
Kabar kepulangan pangeran ke 5 dan pasukannya sudah menyebar di seluruh penjuru ibukota. Semua penduduk yang tinggal di ibukota begitu menantikan kedatangan jendral dan pasukan Xili yang telah berhasil melaksanakan tugas kaisar dan membawa kemenangan. Namun suasana di istana tidaklah semeriah seluruh penduduk ibukota.
Kaisar sendiri sekarang ini sedang berada pada dilema nya karena ucapan putra mahkota beberapa hari yang lalu tentang pangeran ke 5 yang berniat memberontak. Bahkan putra mahkota mengatakan bahwa pangeran ke 5 memiliki pasukan rahasia. Setahun kaisar tentang anak-anaknya, seorang pangeran ke 5 tidaklah mungkin melakukan hal tersebut.
Kegusaran hati sang Kaisar nampak jelas dimata kasim Mo. Kasim yang sudah sejak Kaisar masih muda sudah ada di samping Kaisar dan juga mengabdikan dirinya pada Kaisar dan dinasti Xili.
" Apakah yang mulia sedang dalam pikiran yang buntu? " tanya kasim Mo.
" Percuma saja aku diam dan tak mengatakan apapun pada mu. Kau selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan dan rasakan. " jawab Kaisar ambigu..
" Lalu apa yang membuat anda gusar seperti saat ini yang mulia?" kembali kasim Mo bertanya.
" Kau tahu alasan kenapa aku membuat anak ku Sheng keluar dari istana? Harapan ku anak itu bisa hidup mandiri tanpa sedikit pun ikut campur urusan istana demi nyawanya dan nyawa keluarga ibunya. Tapi ku dengar baru-baru ini dia ingin memberontak. " cerita Kaisar.
" Lalu menurut anda apakah yang mulia pangeran ke 5 benar adanya memberontak? Setahun saya, hanya yang mulia pangeran ke 5 yang tidak pernah masuk ke istana sejak terakhir kali istana merayakan pernikahan putra dan putri Mahkota. Beliau sibuk dengan urusan negara dan pasukannya yang mulia kenapa beliau harus menginginkan apa yang bukan miliknya. " terang kasim Mo membuka pemikiran Kaisar yang sempat buntu.
Kaisar kembali termenung setelah mendengar kata-kata dari kasim nya. Kaisar menjatuhkan ingatannya pada beberapa tahun yang lalu, saat istana merayakan sukacita karena lahirnya seorang pangeran, juga dukacita mendalam saat salah satu selir meninggal dunia karena pendarahan saat melahirkan.
Flashback
Oeekkk.. oeeekkk... ooeeekk...
Suara tangisan bayi menggema di sebuah kamar yang ada di paviliun changmin, tempat dimana selir kesayangan Kaisar Dinasti Xili tengah berjuang melahirkan keturunan dari Kaisar.
Semua datang yang ada di dalam ruangan itu, yang membantu persalinan dari selir Xia, begitu bahagia kalau mengetahui bahwa pangeran ke 5 telah lahir. Nampak sangat tampan meski masih merah. Beberapa dayang nampak membersihkan pangeran ke 5 agar dapat segera digendong oleh Kaisar yang merupakan ayahandanya.
Sedang Kaisar sendiri nampak sangat bahagia, penantiannya membuahkan hasil karena dari yang dia dengar bahwa anaknya dan juga selir Xia adalah seorang pangeran. Dengan begini tidak akan ada satu pun dari para menteri dan juga keluarga dari permaisuri, yang akan menggoyahkan posisi dari selir Xia di istana.
" Selamat yang mulia. Pangeran ke 5 Dinasti Xili telah terlahir ke dunia ini dengan kondisi yang sangat sempurna. Wajahnya mirip sekali dengan yang mulia selir Xia. " ujar dayang senior yang membantu persalinan dari selir Xia.
" Sudahkah boleh aku menggendong putraku ini dayang senior? " tanya Kaisar setengahnya bercanda. Tentu saja boleh menggendong, karena bayi yang baru lahir ini adalah putranya.
" Tentu saja yang mulia, perlukah anda bertanya pada saya. " jawab dayang senior tersenyum sementara keduanya tangannya membantu Kaisar untuk menggendong pangeran ke 5.
