
Gong Sheng sejak pertemuan dengan Kaisar dan para menteri sudah memperhatikan gerak gerik dari ayah mertuanya. Memang benar ayah mertuanya sedikit berbeda auranya, namun masih tetap membelanya berarti ayah dari istrinya itu tidak berniat untuk menjadi lawannya.
Ajakan yang Gong Sheng ucapkan disanggupi oleh Feng Ying. Dan kini mereka berada di sebuah paviliun yang berada dekat dengan danau yang ada di tengah istana. Bisa saja mereka berdua bicara di luar, tapi untuk saat ini istana adalah tempat yang terbaik untuk mereka bicara. Selain Gong Sheng masih dilindungi beberapa orang utusan Kaisar, juga karena par menteri baru saja pulang, jadi jika berbincang di tempat lain bisa saja berjumpa dengan para menteri lainnya itu.
" Kenapa anda bicara seperti itu? Sampai kapan pun saya akan selalu memiliki waktu untuk anda dan putri.." Feng Ying langsung menanyakan perihal ucapan Gong Sheng tadi yang tidak enak didengar.
" Apa anda tahu bahwa putri anda berkunjung ke kediaman Feng kemarin?" Gong Sheng bukannya menjawab justru balik bertanya.
" Kemarin? Tidak, saya tidak tahu bahwa tuan putri berkunjung.. " Febg Ying segera menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
" Ai semalam pulang ke kediaman Feng. Saat dia datang, dia melihat anda sedang bercengkrama dengan istri kedua dan anak anda. Sesuatu yang Ai tahu bahwa anda tidak pernah melakukannya selama ini. Ai terluka karena itu.. " Gong Sheng terdiam sejenak.
" Saya tahu anda hanya berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik. Nama baik keluarga Feng berada di tangan anda, namun bukan berarti anda mengorbankan perasaan Ai. " ucapan Gong Sheng kali ini cukup menohok Feng Ying... Dia langsung merasa bersalah pada putri nya karena masalah ini.
" Saya memiliki alasan kuat untuk bertindak seperti ini. Saya hanya belum bisa mengatakannya pada tuan putri.. Maafkan Saya.. " Feng Ying memberi hormat, hendak berlalu dari sana namun ucapan Gong Sheng sekali lagi menampar nya secara tidak langsung.
" Ai sudah bertemu dengan paman ku. Secara garis besar Ai sudah tahu karena ternyata mendiang istri anda selalu menceritakan paman pada putri anda. Silahkan anda berpikir terlebih dahulu, bagaimana anda akan menyikapi masalah ini. " Gong Sheng pun pamit undur diri.
Feng Ying terduduk di kursi yang tadi dia duduki selama berbincang dengan anak menantunya itu. Hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, pikirannya pun juga begitu. Tidak menyangka sedalam itu dia melukai mendiang istrinya sampai di hari-hari terakhirnya, hanya nama Kim Young yang dia sebut bahkan diceritakan pada putri mereka.
" A Li.... Sebenci itukah kau pada ku... " buliran air mata mulai turun membasahi wajah tua miliknya. Kini dia bisa merasakan sakit yang diderita oleh sang istri selama ini. Tepatnya sejak ada duri dalam daging di rumah mereka.
" Aku hanya ingin yang terbaik untuk Ai, jika kalian membenci ku, aku akan Terima. Tapi apa yang aku lakukan saat ini, hanya karena aku ingin melindungi putri kita... " batin Feng Ying.
Pria tua dengan aura yang tegas dan dingin itu memang memiliki niat terselubung dalam aksinya yang akhir-akhir ini mengakrabkan diri dengan istri kedua dan putri keduanya. Feng Ying tidak benar-benar sudah melupakan Jia Li dan berpindah hati pada wanita yang dia benci.
