
Pasukan Ri Yue milik Gong Sheng memutuskan untuk membantu penduduk desa perbatasan untuk memulihkan desa setelah pernah diporakporandakan oleh para perompak. Meski Gong Sheng sudah sangat merindukan sang istri, tapi rakyat desa si perbatasan ini juga sangat membutuhkan dirinya.
Pasukan Ri Yue mulai membantu membangun beberapa rumah yang dulunya pernah dihuni tapi kemudian hancur dan ditinggalkan oleh pemiliknya karena takut dengan adanya perampok. Gong Sheng juga memberikan sumbangan beberapa bahan pangan dan juga uang untuk rakyat desa di perbatasan ini.
" Liancheng, kau uruslah bupati yang sudah tidak pantas disebut bupati itu. " titah Gong Sheng..
" Baik tuan, tapi bagaimana anda tahu tentang masalah Bupati yang telah berbuat tak adil itu? " tanya Liancheng yang langsung ditatap tajam oleh Gong Sheng.
" Lalu kenapa kau diam saja? " Gong Sheng justru bertanya dengan nada yang terdengar tak menyenangkan.
" Surat yang saya kirimkan ke istana pasti akan sampai ke tangannya. Sudah banyak sekali saya mengirim petisi dan sirah untuk istana mengenai masalah ini tuan. " jawab Liancheng tertunduk.
" Seharusnya kau kirimkan itu pada pasukan ku. " Gong Sheng menghela nafas panjang.
Liancheng terdiam sejenak, dia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa sampai berpikir tentang pasukan Ri Yue. Pasukan itu adalah pasukan yang bisa membantu para penduduk di desa perbatasan ini. Mau bagaimana pun semuanya sudah berlalu, menyesal juga sudah terlambat.
Gong Sheng berjalan berkeliling desa yang paling dekat dengan perbatasan itu. Dia melihat pasukannya dan pasukan perbatasan bekerja sama untuk membantu penduduk membuat rumah, ada yang bertanam padi, ada pula yang membuat kolam yang bisa digunakan untuk memelihara ikan.
Lima tahun yang lalu di desa ini pecah peperangan antara Xili dan Goryeo. Ketika pasukan yang dipimpin oleh Pangeran ke 5 menang, terjadi genjatan senjata. Berkat kepintaran pangeran ke 5 waktu itu, akhirnya Xili dan Goryeo untuk pertama kalinya bisa saling bekerja sama.
Terjadilah hubungan mutualisme di antara kedua dinasti ini. Perdagangan antara Xili dan Goryeo, menjadi awal hubungan yang baik itu. Xili yang memiliki hasil tani dan kebun yang lebih baik dalam kualitas dan lebih banyak dibandingkan hasil tani dan kebun dari Goryeo, melakukan barter dengan Goryeo yang memiliki hasil pertambangan uang terbaik dari Dinasti lainnya.
" Hormat pada panglima Besar. " seorang anggota pasukan Ri Yue memberikan hormat pada Gong Sheng.
" Hem... " tangan Gong Sheng yang sebelah kanan terangkat untuk menyambut hormat dari anggota pasukannya itu.
" Apa ada kendala? " tanya Gong Sheng.
" Kami kekurangan bahan material, panglima. Tapi kepala desa mengatakan bahwa dia sudah memesankan bahan tersebut. " jawab pria itu sembari melapor.
" Jika ada yang kalian tak bisa selesaikan, bisa kalian sampaikan pada ku atau ketua kalian. Paham kan? " ujar Gong Sheng.
" Baik panglima. " ujar pria itu.
" Yang mulia, tempat ini sangat kumuh dan kotor. Pakaian indah anda bisa kotor oleh karena tempat ini. Sebaiknya anda melihat dari sana yang mulia. " ujar seorang pria tua yang langsung menghampiri Gong Sheng saat tahu dia mendekat.
