The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 53



Shihan begitu terkejut saat mendengar dari salah satu penjaga bahwa ada penyusup dan nyonya kediaman ini ikut mengahadapi para penyusup. Segera saja dengan langkah seribu Shihab menuju ke halaman samping paviliun utama, tempat para penyusup sedang adu kekuatan dengan para penjaga kediaman pangeran ke 5.


Di tengah jalan, Shihan berpapasan dengan Yi Ye. Tapi keduanya hanya saling melirik dan langsung bergegas ke tempat yang dimaksud oleh penjaga yang melapor pada mereka tadi. Dan benar saja, Feng Ai sedang menghadapi setidaknya sepuluh penyusup. Shihan hampir saja terkena serangan jantung saat melihat seorang penyusup hampir meninju perut sari Feng Ai. Beruntung Muzi segera datang dan menghadang tinjuan dari penyusup itu Tanpa banyak bicara Muzi langsung menghajar orang-orang yang telah berani hampir mencelakai tuannya.


" Yang mulia apa anda baik-baik saja? " tanya Shihan menghampiri Feng Ai yang sudah menepi.


" Aku baik-baik saja. Kau bantu orang itu ya. " pinta Feng Ai yang masih ngos-ngosan.


" Anda lebih baik masuk ke dalam nyonya, biar masalah ini kami selesaikan. " ujar Yi Ye. Dia juga sempat terkena serangan jantung saat melihat seseorang dari penyusup itu menghampiri Feng Ai dengan tinju yang terkepal.


" Paman tolong berhati-hati lah. " segera setelahnya Feng Ai ditemani Hui Li masuk ke dalam paviliun. Entah sejak kapan Hui Li di sampingnya Feng Ai sungguh tidak tahu.


Pertempuran di samping paviliun utama kediaman pangeran ke 5 ini berlangsung sangat sengit. Mereka saling balas meninju, menendang dan juga mengayunkan senjata mereka untuk melukai lawan. Beruntung saja ketiga pria dari pihak pangeran ke 5 bisa kompak sehingga mereka bisa mengalahkan sepuluh penyusup itu dengan sangat mudah. Terakhir mereka dengan sengaja membiarkan seorang dari antara sepuluh penyusup itu hidup. Sepertinya orang itu adalah ketua dari kumpulan penyusup tersebut. Dengan ini mereka bisa mengintrogasi orang tersebut agar bisa mengetahui dalang dibalik ini semuanya.


" Kalian baik-baik saja kan? " tanya Feng Ai ketika melihat tiga pria yang tadi bertarung masuk ke dalam rumah.


" Kami baik-baik saja nyonya. " Yi Ye mewakili mereka bertiga untuk menjawab.


" Syukurlah... Tapi apa maksud ini semua? " gumam Feng Ai. Namun karena mereka bertiga memiliki indra pendengar yang tajam, jadi mereka bisa mendengar gumaman nyonya mereka.


" Saya rasa anda adalah tujuan mereka nyonya, karena itulah pangeran ke 5 meminta saya dan Shihan menjaga anda. Perkenalkan saya Muzi. " ujar Muzi menjawab pertanyaan dari Feng Ai sekaligus memperkenalkan diri.


" Kau juga menjadi pengawal ku? " tanya Feng Ai tidak percaya. Bagaimana bisa suaminya itu memerintahkan dua orang untuk menjaganya, ini sungguh tidak biasa bagi Feng Ai.


" Saya bertugas sebagai pengawal bayangan anda yang mulia. Jadi anda tidak perlu khawatir karena orang hanya akan mengetahui bahwa pengawal anda adalah Shihan. " ujar Muzi menjawab kekhawatiran dari Feng Ai.


" Baiklah, Terima kasih. " ujar Feng Ai. Dia bergegas kembali ke kamarnya ditemani oleh Hui Li. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali, padahal dia sama sekali tidak melakukan kegiatan berat.


Yi Ye berinisiatif memanggilkan tabib untuk memeriksa kondisi dari nyonya nya. Yi Ye merasa khawatir karena nyonya nya tadi sempat ikut bertarung. Rasanya Yi Ye tidak enak hati melihat nyonya nya saat ini.


