
Feng Ai fokus menatap hiburan yang dipersembahkan oleh para penari dan juga para pengiring penari itu. Baginya ini adalah hal yang pertama kali, karena saat dia menjadi Qiaofeng, dia tidak pernah melihat hiburan semacam ini karena memang tidak ada di dunia modern. Tidak mau menyia-nyiakan oleh karena itu matanya sama sekali tidak beralih melihat ke arah yang lain.
Gong Sheng menatap heran pada sangat istri, seperti tidak pernah dilihatnya istrinya ini begitu antusias dengan hal-hal semacam ini. Setahun Gong Sheng, istrinya lebih suka pada hal-hal berbau petualang dibandingkan seni. Tapi tak masalah baginya, senang jika sang istri bisa menikmati acara jamuan ini.
" Apa kau senang? " tanya Gong Sheng.
" Hm... Tarian mereka sangat cantik. " jawab Feng Ai girang.
" Baguslah kalau kau senang, ada untungnya juga kita datang kemari jika kau senang. " ujar Gong Sheng ikut senang. Jujur saja, dirinya ini sebenarnya sangat kurang berkenan untuk hadir ke acara jamuan ini. Baginya berkumpul dengan semua anggota keluarga istana hanya akan membuat telinga panas dan juga hati sakit.
" Tenang saja, jika ada yang berani berkata yang tidak-tidak pada mu, aku akan menghadapi mereka semua. " Feng Ai tersenyum. Dia tahu kekhawatiran dari suaminya ini.
" Terima kasih tuan putri. " keduanya sama-sama tertawa. Tanpa mereka berdua sadari, ada beberapa mata yang sangat tidak suka dengan kemesraan dari pangeran ke 5 dan istrinya itu. Mereka ingin sekali memisahkan kedua orang itu.
Pangeran ke 4 dan putri Mahkota merasakan panas yang membara di hati mereka karena rasa iri dan cemburu. Melihat kedekatan dan kemesraan pasangan dari kediaman Man Yue itu, mereka berdua sungguh begitu muak. Ingin rasanya mereka memisahkan dua insan itu, namun ini masih berada di istana, juga banyak orang disini, mereka berdua tidak ingin dihujat oleh orang-orang yang datang ke jamuan malam ini.
Dari singgasana nya, kaisar tersenyum melihat putra yang dia sayangi akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri. Kaisar merasa gagal, karena telah membuat hidup dari putranya yang satu ini jauh dari apa yang disebut dengan kasih sayang dari orang tua. Agar putranya ini hidup, dia terpaksa membuang keluar istana, demi menjaga nyawanya kaisar rela tidak menunjukkan rasa sayangnya, karena tidak ingin putra dari wanita yang dia cintai itu berada dalam bahaya.
" Xianian, lihatlah dari atas sana kebahagiaan yang didapatkan oleh putra kita. Dia kini sudah menemukan belahan jiwanya sama seperti ketika aku menemukan mu dulu sekali. Jika kini aku diambil oleh dewa, aku sudah rela. " batin Kaisar.
" Sungguh pasangan yang serasi, bukan begitu baginda? " celetuk Permaisuri.
" Kau benar ratu ku, sungguh pasangan yang serasi. Aku ingin, putra dan putri Mahkota bisa seperti pasangan pangeran ke 5.Benarkan? " ujar Kaisar menanggapi ucapan permaisuri.
" Saya juga ingin putra dan putri Mahkota seperti itu, namun sepertinya hubungan keduanya tidak sebaik yang selama ini kita lihat baginda. Terakhir kali saya melihat, mereka berdua sedang beradu argumen di depan banyak dayang dan juga penjaga istana. " ujar permaisuri melapor.
