
Feng Ai kini dalam perjalanan kembali ke kediaman sang suami setelah lelah melakukan sesi jalan-jalan bersama dengan pengawal dan pelayan pribadinya. Feng Ai juga lelah hati dan pikirannya karena apa yang tadi dia lihat di kediaman orang tuanya.
Feng Ai tiba-tiba teringat, bahwa sang ibu dulu pernah mengatakan hal ini padanya. tentang cinta, tentang pria dan tentang hati yang terluka. Mungkinkah hal yang sekarang dirasakan oleh Feng Ai, dulunya juga dirasakan oleh sang ibu.
" Ai, terkadang kita sebagai wanita juga bisa memilih pasangan yang salah. Apalagi wanita memang bisa dikatakan gampang jatuh cinta. Ibu harap ketika besar nanti Ai dapat menjadi pribadi yang bijaksana. Jangan sampai Ai membuang apa yang bisa Ai genggam dan menggenggam apa yang seharusnya Ai buang.
Jadi kata-kata yang dia ucapkan Jia Li pada Feng Ai ketika dia masih kecil merupakan ungkapan hati yang dilanda kekecewaan karena melepaskan Kim Yozu yang seharusnya dia genggam, namun justru menggenggam Feng Ying yanng seharusnya saat itu dia lepaskan. Dan karena kesalahan itulah, hidup dari Jia Li tidak pernah bahagia.
Ketika Feng Ai tiba di rumah, dia langsung masuk begitu saja ke kamarnya tanpa menyapa siapapun yang dia temui. Bahkan Yi Ye yang memberi salam padanya pun dia abaikan. Entahlah kenapa rasanya mulutnya sangat malas sekali mengeluarkan suara barang satu kata saja. Hati dan pikirannya terlalu sakit sehingga dia malas berinteraksi dengan siapa pun.
" Kenapa dengan nyonya? " tanya Yi Ye.
" Nyonya melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat paman... " ujar Hui Li yang juga ikut berlalu begitu saja drai hadapan Yi Ye.
" Eh...eh.., Tunggu..' Yi Ye menghentikan Shihan yang juga hendak ikut berlalu seperti dua pendahulunya tadi.
" Ceritakan!!!" titah Yi Ye tidak mau dibantah.
Huft
Shihan menghela nafas sebelum menceritakan apa yang membuat nyonya mereka seperti ini. " Paman ingat kalau Yang Mulia sudah tahu mengenai asal usul sang ibu dan segala cerita tentangnya?"
" Tentu saja. Tuan sudah menceritakan semuanya... Memangnya kenapa?" tanya Yi Ye bingung.
" Ini tentang perdana menteri kanan. Dulu beliau begitu mengacuhkan istri keduanya, dengan alasan wanita itu menjebaknya. Bahkan sebelum nyonya besar di kediaman Feng meninggal, hubungan keduanya masih buruk... Namun tadi Yang Mulia putri melihat kebalikan dari cerita itu. Mungkin beliau sakit hati, pasalnya salah satu penyebab kematian nyonya besar di kediaman Feng adalah karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga orang tuanya.."
Seperti cerita Shihan, [Yi Ye pun paham bahwa nyonya nya saat ini tengah kecewa berat pada sang ayah. Yi Ye juga tahu cerita tentang masa lal wanita bernama Jia Li, putri dari perdana menteri Goryeo.
Tabib yang selalu memeriksa penyakit menahun dari ibunda Feng Ai, selalu mengatakan bahwa penyakit yang diderita oleh Jia Li bukanlah karena penyakit layaknya orang sakit biasa. Penyakit yang diderita Jia Li adalah karena rasa sakit hati dan pikiran, serta penyesalan dan baban, sehingga tubuhnya menjadi lemah dan mulailah timbul bibit penyakit.
