
Feng Ai berteriak histeris setelah mendengar kabar bahwa suaminya diserang dan sekarang dalam kondisi kritis akibat luka parah yang dideritanya. Sekarang Feng Ai tahu kenapa hatinya begitu tidak nyaman tadi. Terbukti, suaminya terluka dan kritis kondisinya.
Memaksa shihan dan Muzi, untuk membawanya ke empat dimana suaminya berada. Bahkan Feng Ai tadi sempat mengancam akan melukai dirinya sendiri jika tidak segera dibawa ke tempat suaminya berada. Dengan sangat terpaksa karena takut nyonya mereka nekat melukai diri sendiri, maka Shihan dan Muzi pun mengantarkan Feng Ai ke tempat Gong Sheng berada.
Feng Ai pingsan begitu tiba di tempat suaminya berada setelah melihat dengan matanya sendiri bagaimana kondisi Gong Sheng. Penuh luka, dan sulit Feng Ai untuk menjelaskan. Tabib mengatakan bahwa lengan kanan dan kaki kiri Gong Sheng patah. Untuk bisa sembuh maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Feng Ai tidak habis pikir, siapa yang menyerang suaminya hingga bisa melukai Gong Sheng sampai separah itu. Ilmu spiritual Gong Sheng bahkan tidak ada yang bisa menandingi. Lalu kondisi suaminya ini apa yang menjadi penyebabnya.
" Katakan!!!" Feng Ai berteriak menginterogasi anak buah Gong Sheng tentang luka yang dimiliki suaminya itu.
" Masih tetap diam? Kalian ingin aku mendatangi orang yang tega melakukan ini pada suami ku? Baik, aku pergi.." Feng Ai sudah hendak bangkit dari kursi yang didudukinya.
" Nyonya.... Saya akan menceritakan semuanya." Mingye maju.
" Ceritakan semuanya tanpa ada yang perlu ditutupi!!!" jika sudah seperti ini,tidak ada yang berani melawan ucapan Feng Ai. Karena disaat seperti ini, Feng Ai memiliki aura yang sama dengan suaminya, Menakutkan.
" Jendral disandera dan dihajar oleh kelompok pangeran ke 4. Kami terlambat mengetahui bahwa jendral telah diculik. Ketika kami berhasil memukul mundur pasukan pangeran ke 4, jendral besar sudah dalam kondisi seperti ini.." Mingye menjelaskan..
" Kalian tahu bagaimana suami ku sampai disandera oleh mereka?" tanya Feng Ai dengan wajah yang sangat kacau. Air matanya mengalir denan deras, namun wajahnya menolak terlihat sedih.
" Di dalam pasukan Ri Yue terdapat mata-mata dari pihak lawan. Namun siapa orangnya kami belum berhasil mengetahui identitasnya. Orang itu mencampurkan minuman jendral dengan obat bius dosis tinggi, nyonya jendral." Mingye menunduk merasa tidak becus dalam menjaga jenderalnya.
Feng Ai terdiam, dia masih menolak untuk terlihat lemah saat ini. Tubuhnya bergetar hebat, namun dia menahan itu semua agar demi tidak terlihat lemah dihadapan semua pasukan suaminya. Dengan perlahan Feng Ai bangkit setelah beberapa lama diam berpikir. Hampir saja dia terjatuh ke belakang kalau saja Muzi tidak dengan sigap menahan tubuhnya. Tapi Feng Ai mendorong Muzi yang hendak ingin memapahnya.
" Nyonya terlihat terpukul sekali..." gumam Shihan yang masih bisa di dengar Muzi dan Mingye yang ada di dekatnya.
" Hm... Aku pun juga terpukul saat menemukan tuan jendral dalam kondisi itu. Entah apa yang sudah pria bren**** itu lakukan sampai tuan jendral seperti ini." Mingye menimpali.
" Apa kau melaporkan ini pada tuan besar?" tanya Shihan, hal itu ditujukan pada Muzi.
" Sudah aku laporkan.. Tuan besar akan menunggu keputusan tuan jendral untuk menyikapi masalah ini." jawab Muzi. Begitu dia mendapat kabar tentang pangeran ke 5 yang diserang. Dia langsung melaporkan ini pada Kim Yozu yang ada di Goryeo menggunakan elang pos. Komunikasi yang selama ini terjalin rahasia antara jenderal besar Gong Sheng dengan Kaisar Goryeo.
