The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 86



Ketika semua orang menunggu kedatangan Gong Sheng, semuanya dikejutkan dengan kedatangan Kim Young yang tahu-tahu langsung marah pada Gong Yuan, Kaisar Xili. Semua mata memandang dua Kaisar dari Dinasti yang berbeda itu tengah adu mulut karena satu nama, Gong Sheng.


Kim Young memaki Gong Yuan karena ketidakmampuan pria itu memberi perintah, hingga akhirnya Gong Sheng dan rakyat desa menjadi korban. Gong Yuan sendiri tidak Terima dimaki oleh Kim Yozu karena tanah yang mereka pijak ini masihlah wilayah kekuasaannya. Dan tidak seharusnya Kim Yozu mendebatnya seperti ini.


" Dengar, jika saja kau itu becus mengatur keluarga mu, maka keponakan ku tidak akan mengalami hal seperti ini. Jika kau tidak bisa menjaganya, maka aku akan membawanya ke Goryeo... " sembur Kim Yozu marah.


" Sheng adalah putra ku, maka dia akan tinggal disini. Jangan coba-coba melewati batasan mu karena ini adalah wilayah kekuasaan ku... " Gong Yuan tidak mau kalah.


" Dengar baik-baik, mau ini wilayah mu atau wilayah raja neraka sekali pun jika ada yang beruhasa menyakiti keponakan ku, anak dari Xia Nian, maka aku akan rela melakukan apapun untuk membuat orang itu menyesal... " Kim Yozu semakin emosi.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah, dan pertengkaran mereka semakin menjadi hingga disaksikan oleh banyak orang di desa itu. Gong Sheng yang melewati tempat itu sampai dibuat kesal dan malu pada dua pria dewasa yang seperti anak kecil itu.


" Paman hentikan!!!" hardik Gong Sheng.


" Kau meminta ku untuk berhenti tapi tidak dengan ayah mu? Kau membelanya Sheng?" Kim Yozu marah.


" Paman... Apakah kau tidak melihat bahwa semua orang menyaksikan pertengkaran kalian? Demi apapun jelas aku lebih membela mu, tapi ini adalah Xili bukan Goryeo paman..." ujar Gong Sheng berusaha membuat sang paman mengerti.


Dalam relung hati Gong Yuan begitu sakit saat melihat putranya sendiri, darah dagingnya sendiri lebih memilih membela pamannya. Sungguhkah benar bahwa bagi Gong Sheng dirinya ini adalah ayah yang buruk. Gong Yuan menangis dalam diamnya karena hal ini.


" Maafkan kekasaran paman ku Yang Mulia..." Gong Sheng pun berlalu bersama dengan Kim Yozu meninggalkan ayahandanya.


Tanpa banyak yang tahu, Feng Ai ternyata menyaksikan semua kejadian itu dari awal hingga akhir. Bahkan Feng Ai melihat bahwa suaminya lebih membela pamannya dibandingkan ayahnya sendiri. Feng Ai melihat Gong Yuan yang termenung lama menatap kepergian sang putra. Sungguh hati kecl Feng Ai bisa merasakan rasanya diabaikan dan dibenci putranya sendiri.


" Yang Mulia..." Feng Ai mendekat dan memberi hormat.


" Rupanya Ai... Ada apa nak?" tanya Gong Yuan berusaha menutupi perasaannya yang kacau.


" Apa Yang Mulia sudah mengetahui letak tempat beristirahat anda? Jika belum , marai saya antar.."


" Terima kasih nak... Tapi aku sudah tahu dimana letaknya. Oh ya... berapa usia kandungan mu?" tanya Gong Yuan basa basi.


" Berkah ku mengalir memenuhi kalian, semoga kalian selalu dalam lindungan dewa sampai hari dimana kau akan melahirkan ."


Gong yuan meminta pada menantunya ini untuk mengantarnya berkeliling. Dia ingin melihat dampak dari perbuatan para pangeran. Sungguh Gong Yuan merasa dirinya ini tidaklah mampu menjadi Kaisar yang baik, karena rakyatnya menderita namun justru karena ulah putranya.


Melihat beberapa bangunan rusak sebagian, lalu ada rumah yang bahkan sudah tidak berbentuk lagi menjadi pemandangan yang menyakitkan mata Gong Yuan. Apalagi ketika dia membayangkan kejadian itu sendiri, sungguh hatinya bagai disayat oleh pisau dan yang melakukannya itu adalah putranya sendiri.