Di dalam kamar, nampak seorang bidan yang masih berusaha menghentikan pendarahan dari Selir Xia yang baru saja melahirkan itu. Entah apa yang terjadi, yang jelas ini tidak biasa saat seorang wanita begitu banyak kehilangan darah, padahal bayinya lahir tanpa ada halangan dan masalah.
Keringat dingin bercucuran di dahi Selir Xia, menahan kesakitan yang teramat di perutnya. Dia sedang merasakan perutnya diperas dengan sekuat mungkin oleh seseorang, padahal nyata tidak sama sekali. Hanya dia yang begitu merasakan sakit yang sangat luar biasa ini.
" Sakit..... ini sangat sakit.... " keluh Selir Xia dengan tenaga terakhirnya.
Kaisar di luar kamar yang tengah merasakan bahagianya mendapatkan seorang putra dari wanita yang dicintainya, merasa sedikit heran karena sejak tadi dia menunggu masih saja belum diizinkan untuk masuk. Pengalaman saat permaisuri melahirkan, tidak selama ini dia menunggu diluar kamar.
Perasaannya tiba-tiba saja langsung tak enak kalau mengingat dirinya yang tidak lama menunggu saat putra mahkota lahir. Kaisar segera meletakkan putranya ke gendongan dayang senior. Dia langsung mendobrak pintu kamar yang digunakan sebagai kamar selir Xia melahirkan.
" Apa yang terjadi? " tanya Kaisar saat semua mata menatapnya.
" Maaf yang mulia, yang mulia selir masih dalam kondisi kotor. Yang mulia dilarang untuk masuk. " usir seorang dayang senior yang ada di kamar itu.
" Siapa kau berani mengusir ku? " hardik Kaisar.
Dengan langkah yang penuh kecemasan, dia membuka kembali pintu yang mengarah langsung ke tempat dimana wanita yang menjadi cinta pertamanya berada.
Kaki Kaisar tiba-tiba saja lemas saat melihat banyaknya kain yang dipenuhi oleh darah dari wanita nya. Langkahnya gontai semakin mendekat ke ranjang tempat sang istri berbaring dengan wajah yang sangat pucat.
Tubuh Kaisar ambruk di samping ranjang yang digunakan selir Xia untuk berbaring. Tangannya gemetar menggenggam tangan selir Xia yang juga gemetar karena kelelahan dan menahan rasa sakit di perutnya.
" Sayang ku... " panggil Kaisar dengan nada yang sangat lirih.
" Yang mulia.... " sahut selir Xia dengan suara yang sangat lemah.
" Apa yang terjadi pada istriku? Katakan.... !!! " sentak Kaisar tepat di depan bidan yang membantu selir Xia melahirkan.
" Maafkan saya yang mulia, namun dengan segala kepandaian saya, dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa pendarahan yang dialami oleh Selir Xia adalah kasus yang baru pertama kali saya temui. Dan maafkan saya yang sebesar-besarnya, dengan berat hati saya mengatakan bahwa nyawa selir Xia sekarang ini tidak dapat saya selamatkan. " ujar bidan itu dengan tegas.
" Apa maksud mu? Kau harus selamatkan dia!! Aku tidak peduli dengan cara apapun kalian semua harus menyelamatkan istri ki atau kalian akan mendapatkan ganjarannya jika nyawa istri ku tidak tergolong. " sentak Kaisar dengan linangan air mata yang keluar tanpa dia kehendaki.
Bidan tadi tidak mengiyakan ataupun menolak titah Kaisar yang menurutnya sangat mustahil bisa terjadi. Tapi demi keselamatan semua orang yang membantu persalinan dari selir Xia, bidan tadi terpaksa melakukan segala upaya yang sejak tadi sudah dia lakukan.
Kaisar kembali berlutut di samping pembaringan sang istri. Tangan Kaisar yang sudah sedingin es, menggenggam tangan dari selir Xia yang sudah nampak lunglai seperti tidak memiliki tenaga. Kaisar mencium kening dari wanita satu-satunya di dunia yang dia cintai itu. Seakan enggan untuk berpisah...
" Aku mohon jangan tinggalkan aku.. Ini adalah perintah Xia nian. " ujar Kaisar masih dengan air mata yang berlinang.