
Hari-hari yang harus dilalui oleh putri mahkota selama tinggal di istana tidak senyaman seperti apa yang selama ini orang-orang pikirkan. Mungkin akan nyaman bila tinggal bersama dengan orang yang kita sayangi, namun bagi Ming Yue yang tinggal bersama pria yang bukan pilihannya, hari-harinya terasa seperti neraka.
Putra mahkota, adalah seorang pria yang tempramental. Tak jarang, kekesalan dan kemarahan yang dirasakan oleh putra mahkota akan dilampiaskan pada istrinya. Meski begitu, putri mahkota tidak bisa berbuat apa-apa, karena hubungan pernikahannya dengan putra mahkota merupakan hal yang bisa dibanggakan oleh keluarganya sehingga kedua orang tuanya melarang keras dirinya jika menginginkan perpisahan.
Seperti saat ini, Gong Lie baru saja memukuli Ming Yue kerena mengetahui bahwa sang istri telah membuat ibu suri marah besar. Hal ini langsung membuatnya dipukuli oleh suaminya.
" Hiks.....hiks....hiks...." Ming Yue sesenggukan sambil meringkuk di lantai. Badannya memang terasa sangat sakit, tapi lebih sakit hatinya saat ini. Mengharapkan suami yang akan selalu melindunginya justru mendapatkan suaminya lah yang selalu meletakkan tangannya di atas tubuh Ming Yue.
" Yang mulia, apa yang terjadi? Apa anda baik-baik saja?" tanya Guang Zhao yang merupakan pelayan pribadi Ming Yue yang dia bawa dari kediaman Ming.
" Yang mulia, anda harus kuat. Anda tidak boleh terlihat lemah atau anda akan ditertawakan oleh orang-orang yang selama ini iri pada anda. Mari saya bantu anda untuk bangun." Guang Zhou membantu Ming Yue untuk bangun dan memapahnya menuju ke ranjang.
Ming Yue masih tetap menangis dalam diamnya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya ada suara isakkan yang semakin lama semakin mereda. Guang Zhao datang membawa kotak obat-obatan yang menjadi barang ajib untuk ada di kamar milik putri mahkota.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa putra mahkota kerap memukul putri mahkota, itu karena kepandaian putra mahkota yang selalu memukul di bagian yanng tidak dapat dilihat oleh orang lain. Tapi begitu pakaian milik putri mahkota ditanggalkan akan nampak banyak sekali luka yang biru maupun berdarah.
Guang Zhao menghela nafas pelan saat dia membuka pakaian milik tuannya. Banyak sekali luka bekas pukulan yang sampai membiru, tidak terbayang seberapa kuatnya putra mahkota melakukan ini semua pada sang istri.
" Tolong ditahan yang mulia, ini sepertinya kan lebih sakit dibandingkan terakhir kali." ujar Guang Zhao memperingatkan tuannya.
'......."
Pelan-pelan, Guang Zhao mulai mengoleskan salep yang bisa meredakan memar dan juga menghilangkan rasa sakit. Putri mahkota tidak pernah telat menyetok salep ini karena dia sangat sering mengalami hak seperti ini.
Guang Zhao dapat mendengar dengan jelas bahwa suara isakan dari tuannya semakin lama semakin menjadi. Mungkin karena terlalu sakit ketika obat itu dioles kan oleh Guang Zhao. Meski begitu, pelayan setia putri Mahkota ini tahu betul bahwa isakan tangis ini menandakan betapa hati tuannya ini sangat sakit.
" Ini karena kau Feng Ai, seandainya kau tidak pernah ada maka sekarang ini aku akan bahagia bersama kakak ke 5 dan juga tidak perlu mengalami hal menyakitkan seperti ini setiap harinya. " gumam Ming Yue ditengah tangisannya. Selalu ini yang berhasil menguatkannya, kebenciannya pada Feng Ai lah yang selama ini menguatkannya di tengah pernikahan yang hancur ini.
