The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 68



Iring-iringan pangeran ke 3 dan putri dari menteri pertahanan kini telah memasuki kawasan istana. Terlihat sudah ada Kaisar dan selir Xi berdiri menyambut kedatangan putra mereka. Di belakang mereka ada permaisuri dan Selir Wan yang turut menyambut kedatangan calon mempelai.


Acara penghormatan pun langsung dimulai, mempelai berdua bersiap untuk melakukan ritual upacara pernikahan. Terlihat Kaisar dan selir Xi, lalu menteri pertahanan dan sang istri tengah duduk melihat ritual pernikahan putra dan putri mereka. Senyum selalu ditampilkan oleh mereka semua orang tua dari mempelai. Namun senyum itu sungguh tidak terlihat di wajah pangeran ke 3.Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi, bahkan menatap mempelai wanitanya saja dia enggan. Bukan membenci sosok istri di masa depannya ini, hanya saja dia sedang berusaha menjaga satu hati yang sama terlukanya dengannya.


" Xiao Xie, kau harus menjadi suami yang baik... Jangan pernah kau menyakiti hati seorang istri, karena hal itu hanya akan membawa petaka dalam rumah tangga kalian..." Selir Xi menasehati putranya saat acara penghormatan kepada orang tua dimulai.


" Iya ibunda.." hanya itu yang bisa dikatakan oleh pangeran ke 3 saat ini. Dia tidak bisa mengatakan dia berjanji atau mengatakan hal yang lebih dari sekedar iya, karena dia tahu setelah ini wanita yang telah menjadi istrinya ini akan terluka. Hatinya sudah memiliki penghuni tetap yang tidak akan pernah terpisahkan sampai maut mendatangi mereka berdua.


" Putra ku.... Kau adalah kebanggan ku... Kau selalu mampu membuat prestasi yang gemilang dalam segala hal yang kau gemari. Ayah hanya berpesan, tunjukkan prestasi mu dalam membangun rumah tangga bersama dengan istri mu..." Kaisar memberi petuah..


" Kebanggan ayah bilang? bagaimana jika aku katakan bahwa selir muda mu sedang mengandung anak ku. Apa kau masih akan mengatakan aku putra kebanggan mu." batin pangeran ke 3 muak dan marah. Andai ayahandanya ini bertanya dahulu padanya mengenai pernikahan ini, maka dirinya tidak akan perlu mengkhianati hai wanita yang dia cintai. Dia tidak akan terjebak dalam situasi ini jika dulu ayahandanya ini tidak melamar wanita pujaannya. Dalam hati Gong Xie, tetap marah pada sang ayah, karena menurutnya hidupnya berantakan adalah karena ulah ayahnya sendiri


Setalah melakukan penghormatan pada leluhur mereka dan orang tua mereka, mempelai diperbolehkan untuk menemui para tamu undangan. Para tamu undangan mengucapkan selamat pada mempelai.


" Selamat untuk kalian berdua. Semoga langgeng dan lekas diberikan momongan..." kurang lebih seperti para tamu undangan mengucapkan selamat.


" Terima kasih... Silahkan nikmati pestanya." dan hanya itu yang diucapkan pangeran ke 3 pada para tamu.


Feng Ai dan Gong sheng ingin maju dan mengucapkan selamat, namun mereka urungkan karena melihat permaisuri dan kedua putranya mendekat untuk memberi selamat pada pengantin. Gong Sheng tidak ingin mulut pedas permaisuri akan membuat pra pangeran semakin bermusuhan.


" Kita nikmati dulu makanannya,baru setelah itu kita memberikan mereka selamat." Gong Sheng mengajak Feng Ai menjauh dari keluarga istana.


" Hmm... " Feng Ai langsung mengikuti langkah sang suami.


Ming yue menatap perut Feng Ai yang sudah mulai terlihat itu dengan sinis. Sepertinya apa yang Yi Ye berikan sebagai pelajaran kurang sehingga Ming Yue berani menatap Feng ai dengan tatapan permusuhan.


Siapa yang tidak iri dengan Feng Ai di Xili, bahkan d dinasti lainnya? Wajah bak dewi yang turun dari langit, kepribadian juga sangat baik, keluarga yang memiliki pengaruh, dan sekarang menyandung status sebagai nyonya di kediaman pangeran ke 5. Semua impian Ming Yue justru dengan mudah feng Ai raih, sedangkan dia justru terjebak di situasi yang memaksanya untuk bertahan meski di sudah tidak sanggup lagi.


