The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 6



Feng Ai masih terus berusaha untuk bisa menguasai energi dalam tubuhnya agar bisa dia kendalikan dan akan mempermudahnya untuk bisa menguasai teknik ilmu beladiri dengan jenis air.


Berulang kali pun dia mencoba hasilnya tetaplah sama. Tidak ada apapun yang keluar dari tubuhnya.


Helaan nafas frustasi keluar dari mulut Feng Ai. Jika bukan karena ketakutannya pada akhir dari cerita ini, dia lebih memilih untuk bersikap biasa seperti Feng Ai yang sesungguhnya.


Yi Ye datang membawakan undangan dari istana yang mengundang Feng Ai untuk mengikuti jamuan makan malam di istana besok malam. Undangan ini adalah langsung dari ibu suri dimana siapapun yang mendapatkan undangan ini diharapkan harus hadir.


" Kenapa langitnya sudah nampak semburat warna jingga?" tanya Feng Ai. Tangannya terulur ke arah Yi Ye untuk menyerahkan kembali undangan yang tadi Yi Ye berikan padanya.


" Karena ini sudah sore nyonya." jawab Yi Ye. Mata Feng Ai melotot kala mendengar bahwa hari sudah sore. Dia yang terlalu bersemangat berlatih sampai tak sadar akan waktu.


" Shihan, ayo kita sudahi sampai di sini latihan kita. Aku harus segera makan karena aku telah melewatkan makan siang." sekarang ganti Yi Ye yang melotot menatap ke arah Shihan karena sudah sangat berani membuat tuan mereka sampai tak makan siang.


Glek


Shihan menelan ludah dengan kasar saat mengetahui dirinya telah ditatap dengan tajam oleh Yi Ye.Kepala pelayan di kediaman pangeran ke 5 ini terkenal dengan sifatnya yang tak akan segan pandang bulu saat orang-orang yang berada di bawah pengawasannya melakukan kesalahan baik itu ringan atau berat.


Feng Ai membersihkan tubuhnya dengan dibantu oleh Hui Li.Pelayan yang sudah ikut bersamanya sejak keduanya masih kecil. Dibandingkan Feng Jiao adik tiri darinya, Feng Ai lebih nyaman bersama degan pelayannya ini.


Kini Feng Ai sudah duduk di kursi meja makan untuk melaksanakan makan siang yang dirangkap dengan makan malam sekaligus. Biarlah seperti ini yang penting latihannya kali ini ada kemajuan meski bukan kemajuan yang besar.


Menu makanan yang tersaji di kediaman Man Yue selalu bisa membuat Feng Ai tergoda. Bumbunya sangat berasa dan yang paling membuat Fng Ai menyukai masakan di sini adalah sup daging yang menurutnya paling enak dibandingkan dengan semua penjual sup daging di pasar ibukota.


" Yi Ye, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Feng Ai melemparkan pandangannya pada Yi Ye yang berada di sisi kanan tak jauh dari meja makan.


" Silahkan nyonya, selama saya bisa menjawab maka saya akan menjawab apapun yang nyonya tanyakan." jawab Yi Ye.


" Bagaimana cara menguasai energi yang ada di dalam tubuh agar bisa mengikuti kemauan kita?"


" Apa anda mengalami kesulitan saat latihan tadi nyonya?"


" Bisa dibilang begitu. Secara teori aku benar-benar paham tapi ketika aku mempraktekkannya aku tidak bisa merealisasikan pemahamanku tentang hal ini.'


" Nyonya, menguasai energi di dalam tubuh anda itu sama dengan anda menguasai kehebatan baru pada diri anda. Seperti seorang bayi yang mulai bisa berjalan, maka dia akan terus berjalan hingga pada akhirnya dia bisa menguasai bagaimana teknik yang membuatnya bisa bejalan tanpa terjatuh. Jika anda ingin menguasai energi itu maka kenalilah dan pikirkan bagaimana cara yang bisa anda lakukan untuk menguasainya seperti ketika anda dulu saat kecil mulai belajar berjalan." tutur Yi Ye panjang kali lebar.


