
Pagi ini nampak jalanan di ibukota Xili dipenuhi oleh penduduk ibukota. Setiap jalan yang mengarah ke arah istana dipadati dari anak-anak hingga orang tua. Mereka sedang ingin menyambut pahlawan meraka yang akan tiba di ibukota pagi ini.
Pasukan Ri Yue sedang dalam perjalanan menuju ke ibukota. Hari ini mereka telah tiba di kampung halaman mereka. Sanak saudara dan keluarga pasti sudah menantikan kedatangan mereka. Subuh tadi pasukan yang dipimpin oleh pangeran ke 5 tiba di desa yang bersebelahan dengan ibukota. Beristirahat sebentar, pasukan ini pun melanjutkan perjalanan menuju ke ibukota yang hanya dalam hitungan jam saja sudah sampai.
" Hei jangan saling dorong. Pangeran ke 5 tidak suka jika melihat kita bertengkar hanya karena berebut tempat untuk berdiri." tegur seorang pria muda ada beberapa orang yang saling dorong hanya untuk bisa melihat jelas kedatangan pasukan Ri Yue.
" Dia benar. Pangeran ke 5 tidak akan mau melewati jalan ini lagi jika jalan ini terjadi keributan. Mari kita atur agar semuanya bisa melihat kedatangan pahlawan Xili." ujar pemuda lainnya.
Dari tempat berdirinya orang-orang tadi, terdengar dengan jelas derap langkah kuda semakin mendekati tempat mereka berdiri. Semuanya yang ada di sana yakin rombongan dari pasukan pangeran ke 5 sudah memasuki gerbang ibukota.
tak....tak....tak.....
Terlihat kuda hitam dengan pangeran ke 5 di atasnya mulai melangkah ke jalanan ibukota menuju ke arah istana. Pangeran ke 5 nampak terlihat sangat gagah dengan jubah perangnya, juga dengan kewibawaan yang nampak sangat teran terlukis diwajahnya.
Di belakang pangeran ke 5, terlihat ketua tim yang juga menaiki kuda diikuti oleh pasukan mereka. Inilah pasukan Ri Yue, pasukan yang disebut-sebut dengan pasukan dewa maut. Tidak pernah sekalipun pasukan ini kalah dalam medan perang. Bagi mereka, jika mereka tidak bisa menang, maka pihak lawan juga tidak boleh mendapatkan kemenangan.
" Hidup pangeran ke 5.......Hidup pasukan Ri Yue.....Hidup jendral besar Sheng... Hidup....Hidup.......Hidup!!!" seru para penduduk ibukota yang berjajar rapi memenuhi jalan yang dilewati oleh pangeran ke 5 dan pasukannya.
Gong Sheng melambaikan tangannya kepada seluruh penduduk ibukota yang menyambut kepulangannya. Lambaian tangannya pun disambut dan dibalas dengan baik oleh seluruh penduduk yang berdiri di jalanan. Gong Sheng merasa sangat bangga pada dirinya karena telah mampu membuat seluruh penduduk dinasti Xili telah menerimanya dengan baik.
" Yang mulia, semoga anda selalu sehat dan cepat memiliki keturunan. " teriak seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya.
Melihat hal itu, Gong Sheng memerintahkan pasukannya untuk berhenti sejenak. Gong Sheng turun dari kudanya, lalu menghampiri ibu-ibu yang telah mendoakannya dengan doa yang baik. Gong Sheng lalu mengusap kepala bayi yang digendong oleh ibu itu.
Anak anda juga akan memiliki kehidupan yang baik. Dia akan menjadi anak yang selalu berbakti pada orang tuanya. Terima kasih atas doa anda nyonya. Sehat selalu untuk anda dan juga keluarga anda." ujar Gong Sheng dengan tulus.
Dia kembali menaiki kudanya dan melanjutkan perjalanan menuju ke istana untuk melaporkan bahwa misi mereka telah diselesaikan dengan hasil yang sangat baik. Di istana nanti sudah menunggu kaisar yang akan mendengarkan laporan langsung dari pangeran ke 5 sebagai jendral besar yang memimpin pasukan Ri Yue.
