The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 23



Malam ini bulan nampak sangat terang dengan sinar yang menyinari kegelapan karena langit yang malam. Beberapa sudut di jalanan nampak terlihat ada bagian yang sangat gelap, karena sinar rembulan tak bisa masuk ke sudut tersebut.


Shihan nampak terduduk galau di paviliun belakang kediaman Pangeran ke 5. Dia masih terus memikirkan apa yang diucapkan oleh tuannya tadi sore saat dia melatih tuannya. Shihan mulai berpikir, mungkinkah apa yang diucapkan Feng Ai adalah kebohongan, tapi dia juga percaya ucapan tuannya itu adalah kenyataan.


" Huft... Kenapa rasanya sulit sekali untuk mencerna ucapan beliau? " gumamnya pelan. Dia sekarang ini tengah bergumam untuk dirinya sendiri, bertanya pada sendiri dan dijawab oleh diri sendiri.


" Mungkin kah benar apa yang dikatakan oleh tuan putri? Kenapa masih saja ada orang yang mengincar pangeran ke 5, padahal dia sudah melepas kesempatan untuk bisa berasa di istana. " gumam Shihab lagi.


Hatinya sangat galau karena mendengar apa yang Feng Ai ceritakan tadi sore. Saat mereka sedang beristirahat karena kelelahan latihan, Feng Ai menceritakan kenapa dia bisa tahu mengenai seorang pria yang merupakan informan dari putra mahkota dan meminta Shihan untuk membunuh pria itu.


Flashback


Shihan tetap diam saat Feng Ai terisak kuat karena mengingat apa yang terjadi pada mimpinya pagi itu, dimana Gong Sh3ng berangkat ke perbatasan. Setelah dirasakan tuannya itu tenang, Shihan mulai mengajukan pertanyaan pada tuannya. Bagaimana tuannya itu bisa tahu tentang apa yang di lakukan oleh putra mahkota.


" Apakah kau akan percaya bila aku mengatakan aku bisa melihat masa depan Xili? " tanya Feng Ai pada Shihan.


"....... "


" Aku melihat semuanya, saat para pria itu memenggal kepala Gong Sheng..... " tenggorokan Feng Ai tercekat. Rasanya lidahnya keluarga mengatakan kelanjutan dari cerita itu.


" Yang mulia, maksud anda dengan berbicara seperti itu apa? " tanya Shihan yang langsung panik saat Feng Ai mengatakan Gong Sheng dipenggal.


" Gong Sheng dituduh menjadi pengkhianat dengan membangun pasukannya sendiri di hutan dekat dengan Hila. Gong Sheng dituduh bersekongkol dengan orang-orang dari Hila,untuk bisa menguasai Xili. " jawab Feng Ai.


" Karenanya aku yang tahu jalan cerita dari kehidupan di sini, ingin mengubah akhir dari kehidupan Feng Ai dan Gong Sheng. " ujar Feng Ai.


" ....... "


" Ini bukan perintah Shihan, ini adalah permintaan ku. " gumam Feng Ai yang masih bisa didengar oleh Shihan.


Flashback off


Setelah mengingat kejadian sore tadi pun Shihan masih saja tetap bingung dan juga galau. Entah apa yang harus dia lakukan, perlukah dia melaporkan hal ini pada Gong Sheng? Hal ini yang menganggu nya hingga tak bernafsu untuk makan. Tadi dia makan hanya dua piring, biasanya bisa sampai empat piring.


Merasa malam semakin dingin, Shihan pun menyudahi kegalauannya di paviliun belakang. Dia berniat melanjutkan kegalauannya di dalam kamarnya nanti. Dengan lemah, Shihan berjalan ke arah bangunan yang merupakan tempat bagi para pengawal untuk tidur.


" Dari mana saja kau? " tanya Yi Ye mengagetkan Shihan saat pria itu baru saja masuk di bangunan tempat para pengawal dan juga pekerja pria istirahat.


" Kau mengagetkan ku saja, kau bisa membuat aku segera bertemu malaikat maut jika seperti ini. " omel Shihan.


" Kenapa kau kemari? " tanya Shihan, dirinya terlalu malas berdebat dengan Yi Ye karena berakhir dia yang akan kalah.