Semua yang mendengar apa yang disampaikan oleh tabib sudah jelas pasti tahu apa yang bisa membuat Jia Li menjadi sakit-sakitan. Apalagi Jia Li mulai sakit sejak sang suami pulang dari desa yang letaknya dekat dengan perbatasan, dan kepulangannya membawa wanita yang hamil dengan perut yang sudah besar.
Ada hal lain lagi yang bisa membuat Jia Li menjadi sering sakit, penyesalan. Andai dia memilih Kim Yozu saat itu, mungkin dia tidak akan pernah mengalami apa yang terjadi saat itu. Meski dengan posisi Kim Yozu yang adalah seorang kaisar, tapi setidaknya memperistri menjadi selir pasti juga atas persetujuannya. Tidak seperti apa yang dilakukan Feng Ying.
" Kenapa hidup mu sangat sulit Ai..." gumamnya.
Tidak salah jika Feng Ai mengatakan hal seperti itu, karena nyatanya selama beberapa waktu belakangan ini, hanya ada masalah yang datang padanya. Memaksanya untuk mengerti, namun sungguh hatinya sama sekali tidak mau untuk mengerti.
dari sini Feng Ai mengambil kesimpulan, bahwa kebencian Feng Jiao padanya pasti karena kasih sayang dari sang ayah. Atau mungkin sang ayah tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk dengan Feng Ai. Sekarang barulah Feng Ai percaya kata-kata yanng pernah dikatakan oleh Gong Sheng dulu...
" Justru karena darah yang mengalir dalam tubuh sama, makanya mereka saling menghancurkan agar bisa menjadi yang terbaik. "
Feng Ai ingat, ketika mengatakan hal itu Gong Sheng baru saja mengetahui bahwa kesialan yang menimpa padanya adalah ulah campur tangan kakak pertamanya. Belum lagi semua pangeran yang lain memusuhinya tanpa alasan yang jelas.
" Suami ku... akku merindukan mu.." ucap Feng Ai dengan nada yanng menyaratkan kesedihan yang mendalam.
Di barak pelatihan pasukannya, Gong Sheng terlihat sedang membaca laporan yang sudah dibuat ketua tim dari pasukan miliknya. Laporan ini berisi tentang analisis kemampuan pasukan ketika diadakannya pertandingan dengan pasukan jendral Siang.
Sang paman, tiba-tiba datang menemuinya saat dia sedang asyiknya membaca laporan. Gong Sheng sudah tahu apa yang ingin pamannya bicarakan. Namun dia masih ingin mendengar versi yang diketahui oleh sang paman.
" Dia menolaknya dengan sangat tegas dan keras. Tidak akan jatuh cinta pada putri ku, dengan sombongnya dia mengatakan hal itu.." Cho Hain menggerutu sendiri.
" Benar dugaan ku... Ini semua tida akan semudah yang kita harapkan." Gong Sheng menanggapi.
" Hm... Menurut mu pendekatan seperti apa yang harus kita gunakan untuk melunakkan hati pangeran ke 3?" tanya Cho Hain kelewat semangat.
" Awasi saja dulu... Jangan terburu-buru..." dengan santainya Gong Sheng berucap.. Cho Hain mendengus kasar saat itu juga.
Gong Sheng terkekeh pelan melihat wajah pamannya yang sudah merah karena kesal. Toh meski dipaksa menjawab atau memikirkan pertanyaan pamannya, Gong Sheng lebih memilih diam saja karena dia sesungguhnya tidak tahu harus mengucapkan apa. Gong Sheng terlalu malas jika diminta untuk kembali berpikir setelah perdebatan yang terjadi karenanya.
" Bagaimana dengan perasaan istri mu saat dia tahu segalanya?" tanya Cho Hain mengubah topik pembicaraan.
" Terlihat sangat shock paman. Karena ternyata selama ibu mertua masih hidup, mereka sering bercerita tentang paman Yozu, sepertinya ibu mertua memang sengaja melakukannya karena sepertinya wanita itu ingin mengenang kembali cinta pertamanya, calon suaminya..."