
Semua tamu sudah berdatangan, sehingga acara pun dimulai. Pertama-tama, ayah Feng Ai mengucapkan patah kata sebagai rasa syukur karena sang putri tengah mengandung. Tidak lupa, Feng Ying mendoakan agar sang putri diberikan keselamatan sampai melahirkan dan bayinya pun akan selamat bersama ibunya.
Semuanya bertepuk tangan ketika Feng Ying menyelesaikan kata sambutannya. Setelah itu, Gong Sheng selaku pemilik acara ini mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati apa yang telah disiapkan oleh orang-orang di kediaman pangeran ke 5. Para tamu undangan terlihat begitu menikmati hidangan yang dibuat oleh koki di kediaman pangeran ke 5. Bahkan ada beberapa yang tidak sungkan untuk menambah porsi mereka karena tidak ingin melewatkan makanan yang enak itu.
" Benar-benar yang mulia Sheng disayangi oleh dea. Bahkan makanan yang dihidangkan di kediaman ini sangatlah enak dan nikmat." puji seorang tamu.
" Anda benar sekali, keberuntungan yang mulia Sheng sungguh tidak terbatas. Terus meraih kemenangan, menikah dengan wanita yang diincar banyak pria bangsawan, diberkati dengan kehidupan yang enak, sekarang beliau dikaruniai dengan momongan." seorang lagi menambahkan.
" Mungkin ini adalah balasan dari sikapnya yang tidak serakah. Beliau keluar dari istana dengan sangat tidak hormat. Tapi sekarang bisa kalian lihat bahwa Xili sangat membutuhkan kontribusi dari beliau." orang-orang yang sedang membicarakan kelebihan dari pangeran ke 5 ini sungguh tidak menyadari bahwa seseorang telah menguping pembicaraan mereka. Orang ini bahkan mengepalkan kedua tangannya karena kesal dengan pembicaraan dari para undangan ini.
Orang yang tida sengaja menguping pembicaraan orang-orang yang memuji pangeran ke 5 itu adalah putra mahkota. Hatinya sekarang ini sangat panas. Prestasi yang dia hasilkan selamanya tidak akan bisa menandingi prestasi yang sudah dibuat oleh pangeran ke 5. Apalagi sekarang ini dia belum juga mendapatkan momongan sebagai penerus dari Xili. Sesuatu yang pastinya akan membuat para menteri yang berada di pihak lain, akan membuatnya kehilangan posisi sebagai putra mahkota.
Gong Li semakin ingin segera membuat Gong Sheng tidak lagi dieu-elukan oleh rakyat Xili. Gong Lie ingin jendral besar ini akan dihujat bahkan dibenci seluruh rakyat Xili. Namun sungguh putra mahkota ini naif, jika Gong Sheng dihujat di Xili, maka dengan senang hati Goryeo akan mengambil Gong Sheng untuk dijadikan Jendral utama.
" Lihat saja, aku akan membuat mu menyesal telah menganggu posisi ku." gumam Gong Lie geram.
Setelah puas mengomel tidak jelas, Gong Lie kembali ke tempat dimana istri dan adik keduanya berada. Dapat Gong Lie lihat, bahwa adik dan istrinya sedang terlibat pembicaraan yang asyik, sampai kedatangan putra mahkota tidak ada yang menyadari.
" Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya putra mahkota mengambil tempat duduk di samping istrinya.
" Kami sedang membicarakan tentang betapa beruntungnya putri Feng segera mendapat momongan. Padahal mereka baru menikah, dan adik kelima baru pulang dari perbatasan." jawab pangeran ke 2.
" Apa kalian ingin membuat kabar burung tentang putri Feng?" tanya Gong Lie memancing.
" Apakah boleh?" tanya Gong Chen.
" Chen, apa kau tahu bahwa usia kandungan itu bisa diperkirakan, dan jika kita membuat rumor tidak sedap tentang itu, hanya akan disebut sebagai orang bodoh." sarkas Gong Lie. Heran juga dirinya pada otak milik adik dan istrinya ini.
" Lalu?" tanya Gong Cheng kurang paham.
" Biarkan saja. Kita tunggu saja adanya kesempatan yang datang nanti pada kita." jawab putra mahkota santai.
Satu hal yang baru diketahui oleh pangeran ke 3, bahwa adik kelimanya tengah memegang kartu joker yang bisa membuatnya mengalahkan putra mahkota. Gong Sheng hanya butuh bukti satu saja untuk bisa menjatuhkan putra mahkota, dan dia menantikan hal itu. Benar dia berada dipihak putra mahkota, namun tidak menutup kemungkinan dia akan memilih tidak berpihak ketika putra mahkota berada di ujung tanduk. Itu semua karena Gong Xie tidak suka berada di bawah.
" Adik kelima." Gong Xie memanggil Gong Sheng.
" Apa ada yang kakak ketiga butuhkan? Aku akan meminta pelayan menyiapkan semuanya." taya Gong Sheng basa basi.
" Tidak perlu, aku hanya ingin mengobrol dengan mu sebentar. Ajak juga istri mu agar dia tidak mencari mu nanti." ajak Gong Xie.
Gong Sheng mengajak pangeran e 3 dan istrinya ke paviliun kecil dekat dengan kolam ikan milik Feng Ai. Mereka bertiga duduk meninggalkan keramaian yang ada di halaman tak jauh dari mereka brtiga.
" Berapa usia kandungan putri?" tanya Gong Xie.
" Empat minggu." jawab Gong Sheng.
" Berarti ini saat malam pertama? Wah adik kelima, kau benar-benar luar biasa." Gong Xie tertawa.
" Anda bisa saja, dan kenapa anda tidak segera memiliki pasangan?" tanya Gong Sheng terkesan berani.
" Saat ini istana sangat kacau, kau juga pasti tahu hal itu. Meski bukan di pemerintahan, setidaknya kau yang berada di pertahanan dan kemanan pasti tahu situasi di istana saat ini. Aku sedang tidak ingin memperkeruh suasana." jawab Gong Xie terkesan sangat dewasa.
" Sekacau itukah sampai anda menolak untuk memiliki seorang istri? " Feng Ai bertanya. Polos sekali istri dari pangeran ke 5 ini.
" Aku tahu kenapa kau memilih putri paman Feng untuk kau nikahi. " Gong Xie berbisik pada adiknya lalu pamit untuk kembali ke mejanya.
Gong Sheng sebenarnya sangat menghormati kakak ketiganya itu karena diantara keempat saudara darinya hanya pangeran ke 3 yang tidak terlalu ambisius dalam memperebutkan tahta. Gong Sheng sendiri juga tidak berniat merebut tahta dari putra mahkota, hanya saja orang-orang yang mendukungnya itulah yang ingin Gong Sheng naik tahta.
berulang kali Gong Sheng menolak, tapi di masyarakat sana santer kabar yang mengatakan bahwa Xili akan makmur ketika pangeran ke 5 yang memimpin tahta. Gong Sheng sendiri juga heran, kenapa kakak ketiga yang sama sepertinya itu justru berada di pihak putra mahkota yang gila akan kekuasaan itu.
Gong Sheng saja yang tidak tahu bahwa suatu keadaan telah membuat Gong Xie harus menjadi pengikut dari putra mahkota. Suatu keadaan yang jika tidak dibereskan maka Gong Xie akan kehilangan sesuatu yang dianggapnya berharga. karena itu dengan sangat terpaksa, Gong Xie mengikuti apapun yang dikatakan oleh putra mahkota agar suatu keadaan itu tidak akan memburuk.