Cara menguasai adalah dengan kita belajar untuk mengenal energi itu agar bisa tahu dimana cara yang tepat untuk bisa mengeluarkan enegi itu. Qiaofeng yang notabene adalah mahasiswi yang cerdas bahkan bisa dibilang jenius saja tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Yi Ye.


Feng Ai pun hendak berdiri meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamar pribadinya untuk beristirahat. Kalau saja Yi Ye tak mengatakan tentang undangan dari ibu suri itu makan Feng Ai akan benar-benar lupa tentang masalah itu.


Merasa perlu untuk menghirup udara segar, Feng Ai mengajak Hui Li untuk berjalan sebentar di taman yang ada di kediaman ini.


Sejujurnya feng Ai mengajak Hui Li keluar dari rumah dengan tujuan yang bukan mencari udara segar, tapi untuk membahas masalah acara jamuan makan malam besok di istana. Bukan tidak ingin datang tapi karena tahu apa yang akan terjadi pada kisah dari novel ini pun akhirnya mau mengikuti kepala mafia itu berjalan keluar dari kediamannya.


" Hui Li, katakan dengan sesungguhnya dan kau tak boleh berbohong ketika menjawab pertanyaan ku." ujar Feng Ai.


" Baik nyonya." ujar Hui li.


" Bagaimana menurutmu menghadapi orang yang iri pada kita dan berusaha mempermalukan kita? "


" Dengan membuat orang tersebut malu nyonya. Sebagai contoh anda kan lemah dalam ilmu sastra kenapa tidak anda tunjukkan bahwa anda bisa. Tapi anda harus belajar. "


"Aku bisa sastra kuno bahkan juga sastra baru. Kau saja yang tidak tahu kehebatan ku yang lainnya. "


" Nyonya, apa perlu besok anda datang ke istana membawa pengawal? " tanya Hui Li.


" Aku akan pergi dengan Shihan, dan kau juga harus ikut. Aku ingin kau menyaksikan tontonan yang sangat epik besok. " jawab Feng Ai menyeringai tajam.


" Apa maksud nyonya dengan tontonan menaik? Jangan bilang and akan mengacaukan jamuan itu. Ibu suri bisa marah dan anda kan terkena imbasnya nyonya." Hui Li memperingatkan.


Ibu suri terkenal sangat keras dan paling tidak bisa mentoleransi kekacauan. Siapa saja yang sudah membaut acaranya kacau pasti akan mendapatkan sangsi yang sangat berat. Sebagai pimpinan di harem, ibu suri selalu menjunjung tinggi yang namanya taat pada aturan.Seorang wanita haruslah memilik sifat yang lemah lembut dan anggun.


Feng Ai sudah menemukan cara yang bisa dia gunakan untuk membuat jera orang yang memiliki niatan buruk padanya. Feng Ai tahu tentang kisah Putri mahkota yang dulunya masuk ke dalam istana dengan tujuan untuk bisa menjadi pendamping pangeran ke 5.Namun belum juga bisa menarik perhatian pangeran ke 5, putra mahkota justru tertarik padanya dan akhirnya mempersuntingnya.


" Lihatlah, kau akan tahu siapa sebenarnya Feng Ai. Tak akan aku biarkan kau menghinaku di depan orang istana. Jika bukan untukku setidaknya aku melakukan ini untuk Gong Sheng. Tidak mungkin aku membuat dia mal memiliki seorang istri yang tidak pandai dalam ilmu pengetahuan.


Di dalam istana, jika para pria akan berlomba tanding fisik berbeda dengan wanita yang berlomba kepintaran. Semakin tinggi kepintaran dari seorang wanita maka akan lebih banyak yang menghormatinya. Dan Feng Ai ingin memanfaatkan stigma itu bahwa semakin dia pintar maka semakin putri mahkota malu.