" Saat saya berperang, saya juga kotor tuan. Tidak ada salahnya jika pakaian saya kotor, masih bisa dicuci. " ujar Gong Sheng rendah diri.
" Kalau begitu apa yang mulia ingin melihat kerja kami dari tempat yang lebih dekat lagi. " pria tua itu menawarkan.
" Jika tidak mengganggu kalian tentu saya mau tuan. " Gong Sheng pun ikut untuk lebih dekat dengan kolam yang masih digali oleh penduduk desa bersama dengan pasukan.
Gong Sheng tiba-tiba merasa bersemangat ingin mencoba apa yang dilakukan oleh pasukannya berserta dengan penduduk desa. Gong Sheng mendekat, kemudian meraih cangkul yang kebetulan ditinggalkan oleh pemiliknya untuk beristirahat.
" Tuan ku, apa yang anda lakukan? Ini adalah pekerjaan kotor. " seorang pria yang adalah anggota dari pasukan Gong Sheng mendekati panglimanya dan menegur Gong Sheng.
" Lalu pekerjaan apa yang tidak kotor? Seorang panglima seperti ku juga memiliki pekerjaan kotor, apalagi jika itu sudah di medan perang. " sahut Gong Sheng yang tetap ngotot untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Sinar mentari yang sudah mulai terik, sungguh tak menyurutkan semangat dari penduduk dan juga para prajurit. Gong Sheng pun masih tetap semangat menggali tanah itu meski peluh membasahi seluruh tubuhnya. Beberapa kali nampak keringat jatuh ke tanah, karena Gong Sheng benar-benar kepanasan.
Seorang ibu-ibu datang dan memanggil semua orang untuk menikmati makan siang bersama. Seluruh orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, nampak mulai meletakkan alat tempur mereka dan berjalan mendekat ke sebuah tempat di bawah pohon besar yang rindang. Di sana sudah ada beberapa makanan yang tersaji.
" Yang Mulia, maafkan kami yang hanya bisa menyediakan makanan seadanya. Sungguh kami merasa tidak memiliki hormat pada anda. " ujar ibu-ibu itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Gong Sheng yang ada di depannya.
" Nyonya, semua makanan itu jika dimasak dengan tulus akan mengalahkan semua masakan yang paling lezat sekali pun. Lagi pula saya bukan seorang pemilih dalam hal makanan. " ujar Gong Sheng tak ingin penduduk desa ini terlalu sungkan padanya.
" Tuan kemarilah, masakan ini benar-benar sedap dengan cita rasa yang berbeda dengan masakan yang ada di ibukota. " teriak Mingye. Salah satu ketua tim pasukan Ri Yue yang dipimpin oleh Gong Sheng ini terkenal sangat peka dengan sekitar. Dia tahu bahwa para penduduk desa ini merasa tak enak hati karena menyiapkan makanan yang jauh dari kata pantas untuk seorang pangeran seperti pangeran ke 5.
Gong Sheng berjalan mendekati Mingye, duduk di samping rekan juangnya itu. Gong Sheng mengambil alat makan dan juga mangkok, Mingye mengambilkan lauk dan juga sayur untuk Gong Sheng. Setelah mencicipi masakan tersebut, senyum Gong Sheng merekah. Ini adalah masakan tersedap yang pernah dia makan.
" Terima kasih nyonya, ini sangat sedap. Makanan paling sedap yang pernah saya nikmati. " puji Gong Sheng.
Mendengar ucapan Gong Sheng, para ibu-ibu yang memasak semua hidangan makan siang ini bertepuk tangan. Ada kebanggaan tersendiri saat dipuji oleh pangeran ke 5 dari Xili. Para ibu-ibu ini jadi semakin bersemangat untuk memasakkan hidangan lezat nanti malam.
Gong Sheng dengan lahap memakan hidangan makan siang ini bersama seluruh pasukan dan juga penduduk desa. Tak ada rasa jijik ataupun tinggi hati saat berkumpul dengan orang-orang yang jelas berada di bawahnya sangat jauh.