The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 87



Dua bulan berlalu sejak peristiwa penyerangan di desa tempat Gong Sheng bertugas. Selama itu pula desas desus tentang Gong Sheng yang akan berkhianat hilang bagai ditelan bumi. Itu semua karena ucapan yang dilontarkan Gong Sheng saat dia menghadap Gong Yuan dalam pertemuan di desa tersebut.


Suara Gong Sheng begitu lantang saat itu menyuarakan pendapatnya dari sudut pandangnya maupun sudut pandang orang lain. Gong Sheng bahkan sangat berani di depan para petinggi istana yang ikut kaisar datang ke desa itu.


Flashback


Semua mata menatap kedatangan Gong Sheng di ruangan yang dijadikan pertemuan antara Kaisar dan semua yang terlibat dalam perang kemarin kecuali putra mahkota dan pangeran ke 4. Gong Sheng disorot semua orang karena kabar burung yang berhembus di ibukota tentang aliansi yang dia buat untuk memberontak pada pemerintahan Xili.


Gong Sheng yang sudah muak dengan semua itu akhirnya angkat bicara juga. Dan itu semua membuat semua orang yang hadir di ruangan itu begitu terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Gong Sheng.


" Tidakkah sangat lucu jika orang mengabarkan saya adalah seorang pengkhianat. Untuk apa saya maju ke medan perang melawan Goryeo lima tahun yang lalu hanya untuk akhirnya saya memberontak. Kenapa tidak saya lakukan lima tahun yang lalu? Ini semua sangat konyol, dan anda semuanya yang duduk disini percaya akan hal tersebut." Gong Sheng terdiam sejenak.


" Putra mahkota mengatakan saya adalah seorang


pengkhianat dan anda berlomba-lomba percaya akan hal itu. Saya tidak pernah menginginkan tahta jika itu yang kalian anggap alasan saya melakukan pemberontakan. Karena tidak ada jendral yang akan naik tahta sampai kapan pun. Tapi pangeran lain bisa menggantikan kedudukan putra mahkota, tidak dengan saya. "


" Silahkan anda pikirkan semua yang saya katakan hari ini. Jika saya memang berniat melakukan pemberontakan saya pasti akan melakukannya jauh sebelum saya menjadi jendral. Kemudian, jika dibandingkan menjadi seorang pemberontak, saya dengan sadar lebih memilih berjalan dijalan yang sama dengan ibunda saya daripada menjadi pemberontak disini." itulah ucapan Gong Sheng yang serasa menampar wajah para petinggi istana yang hadir bersama Kaisar. Hal ini juga yang membuat Kaisar bungkam.


Flashback off


Kehidupan pangeran ke 5 dan keluarga kecilnya begitu damai selama dua bulan ini. Bahkan mereka sama sekali tidak terpisahkan karena Gong Sheng mendapatkan izin cuti dari tugas karena luka-lukanya. Tidak ada yang menganggu, semuanya berjalan lancar saat ini.


Jika ditanya bagaimana hubungan Gong Sheng dengan saudaranya yang lain, maka jawabannya adalah lebih renggang daripada sebelumnya. Jika biasanya mereka akan berpura-pura baik maka sekarang mereka sama sekali tidak akan bertegur sapa. Mereka seperti orang asing yang bertemu secara tidak sengaja di dalam sebuah momen. Hanya itu tidak lebih dan tidak kurang.


Hal ini membuat Kaisar prihatin, rasanya dia benar-benar telah gagal menjadi ayah yang baik untuk putranya. Saat itu setelah kepulangan Kaisar dari desa itu, putra mahkota dan Pangeran ke 4 mendapatkan hukuman karena telah melakukan sebuah tindakan tanpa titah darinya dan mengakibatkan banyak rakyat jadi korban. Kaisar menghukum anak-anaknya itu dengan sangat keras sehingga menimbulkan dendam di hati anak-anaknya itu.