" Ai... Aku ingin bertanya pada mu, tapi bisakah kau jujur ketika menjawab pertanyaan ku?" tanya Gong Yuan memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


" Tentu saja Yang Mulia, saya pasti akan jujur menjawab pertanyaan anda. Saya tidak akan membuat situasi semakin memanas dengan berbohong." jawaban dari menantunya ini begitu disukai oleh Gong Yuan.


" Apa isu yang beredar tentang Gong Sheng yang membuat aliansi untuk memberontak itu benar? Katakan menurut sudut pandang mu tanpa memikirkan tentang suami mu..."


" Jikalau itu benar seharusnya yang akan diserang adalah istana dan ibukota. Kenapa harus berada di desa ini yang tentunya tidak akan membawa dampak apapun bagi Kaisar. Dan jikalau benar adanya suami saya adalah seorang pemberontak, untuk apa beliau masih berada disni, jikalau disini beliau hanya mendapatkan cacian dari keluarganya sendiri ."


" Kau benar... Anak itu tidak akan melakukannya. Dia sudah merasa bukan lagi bagian dari istana sejak aku membuangnya keluar dari istana. Meski saat itu ku melakukannya karena melindunginya dari orang-orang yang jahat, Namun sesungguhnya bagi anak itu, akulah orang jahat itu sendiri.." ujar kaisar.


" Namun, aku tetap saja takut jika apa yang orang katakan benar adanya. Aku takut Gong Sheng akan terluka dan aku tidak akan pernah bisa membelanya. Terkadang aku iri pada rakyat biasa yang menjadi seorang ayah. Mereka tidak perlu memikirkan siapapun ketika membela anaknya sendiri. Tidak seperti ku.." lanjutnya.


Feng Ai mengerti maksud dari ucapan Kaisar. Karena kenyataannya memang seperti itu, dimana Gong Sheng tidak lah mau disebut sebagai pangeran.Feng Ai tahu bagi suaminya itu suaminya hanyalah seorang jendral besar yang memimpin ribuan pasukan untuk melindungi Xili dan rakyatnya. Hal inilah yang membuatnya bertahan ketika saudaranya yang lain berusaha untuk memusuhinya. bagi Gong Sheng, selama dia bisa bersama dengan orang-orang yang dia kasihi, maka tahta bukanlah suatu yang harus dia gapai.


Meninggalkan Kaisar dan menantunya, beralih pada Gong Sheng dan Kim Yozu. Sungguh Gong Sheng tidak habis pikir kalau pamannya ini akan maju memaki ayahnya sendiri. Ini pertama kalinya Gong Sheng melihat pamannya lepas kendali pada dirinya sendiri. Gong Sheng tidak menyangka, penyerangan terhadapnya membuat singa jantan Goryeo ini menunjukkan taringnya.


Kedua orang ini masih diam dengan sejuta pikiran mereka masing-masing. Terutama Gong Sheng yang bingung harus menjelaskan seperti apa pada ayahnya. Masalahnya dia menutupi beberapa hal yang tidak ingin dia katakan, namun jika bagian itu dihapus maka yang ada dia akan menjadi orang yang dicurigai. Posisi Gong Sheng saat ini serba salah, karena jika dia maju maka dia akan mundur ratusan langkah, dan jika dia mundur maka dia akan kehilangan langkah-langkah yang bisa membuatnya sukses dan aman.


" Sheng... Ikutlah aku ke Goryeo saja. Disana tidak akan yang ada menyakiti mu seperti saudara mu disini. Aku merasa tidak aman jika meninggalkan mu begitu saja disini setelah apa yang tejkadi..." ajak Kim Yuan.


" Aku tahu paman, tapi ini belum saatnya aku kembali. Aku belum menemukan pelaku yang telah membuat aku harus kehilangan ibu ku kandung ku. Aku masih harus memastikan bahwa Xili akan aman untuk rakyatnya, jika itu semua belum terwujud akan sangat sulit untuk ku kembali ke Goryeo..." Gong Sheng menolak dengan halus.


" Apa kau benar-benar berpikir akan meninggalkan tempat ini Sheng?" seseorang bertanya...