" Kenapa aku sampai tidak tahu masalah itu? Aku akan memanggil putra kita untuk membicarakan masalah hubungannya dengan putri Mahkota. Tidak enak pada perdana menteri kiri jika putri kesayangannya justru tersakiti ketika masuk ke istana. "
Kaisar dan permaisuri pun melanjutkan perbincangan mereka mengenai putra dan putri Mahkota. Pasangan ini seharusnya menjadi panutan untuk semua orang baik itu di istana maupun di kalangan rakyat. Namun jika mereka justru memberi pengaruh yang buruk, maka perlu Kaisar dan permaisuri turun tangan untuk menegur keduanya.
Saat ini, pasangan yang tengah diperbincangkan oleh Kaisar dan permaisuri justru sedang bersitegang. Putra mahkota merasa tidak suka dengan cara putri Mahkota menatap ke arah pangeran ke 5.Dia menegur, namun sangat putri Mahkota justru mengabaikannya bahkan terkesan sangat acuh.
Putri Mahkota memilih untuk bersikap acuh tak acuh dengan suaminya semenjak terkahir kali, dengan beraninya putra mahkota menampar dirinya di depan banyak sekali dayang. Saat itu, tanpa sengaja putri Mahkota mengucapkan kata-kata yang kurang sedap untuk didengar, dan putra mahkota langsung menamparnya saat itu juga.
" Tidak bisakah kau menghentikan mata mu yang kurang ajar itu. Perlu aku yang mencongkel kedua mata mu untuk menghentikan ke kurang ajaran nya. " tegur putra mahkota kasar.
" Kenapa anda melarang saya melakukan sesuatu yang sudah biasa anda lakukan yang mulia. Bukankah anda juga sering melihat gadis-gadis dengan tatapan memuja. " sindir putri Mahkota.
" Tutup mulut mu! " hardik putra mahkota. Dan dengan santainya putri Mahkota memutar bola matanya malas. Sungguh kurang ajar sekali sikap dari istrinya itu, sehingga membuatnya ingin sekali berbuat kasar. Namun semua itu harus dia tahan karena dia memiliki suatu yang penting yang harus dia lakukan malam ini.
" Adik ketiga, lihatlah kakak pertama! Dia bertengkar lagi dengan putri Mahkota. Bukankah ini sudah terlalu sering. " ujar pangeran ke 2.
" Kakak kedua benar, tapi kita tidak bisa melakukan apapun saat ini. Bisa-bisa, kakak pertama akan marah dan menghukum kita. " ujar pangeran ketiga mengomentari.
" Sudah jangan dilihat lagi, nanti yang lain bisa curiga. " tegur pangeran ke 4. Mereka bertiga serempak mengalihkan pandangan mereka ke arah yang lain. Tidak banyak yang tahu alasan kenapa putra mahkota menikahi putri Mahkota dua tahun yang lalu. Hanya ketiga adiknya inilah yang jelas tahu apa alasan dibalik pernikahan itu. Meski begitu karena itu adalah rencana mereka, jadi bagaimana kehidupan rumah tangga putra dan putri Mahkota mereka memilih tutup mata dan juga tutup telinga.
Hiburan dari para utusan istana malam ini terus mempersembahkan penampilan mereka yang terbaik. Namun, kini Feng Ai tidak lagi memperhatikan kesenangan yang ada di hadapannya. Matanya kini fokus melihat gerak gerik dari putra mahkota. Sebentar lagi, putra mahkota itu akan menjilat Kaisar untuk membenci pangeran ke 5. Feng Ai ingin mendengar secara langsung, bagaimana mulut kotor itu berusaha menjebak pangeran ke 5 untuk secara tidak sengaja masuk ke perangkapnya.
" Adik kelima, aku ingin tahu apa kau sudah mendengarkan kabar burung yang beredar di ibukota? " tanya Gong Lie. Dia mulai menjalankan rencananya.
" Maafkan saya kakak pertama, tapi saya tidak berada di ibukota akhir-akhir ini. Dan lagi, kabar burung itu bukanlah sebuah kabar yang benar adanya, jadi saya tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang tidak penting. " jawab Gong Sheng acuh.
" Tapi kabar itu tentang dirimu adik kelima. Apa kau mau mendengarnya? " tanya Gong Lie memancing.