Putra mahkota dan pangeran ke 4 merasa kecewa dengan keputusan yang ayahnya buat. Mereka merasa ayah mereka pilih kasih pada adik kelima mereka. Hal itu semakin membuat niat mereka untuk mencelakai pangeran ke 5 menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan disinilah putra mahkota berada, markas pribadi miliknya.


" Yang Mulia, apa anda yakin dengan rencana anda ini? Jika gagal maka kita akan binasa semuanya." tanya Cheng Li.


" Ya aku sangat yakin dengan hal ini. Pasukan kita akan bergabung dengan pasukan adik ku yang lainnya. Ri Yue tidak akan mampu bertahan jika kita melakukan penyerang secara terus menerus. Daya tahan mereka memang kuat tapi jika digempur berkali-kali maka mereka akan tetap kalah.." ujar Gong Lie yakin..


" Pada bulan ini setelah tanggal lima belas ketika bulan purnama muncul, kita lakukan rencana ini." jawab Gong Lie.


" Baik Yang Mulia, serahkan semuanya pada kami..."


Setelah semuanya sudah dikoordinasikan bersama, Gong Lie pulang kembali ke istana. Dia harus kembali menekan sang istri agar mau membantunya melakukan apa yang sudah dia pikirkan selama dua bulan ini. Dengan menggunakan alasan anak yang dikandungnya Gong Lie yakin bahwa istrinya itu pasti akan membantunya.


Sebulan yang lalu, putri mahkota dikabarkan tengah mengandung. Saat pertama kali mengetahuinya, putri mahkota begitu bahagia, dengan begini posisinya di istana akan aman. Namun salah satu peramal di istana mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal, namun kejadian berikutnya semakin meyakinkannya akan hal itu.


" Calon anak Yang Mulia adalah seorang pangeran. Namun karena di bagian lain juga akan melahirkan seorang pangeran maka calon anak kalianlah yang akan kalah. Jika dibiarkan, maka yang akan menduduki tahta Xili adalah pangeran dari bagian luar istana..." ujar peramal menerawang.


Kata-kata yang diucapkan peramal itu membuat Gong Lie murka namun memanfaatkan hal itu untuk membuat keluarga sang istri mau membantunya mengalahkan Gong Sheng. Dengan begini rencana yang sudah dia susun selama bertahun-tahun yang lalu akan segera terwujud.


Di sisi lain di kediaman Pangeran ke 5,namoak seluruh penghuninya terlihat sangat panik. Nyonya kediaman ini baru saja terjatuh ketika berjalan di taman sehingga membuat ketubannya pecah dan mengalir membasahi tanah. Darah pun ikut keluar dari perut nyonya kediaman Pangeran ke 5 membuat semuanya segera memanggil bidan. Beruntung bidan sudah siaga di kediaman pangeran ke 5 sejak satu minggu yang lalu.


" Lekas bawa nyonya ke kamar... Segera sampaikan kabar ini pada yang mulia... " ucap bidan memberi perintah.


" Baik nyonya... "


Orang-orang yang tadinya mengerubungi Feng Ai, sekarang terpecah menjadi dua. Satu pergi dengan menggotong tubuh nyonya mereka ke kamar, dan satu lagi segera memberikan kabar tentang akan lahirnya calon penerus jendral itu pada ayah si jabang bayi.


" Nyonya,,, anda harus bertahan. Jangan sampai anda kehilangan kesadaran anda... " bidan itu mencoba mengajak bicara Feng Ai agar jangan sampai pingsan.


" Sakit.... Sakit sekali perut ku... " gumam Feng Ai lirih sekali.


" Bertahanlah nyonya,, ini demi calon penerus jendral.. "


Bidan yang menangani Feng Ai berusaha sekuat mungkin untuk membuat Feng Ai bisa kuat mengejan untuk membuat anaknya terlahir. Akan sangat fatal akibatnya jika sampai Feng Ai pingsan terlebih dahulu sebelum anaknya lahir. Memang masih ada metode dengan membelah perut, namun itu sangat riskan sekali dengan kematian dari pihak ibu. Karena itu sebisa mungkin bidan itu mengusahakan Feng Ai agar tetap sadar.


BRAKKKKK