Di sepanjang jalan ke istana, nampak penduduk ibukota masih memenuhi jalanan. Namun satu yang menarik perhatian dari pangeran ke 5 ketika dia dan rombongannya hampir sampai di gerbang istana. Seorang wanita dengan mengenakan pakaian berwarna merah, tengah berdiri di sisi kanan gerbang istana. Seorang wanita yang selama ini telah menguasai seluruh hati dan hidup dari pangeran ke 5.
Pangeran ke 5 nampak mempercepat laju kudanya untuk bisa segera berhadapan langsung dengan wanita yang telah menjadi istrinya itu. Feng Ai tersenyum saat melihat suaminya semakin mendekat ke arahnya. Dengan senyum bahagia yang mengembang di wajahnya, Feng Ai menyambut kedatangan suami tercintanya.
" Ai, aku sangat merindukan mu." ujar Gong Sheng. Kedua tangannya tidak berhenti mengusap pundak dan rambut panjang istrinya yang digerai itu.
" Aku juga sangat merindukan mu. Aku tunggu di rumah." ujar Feng Ai melepaskan pelukannya agar sang suami bisa segera melapor dan kembali ke kediaman mereka.
" Tunggu aku di rumah ya." Gong Sheng mengusap pipi Feng Ai sejenak sebelum naik kembali ke atas kudanya untuk segera menemui kaisar.
Perjalanan rombongan pasukan Ri Yue menuju ke istana utama kembali dilanjutkan. Gong Sheng dengan gagah memimpin pasukannya memasuki kawasan istana. Tidak butuh waktu lama, rombongan ini sampai di depan pintu utama yang ada di istana utama. Gong Sheng segera turun dari kudanya, kemudian dengan didampingi oleh wakil-wakilnya, segera memasuki balai utama.
Pintu utama yang mengarah langsung ke balai utama terbuka dengan sangat lebar, mempersilahkan orang yang tengah ditunggu-tunggu untuk memasuki balai utama. Gong Sheng dan kelima wakilnya segera berlutut memberi hormat pada kaisar.
" Saya memberi hormat pada yang mulia kaisar. Semoga yang mulia kaisar sehat selalu." serempak Gong Sheng dan para wakilnya mengucapkan salam pada yang mulia kaisar.
" Bangunlah! Kalian telah berjasa besar pada rakyat Xili dan juga dinasti Xili. Aku sebagai utusan langit mengucapkan terima kasih pada kalian semua. Dan dengan keberhasilan kalian ini, aku memberikan hadiah kepada kalian. Selamat menikmati waktu libur kalian." titah kaisar.
" Terima kasih yang mulia kaisar. Semoga yang mulai kaisar panjang umur."
Kasim Mo maju untuk memberikan simbol hadiah kepada pangeran ke 5 dan kelima wakilnya. Kasim Mo tersenyum hangat pada pangeran ke 5 yang juga dibalas oleh pangeran ke 5. Setelah penyerahan itu selesai, kasim Mo kembali ke sisi kaisar.
" Yang mulia, mohon maafkan saya atas kelancangan saya kali ini. Tapi saya dan pasukan telah mendapatkan penyerangan ketika keberangkatan kami menuju ke perbatasan. Kami telah menangkap ketua dari pasukan yang menyerang kami. Saya mohon izinkan saya dan pasukan saya mengusut masalah ini." pinta Gong Sheng dengan segala hormatnya.
" Kalian diserang? Kalau begitu urus semua itu dan temukan tuan mereka!! " titah kaisar.
" Terima kasih yang mulia. Kalau begitu izinkan kami pamit undur diri." Gong Sheng membungkuk kemudian berlalu dari balai utama.
Gong Sheng beserta seluruh pasukannya meninggalkan istana menuju ke barak mereka. Setelah dari sana, barulah mereka akan kembali ke kediaman mereka masing-masing. Gong Sheng dan seluruh pasukannya perlu untuk melakukan koordinasi sebelum mereka melakukan liburan yang dihadiahkan oleh kaisar.
" Baik, kita berpisah sampai di sini. Sampai ketemu di hari kita akan memulai tugas kita. Jadwalkan penjagaan ketat untuk menjaga tahanan kita. Semoga liburan kalian menyenangkan." ujar Gong Sheng meninggalkan barak untuk segera pulang dan menemui istri tercinta yang sudah pasti menunggu kepulangannya.