" Bencilah dia yang mulia, jika dengan kebencian itu anda bisa bangkit berdiri dan tetap menjaga wibawa anda sebagai putri Mahkota. Jangan menangis lagi yang mulia, anda harus terlihat baik-baik saja di depan yang mulia putra mahkota juga seluruh keluarga istana. " Guang Zhao memotivasi tuannya.
Sebuah drama yang selalu putra mahkota lakukan bersama dengan putri Mahkota di depan semua orang, nyatanya tidak akan berlaku ketika mereka sedang berdua saja. Kasih sayang sedikit pun tidak ada, pernikahan ini hanya dimanfaatkan putra mahkota untuk menyakiti hati pangeran ke 5.Namun alangkah dia salah langkah bukan Ming Yue yang disayangi oleh adik beda ibu dengannya itu. Melainkan anak dari perdana menteri kanan yang ternyata juga telah berhasil menggugah hatinya.
Putra mahkota mengamuk di kamar kerjanya, semua rencananya untuk menjebak Gong Sheng di perbatasan nyatanya tidak ada yang berhasil. Malah sekarang ada orang baru yang mengincar dirinya. Kepalanya sudah ingin meledak tapi sang istri justru
membuat dirinya tidak lagi mampu menahan amarahnya.
" Dasar wanita tidak berguna, apa hanya menangis dan menangis yang dia bisa lakukan. Aku benar-benar muak dengannya. " sentak Gong Lie.
" Yang mulia, anda harus bisa mengontrol emosi anda. Jika dari keluarga putri Mahkota ada yang mengetahui hal ini, maka akan timbul masalah bagi anda yang mulia. " kasim Chi menegur tuannya itu. Sejak kecil putra mahkota dan juga kasim Chi sudah dipertemukan. Kasim Chi begitu menyayangi putra mahkota dan berjanji akan mengabdikan dirinya pada putra mahkota hingga akhir hayatnya.
" Dia menyebabkan paman. Aku muak sekali dengannya yang tidak bisa melakukan apapun selain hanya membuat masalah untukku. " kesal Gong Lie mengutarakan kekesalannya.
" Meski begitu seharusnya anda tidak menakutinya. " kasim Chi masih berusaha menyadarkan tuannya.
Putra mahkota tetap diam, dia tidak menanggapi teguran dan nasehat yang diberikan kasim Chi padanya. Selain pada ibundanya, hanya dengan kasim Chi, putra mahkota mau membuka hatinya. Kasim Chi sudah seperti ayah baginya karena sejak kecil yang memperhatikan nya adalah kasim Chi dan bukan ayahandanya.
Putra mahkota masih termenung memikirkan cara lain yang bisa dia lakukan untuk menjatuhkan Gong Sheng di mata para penghuni istana dan juga rakyat. Tapi prioritasnya adalah penghuni istana. Ketika istana menjatuhkan hukuman pada pangeran ke 5,maka rakyat otomatis akan mengikuti apapun keputusan dari istana.
" Hah... Kepalaku sakit sekali. " keluh Gong Lie.
" Saya akan meminta seseorang untukmu mengambilkan ada obatnya yang mulia. "
" Tidak usah kasim Chi. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang. " Gong Lie bangkit tempat duduknya, lalu berjalan ke arah pintu rahasia yang hanya dia dan beberapa orangnya saja yang tahu.
Di dalam pintu rahasia itu, ada sebuah kamar rahasia dan juga jalan rahasia menuju ke tempat rahasia milik Gong Lie yang ada di bawah tanah. Tempat yang berada di bawah tanah istana itu mengarah ke belakang istana dekat dengan hutan dimana pasukan rahasia Gong Lie berada.
Dia mulai menjadi waspada saat Gong Sheng mulai melebarkan sayapnya sebagai seorang panglima. Gong Lie merasa ketakutan kalau-kalau posisinya sebagai putra mahkota akan direbut oleh adiknya itu Padahal telah lama sekali Gong Sheng membuang gelar pangerannya tanpa seorang pun yang tahu. Gong Sheng ingin hidup sebagai panglima yang dikenal sebagai panglima, bukan panglima yang dikenal sebagai seorang pangeran.