti ini. Kita ini adalah saudara." ujar Gong Sheng menegur orang-orangnya yang masih saja selalu memanggilnya dengan sebutan yang mulia.


" Maafkan kami tuan." ujar Muzi dan Shihan bersamaan.


Shihan dan Muzi sera bergantian menceritakan tentang kejadian tadi siang dengan sudut pandang mereka masing-masing. Tentunya Shihan tidak mengatakan tentang nyonya kediaman pangeran ke 5 menguasai beladiri. Bisa-bisa nanti tuannya ini menyalahkan dirinya yang telah mengizinkan Feng Ai untuk mulai melatih ilmu beladiri nya.


Muzi sendiri juga baru mengetahui tentang Feng Ai yang menguasai ilmu beladiri, sehari setelah pangeran ke 5 memerintahkannya untuk menjadi pengawal bayangan untuk Feng Ai. Shihan dan Yi Ye lah kala itu menjelaskan tentang apa yang keduanya rahasiakan bersama nyonya mereka pada pangeran ke 5. Muzi pun akhirnya luluh dan berjanji untuk ikut merahasiakan masalah ini namun dengan syarat latihan yang akan dijalani Feng Ai tidak akan membahayakan janin yang ada di kandungannya


" Apa kalian sudah bisa menebak dari situasi dan sudut pandang kalian siapa pelakunya?" tanya Gong Sheng seperti sedang kuis dengan orang-orangnya.


" Yang jelas bukan putra mahkota tuan, tapi untuk identitas sesungguhnya saya belum bisa menyimpulkan." Muzi yang menjawab. Dia tahu betul bagaimana cara kerja putra mahkota, dan melakukan seperti apa yang terjadi tadi bukanlah kebiasaannya.


" Orang yang memerintahkan para penyusup itu adalah seorang yang baru melakukan hal semacam ini, sedangkan yanng diperintahkan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Itu artinya orang yang memerintah mereka adalah orang yang memiliki kedudukan, atau setidaknya seorang bangsawan. Coba kalian tebak!" Gong Shenng menguji ketajaman para orangnya dalam menyimpulkan sesuatu.


Muzi dan Shihan nampak sangat serius dalam memikirkan apa yanng baru saja tuan mereka tunjukkan. Mereka masing-masing mulai mengurutkan orang-orang yang sekiranya bisa melakukan hal ini karena memiliki dendam pada kediaman Man Yue. Namun sungguh tidak ada nama yanng terlintas dibenak mereka jika acra yang digunakan lawan adalah seperti ini. Karena meminta seseorang untuk menyusup dan menyerang hanyalah orang yang tidak pandai dalam strategi. Dan akhirnya Muzi serta Shihan menyerah.


" Kalian tidak tahu jawabannya? Benar sekarang ini kalian menyerah?" tanya Gong Sheng memastikan.


" Kami menyerah tuan. Sungguh kami tidak bisa menemukan satu nama yang bisa melakukan ini semua." Shihan menjawab.


" Baik satu petunjuk lagi, dia bukan anggota kelompok putra mahkota namun sangat dekat dengan putra mahkota." sekali lagi Gong Sheng memberi petunjuk.


Namun lagi-lagi, Shihan dan Muzi tetap diam. Entah diam karena tidak bisa menjawab atau diam karena tidak memiliki keinginan untuk menjawab. Yang jelas, keduanya tetap diam sampai Gong Sheng sendiri bosan menunggu mereka menjawab.


" Aku rasa kalian berdua peru berlatih lagi dalam menganalisis keadaan dan menyimpulkan situasi. Yang memerintahkan mereka adalah Ming Yue. Putri mahkota."