" Lihatlah nyonya dari kediaman pangeran ke 5, perutnya sudah terlihat. Sepertinya kehamilannya berjalan dengan baik.. Cucu pertama perdana menteri Feng pasti akan mendapat kelimpahan berkah dan kasih sayang.." sorang istri bangsawan memuji Feng Ai tepat di depan putri mahkota, tentu saja hatinya semakin panas mendengar hal itu.


" Mereka berdua adalah pasangan yang mendapatkan doa dari seluruh rakyat Xili, jelas pernikahan mereka akan dilindungi dan dikasihi oleh para dewa dan dewi.." ujar seorang lainnya.


Ming Yue yang panas mendengarkan pujian para istri bangsawan untuk feng ai , memutuskan untuk segera berlalu dari sana. Tidak ingin bertambah panas dan justru berakhir dengan membuat keributan. Ming Yue kembali ke samping putra mahkota dan permaisuri, menampilkan wajah penuh kepalsuan. tersenyum begitu manis di depan semua tamu undangan yang datang.


" Kakak ketiga, aku dan istri ku mengucapkan selamat atas pernikahan mu." Gong Sheng membungkuk untuk menunjukkan rasa hormatnya pada sang kakak.


" terima kasih adik kelima.." pangeran ke 3 memeluk tubuh pangeran bungsu itu.


" Semoga kakak ketiga bisa berbahagia sampai akhir.." Gong sheng menambahkan.


" terima kasih..' Gong Sheng bergeser untuk memberikan ruang pada sang istri memberikan selamat untuk mempelai.


" Selamat untuk kalian berdua... semoga selalu bahagia dan lekas memiliki momongan.." Feng Ai membungkuk memberi penghormatan pada mempelai.


Pangeran ke 3 bergerak maju agar bisa dekat dengan posisi berdiri Feng Ai yang ada di depannya ini. " Ikut aku sebentar ke taman samping balai utama sekarang. Apa kau bisa?" Feng Ai mengangguk sebagai jawabannya. Tak lama setelah pangeran ke 3 keluar, Feng Ai menyusul keluar dari kediamannya.


" Apa gerangan yang membawa pangeran ke 3 menemui ku disini? Sendiri?"


" Xiao ai, aku tahu kau bukan berasal dari dunia ini, setidaknya jiwa mu.." pangeran ke 3 langsung mengatakan apa yang sedang dia ingin katakan saat ini.


" Apa maksud anda.... aku tidak mengerti? " Feng Ai sangat terkejut saat ini, tapi sebisa mungkin dia menutupi hal itu.


" Tidak usah berpura tidak tahu. Aku tahu kau bukan berasal dari dunia ini begitu pun dengan ku.. " ujar pangeran ke 3. Feng Ai langsung melotot mendengarnya.


" Anda.... anda... anda.... " Feng Ai tidak sanggup mengeluarkan barang satu kata pun dari mulutnya


" Aku berasal dari dunia yang sama seperti mu, mungkin kita saling mengenal saat berada di dunia itu. Namun bukan itu yang ingin aku sampaikan pada mu saat ini. Aku ingin meminta bantuan mu... " ujar pangeran ke 3 sedikit ragu.


" Bantuan apa maksud anda? " tanya Feng Ai memburu. Dirinya sungguh tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin pangeran ke 3 sampaikan.


" Tolong jaga selir Wan, apapun yang terjadi ke depannya. Dia sedang mengandung.... anak ku... " Feng Ai terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Akal sehatnya sungguh dibuat berkali-kali berontak saat ini. Belum hilang keterkejutannya tentang asal dari jiwa di tubuh pangeran ke 3,sekarang justru dikejutkan dengan ayah dari bayi yang dikandung selir Kaisar.


Feng Ai meski masih setengah tidak percaya, namun masih mendengarkan semua yang pangeran ke 3 katakan saat ini. Feng Ai juga menyanggupi permintaan pangeran ke 3 untuk menjaga Selir Wan, toh itu bukanlah hal yang memberatkan. Feng Ai hanya tidak percaya, bahwa ada orang lain yang terjebak sama sepertinya.