" Apa saja yang tuan putri katakan pada mu tadi sore? Dia menangisi apa? " tanya Yi Ye tidak basa basi sama sekali.


" Kau mengintip? Kenapa jadi suka sekali ikut campur urusan orang ha? " sarkas Shihan melihat kejulidan dari Yi Ye.


" Aku tidak mengintip atau pun seperti apa yang kau tuduhkan, aku hanya melihat tuan putri menangis sampai seperti itu pasti ini ada hubungannya dengan yang mulia pangeran ke 5." Yi Ye mencoba menjelaskan.


" Bagaimana kau tahu jika itu tentang yang mulia pangeran ke 5? " Shihan bertanya karena terkejut.


" Ck... Cepat ceritakan.!! " titah Yi Ye.


Shihan pun akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi tadi sore. Tidak ada yang dia tutup-tutupi karena dia tahu itu akan percuma jika dengan Yi Ye. Shihan juga bercerita tentang titah yang diberikan oleh Feng Ai saat dia membunuh informan milik putra mahkota.


Yi Ye tak terkejut mendengar cerita dari Shihan. Yi Ye yakin sudah dengan apa yang dia percaya selama beberapa hari ini. Feng Ai yang sekarang bukan Feng Ai yang dulu. Dan setelah mendengar apa yang Shihan katakan, Yi Ye semakin yakin dengan apa yang dia percaya itu. Hanya perlu waktu yang tepat untuk bertanya pada Feng Ai secara pribadi.


" Turuti saja apa yang nyonya perintahkan. Ini semua demi yang mulia pangeran. Kita akan mendukung siapa saja yang membela pangeran ke 5. Dan nyonya adalah salah satunya. " ujar Yi Ye, menjawab semua kegalauan dari Shihan.


" Apa kau yakin? " tanya Shihan.


" Yakin. Lakukan saja semua perintahnya. " titah Yi Ye.


Besok Yi Ye akan menjadi cari kesempatan untuk bisa berbincang dengan Feng Ai. Dia ingin segera memastikan baik atau tidaknya versi Feng Ai yang sekarang iki untuk tuannya sebelum tuannya kembali ke ibukota.


Yi Ye tak ingin gegabah dalam bertindak, dia merasa harus melihat cari tahu sendiri tentang hal ini tanpa melibatkan pangeran ke 5.Yi Ye harus tahu baik atau tidaknya versi Feng Ai yang sekarang ini.


" Sekarang istirahatlah! Masalah ini akan aku tangani, setelah semuanya jelas aku akan mengatakannya pada mu. " ujar Yi Ye yang langsung berlalu dari sana.


Shihan menghela nafasnya karena lega. Setidaknya ada seseorang yang akan membantunya untuk membuat keputusan yang benar. Bukan mereka ingin mencurigai Feng Ai, tapi demi melindungi pangeran ke 5 , mereka pun juga harus mencurigai diri mereka sendiri.


Yu Ye kembali ke kamar miliknya yang ada di bagian bangunan utama. Satu bangunan dengan kamar dari tuannya. Yi Ye mendapatkan kamar di bangunan utama untuk mempermudahkannya dalam melakukan tugasnya sebagai kepala pelayan.


Untuk dayang dan pelayanan yang ada di kediaman pangeran ke 4 ini, setiap langit sudah berganti warna menjadi hitam, maka mereka akan kembali ke tempat mereka masing-masing. Hanya Yu Ye yang tinggal di bangunan utama untuk melayani tuannya mereka setelah semua pelayan kembali ke kamar mereka.


Yi Ye termenung duduk di tepi tempat tidurnya. Dia sedang memikirkan bagaimana awalnya dia bisa menyadari bahwa, nyonya dari kediaman pangeran ke 5 ini bukanlah yang sebenarnya. Yi Ye merasa aura yang berbeda, juga ketertarikan yang berbeda pada Feng Ai yang dulu dan sekarang.


Meski begitu Yi Ye yakin bahwa versi nyonya kediaman pangeran ke 5 yang sekarang lebih kuat dan juga terlihat memiliki sesuatu yang begitu spesial berada pada dirinya.