Tak ingin berlama-lama, Gong Sheng langsung menunggangi kudanya pulang ke kediamannya. Dia sungguh mengkhawatirkan kondisi sangat istri, meskipun ada banyak orang yang menjaganya, tapi tadi Gong Sheng sempat mendengar istrinya ikut bertarung.


Sesampainya di kediaman miliknya, dapat Gong Sheng kediaman miliknya ini terlihat sangat sepi. Mungkin orang-orang yang ada di dalam cukup terkejut dengan peristiwa ni sehingga memilih melakukan kegiatan di dalam saja. gong Sheng segera memasukkan kudanya ke kandang dan langsung masuk ke paviliun utama untuk melihat bagaimana keadaan sang istri.


Ketika Gon Sheng hendak memasuki kamarnya, dia berpapasan dengan tabib keluarga yang hendak kelar dari kamar miliknya.


" Apa yang membawa anda kemari?" tanya Gong Sheng mulai khawatir.


" Kepala pelayan tadi mengatakan pada ku bahwa tuan putri baru saja melakukan kegiatan yanng berat sehingga mengeluh perutnya kram. Namun sekarang......" belum selesai tabib menjelaskan, Gong Sheng sudah ebih dulu masuk ke kamarnya untuk melihat keadaan sang istri. Tabib hanya geleng kepala saja melihat tingkah dari tuannya itu.


" Apa Ai baik-baik saja?" tanya Gong Sheng pada siapa saja yang mau menjawabnya. Karena di kamar itu ada Shihan, Hui Lli dan Yi Ye.


" Nyonya sudah baik-baik saja tuan. Sekarang beliau tertidur setelah meminum obat dari tabib." jawab Yi Ye.


" Shihan kau keluar. Temui Muzi dan katakan aku ingin bicara dengan kalian." titah Gong Sheng sangat dingin. Wajahnya juga terlihat datar tanpa ekspresi, tapi Shihan tahu bahwa tuannya ini sedang menahan emosinya agar tidak meledak di sini.


" Baik tuan." Shihan langsung undur diri untuk menemui Muzi yang ada di ruang tahanan yang ada di bawah tanah kediaman pangeran ke 5.


Sepeninggal dari Shihan, Hui Li dan Yi Ye juga ikut undur diri. Mereka ingin memberi ruang bai tuan mereka untuk melihat kondisi dari sang nyonya dengan dekat. Gong Sheng langsung mendekat ke ranjang, mengecup puncak kepala sang istri kemudian membelai pipi milik istrinya yang sekarang ini nampak lebih berisi ari yang dulu.


" Maaf Ai. Kau harus mengalami ini semua karena aku. Maaf aku terlalu egois sehingga tidak ingin melepaskan mu hingga terjebak dalam lingkaran dendam dari keluarga istana." gumam Gong Sheng penuh sesal.


Lama Gong Sheng terdiam memandang wajah cantik yang selama ini selalu menghantuinya. Sejak pertama kali bertemu Lima belas tahun yang lalu. Gong Sheng yang saat itu berusia dua belas tahun, dibawa masuk ke kediaman Jendral besar Feng Ying. Menurut titah kaisar saat itu, pangeran ke 5 diwajibkan mengikuti pelatihan yang sudah disiapkan oleh Feng Ying. Dan saat pertama kali Gong Sheng datang ke rumah keluarga Feng, sat itulah dia bertemu Feng Ai dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada putri sah jendral besar Feng Ying.


Senyumnya, kecantikannya, kelembutan hatinya, kebaikan yang ada di dalam hatinya dan masih banyak lagi sifat-sifat dari Feng Ai yang berhasil membuat Gong Sheng panas dingin setelahnya. Sejak pertama kali bertemu itulah, Gong Sheng mulai mendekati Feng Ai yang saat itu masih berusia delapan tahun. Kedekatan yang semakin hari semakin intens diantara keduanya membuat mereka saling mencintai dalam diam, namun jelas pasangan mereka tahu perasaan hati mereka. Saat itulah Gong Sheng berjanji akan mencintai Feng Ai hingga akhir hanyatnya