Di kediaman pangeran ke 5, pemiliknya baru saja tiba. Dia langsung bergegas menuju ke kamar pradi miliknya untuk melihat sang istri yang saat ditinggalkannya tadi masih dalam keadaan tidur. Namun seperti kekhawatirannya, Feng Ai ternyata sudah terbangun dan duduk di kursi dekat jendela lagi. Gong Sheng pun bergegas menghampiri.
" Ai maaf,,, Aku pergi tanpa membangunkan mu." Gong Sheng langsung bersimpuh di depan kaki sang istri.
" Anda baru pulang dari istana? Lalu bagaimana dengan masalah penyerangan anda?" Feng Ai terlihat sedikit panik.
" Semuanya berjalan lancar, mereka sedang membantu menyelidikinya. Tapi kau pasti tahu Ai tentang pelakunya yang tidak akan pernah tersentuh. Jujur saja, bantuan mereka hanya untuk menarik simpati rakyat, agar rakyat mengapresiasikan usaha mereka membantu pangeran ke 5. Kau tahu itu kan?" jawab Gong Sheng.
" Hm... Anda benar. Pelakunya tidak akan pernah tersentuh. Namun, pernahkah anda berpikir bahwa pelaku dan anggotanya akan melakukan pemberontakan?" tanya Feng Ai.
" Aku sedang membuat rencana untuk pencegahan bila ha itu terjadi. Jika dibandingkan dengan pelakunya, aku lebih takut pada kakak keempat. Dia memiliki pemikiran diluar konteks pelaku namun membantu pelaku karena ingin melihat kehancuran nama ku." Feng Ai tidak terkejut jika sampai suaminya menyadari itu semua. Analisisnya juga sudah tepat, hanya saja prediksi akhir yang selama ini diketahui Feng Ai, sepertinya akan berubah haluan.
Gong Sheng mengajak Feng Ai kembali naik ke ranjang untuk melanjutkan istirahat mereka setelah diganggu acara pertemuan di istana tadi. Feng Ai berulang kali memperingatkan suaminya itu untuk waspada dengan saudaranya yang lain, karena mereka semua begitu iri dengan keberhasilan sang suami.
Orang-orang saja yang tidak mau tahu tentang perasaan yang dialami oleh Gong Sheng, tapi memilih untuk membencinya. Seorang pangeran yang ketika lahir sudah dianggap sebagai kutukan, ketika terlahir langsung kehilangan sosok ibu dan ayah secara bersamaan, karena saat itu Kaisar langsung menarik diri dari perkembangan sang putra dengan alasan tidak ingin orang lain menyakiti putranya. Sesungguhnya tanpa Kaisar tahu, luka dari Gong Sheng itu lebih didominasi dengan acuhnya Kaisar padanya.
Sejak lahir tanpa tahu apa salahnya, Gong Sheng dibenci oleh saudaranya yang lain. Belum lagi istri dan selir dari kaisar juga menindak dirinya sangat keras dan kejam. Diusir dari istana tanpa tahu apa salahnya, kurang kasih sayang dari orangtuanya. BUkankah itu adalah penderitaan yang saudara Gong Sheng lainnya tidak pernah rasakan. Lalu kenapa Gong Sheng begitu dibenci dengan segala kekurangannya.
" Satu hal yang membuat ku bahagia dalam hidup ku Ai, yaitu bertemu dengan mu saat itu. Kau mengalihkan dunia kejam yang aku jalani, menjadi indah karena ada kau didalamnya. Terima kasih hadir dalam hidup ku Ai..." Gong Sheng mencium dahi istrinya yang ternyata telah tertidur saat dirinya sedang asyik bercerita. Mungkin seperti sedang didongengi saja.
Gong Sheng tertawa melihat tingkah sang istri, lalu segera pergi juga ke alam mimpi menemani wanita yang paling dicintainya itu.
Sebenarnya tanpa Feng Ai ketahui, alur cerita novel tempatnya berada saat isi sudah mengubah segala ending dari ceritanya. Seseorang yang berani mengubah takdir, maka akan menanggung akibatnya...