" Aku sudah tahu.." jawab Mingye.
" Aku belum tahu." jawab Shihan. Kedua orang ini menjawab dengan serempak.
" Darimana kalian tahu?" tanya Shihan yang merasa dia teah ketinggalan sesuatu yang sangat menarik.
Muzi pun menceritakan apa yang beberapa tahun lalu diketahuinya saat bertugas menyelidik pangeran ke 4. Rupanya yang membuat Gong Xie berada di pihak putra mahkota hanyalah karena masalah wanita. Cinta pertamanya yang adalah Feng Ai, justru memilih berhubungan serius dengan adiknya dibandingkan dengannya.
Hanya alasan sepele, tapi bagi pangeran ke 4 yang memliki sifat seperti iblis, tentu saja dia tidak terima apa yang menjadi kesenangannya diambil orang lain. Putra mahkota mengambil kesempatan dalam situasi itu, lalu merekrut pangeran ke 4 ke dalam kubunya.
Sebenarnya secara diam-diam sejak Feng Ai pindah ke kediaman pangeran ke 5, Gong Xie selalu mengawasi dalam jarak aman. Hal ini dilakukan hampir setiap hari oleh pangeran ke 4. Muzi sampai bingung sendiri dengan kegilaan dari pangeran ke 4.
Di sebuah kamar yang ada di rumah kepala desa setempat itu, tubuh Gong Sheng terbaring masih tidak berdaya. Feng Ai duduk di samping pria itu dan terus menangisi kondisi pria yang dia cintai itu. Mendengar laporan dari Mingye tadi, serasa darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Tidak habis pikir dengan sikap dan sifat pangeran ke 4.
Feng Ai jadi teringat tentang kisah novel yang sebenarnya, dimana setelah Gong Sheng ditangkap dengan tuduhan pengkhianat, Feng Ai diperistri oleh pangeran ke 4. Feng Ai dijadikan budak oleh istri pangeran ke 4 lainnya. Dan oleh pangeran ke 4 sendiri, Feng Ai dijadikan budak ranjangnya.
Mengingat itu semua, tubuh Feng Ai bergetar sangat hebat karena terlalu ketakutan. Sungguh mimpi buruk yang tidak ingin dijalani oleh Feng Ai.Gong Sheng dipenggal karena dianggap mengkhianati dinasti Xili, Feng Ai yang diperbudak di rumah pangeran ke 4. Kalau tidak salah mengingat, dalam novel yang sebenarnya, Feng Ai meninggal karena bunuh diri.
" Aku berusaha membuat mimpi buruk ku tidak menjadi kenyataan. Namun melihat anda terbaring tidak berdaya seperti ini, saya semakin yakin bahwa saya tidaklah mengubah apapun. Kita tetap berpijak dijalan yang sama, dan sama-sama belum tahu harus bagaimana menyikapi itu semua. " gumam Feng Ai mengajak bicara sang suami.
" Anda tahu, bahwa saya hanyalah roh tersesat di tubuh istri anda. Tapi saya bisa mengatakan bahwa saya begitu mencintai dan tidak ingin meninggalkan anda." gumamnya lagi.
Feng Ai kembali menangis saat suaminya tak kunjung membuka matanya. Feng Ai terus berceloteh sendiri, kadang tertawa sendiri, seolah-olah yang mengajaknya berbicara memang di depannya, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
" Saya mohon bangunlah suamiku!! Saya takut... Takut kalau saya tidak akan pernah bisa melihat anda lagi. Tolong.... tolong bangun..." Feng Ai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tempat suaminya sedang berbaring tidak sadarkan diri.
Pangeran ke 4 dan juga putra mahkota begitu senang dan puas bisa menyiksa Gong Sheng hingga tidak berdaya seperti itu. Salah siapa Gong Sheng dicintai orang yang mereka berdua cintai. Feng Ai tentunya.
" Dalam satu bulan ini, siapkan semua pasukan dan juga perlengkapan yang ada. Kita akan menyerang mereka." titah Gong Lie yang entah apa maksudnya.