The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 80



Pasukan milik pangeran ke 4 dan putra mahkota sudah sampai di benteng Dormun. Entah mereka akan mulai menyerang kapan, karena dari tempat mereka berada sekarang mereka bisa menyerang kapan pun mereka mau. Pasukan Gong Sheng harus waspada dengan kejutan yang akan diberikan lawan pada mereka.


Belum ada informasi terbaru dari mata-mata yang dia selundupkan di kelompok putra mahkota. Rasanya sekarang ini mereka sedang berjalan di jalan yang gelap tanpa adanya cahaya maupun keberadaan orang lain untuk membantunya. Selain siaga, tidak ada lagi yang bisa Gong Sheng dan pasukannya lakukan.


Belum adanya kabar dari pamannya yang sekarang ini tengah menuju ke Goryeo, jadi sudah bisa dipastikan bahwa pamannya belum bisa menemui Kaisar Goryeo. Ini sedikit memberatkan kelompok Gong Sheng karena bagaimana pun mereka membutuhkan bantuan itu untuk menyeimbangkan kekuatan mereka.


" Masih belum ada kabar dari Goryeo?" tanya Gong Sheng pada Muzi.


" Belum jendral.." jawab Muzi sedikit lemah.


" Berarti kita akan menghadapi mereka dengan semua yang kita miliki saat ini. Persiapkan semuanya, mereka pasti menyerang malam ini jika tidak besok." titah Gong Sheng.


" Baik Jendral." Muzi bergegas melakukan titah dari tuannya, menyiapkan mental pasukannya agar bisa mengantisipasi serangan dadakan di malam hari.


Gong Sheng masih merenung di tempatnya berdiri saat ini. Menatap pemandangan alam yang begitu indah, tanah yang lapang, kebun penduduk yang tumbuh dengan subur, air sungai yang jernih, namun sayangnya sebentar lagi itu semua akan hancur karena peperangan. Ada sedikit ketidak ikhlasan dalam dirinya, namun tidak ada pilihan lain selain berperang.


" Angin semakin kencang, ini tidak baik untuk kesehatan anda. mari kita turun ke bawah..."ajak feng Ai.


" Ai.." panggilan Gong Sheng menghentikan niatnya untuk melangkah.


" Apa kau menyesal telah memilihku dalam hidup mu?" tanya Gong Sheng.


" Kenapa saya harus menyesal? ( hidup di dunia yang tidak saya ketahui saja saya ikhlas, lalu kenapa saya menyesal) " lanjutnya dalam hati.


" Aku mungkin tidak akan bisa membawa kebahagiaan untuk mu setelah ini.."


" Berada di samping anda adalah kebahagiaan yang luar biasa. Saya bahagia karena ada anda di samping saya.."


Gong Sheng menatap wajah sang istri yang terlihat tersenyum padanya denan begitu tulus. Ketulusan yang dimiliki oleh Feng Ai lah yang berhasil memikat hati Gong Sheng hingga dia jatuh cinta pada wanita yang ada di hadapannya ini.


" Kau tahu dirimu yang tulus dan selalu melakukan apa pun yang menurut mu benar. Belum lagi kau yang marah setiap orang kecil disiksa, itulah yang membuatku jatuh cinta pada pesona mu, Ai. " ujar Gong Sheng jujur. Hal ini belum pernah dia ucapkan pada siapapun termasuk Feng Ai. Entah dia memiliki firasat apa, tapi dia ingin istrinya tahu semuanya yang selama ini dia hanya peruntukan untuk dirinya sendiri.


" Suami ku.... Apapun yang terjadi kami akan selalu bersama dengan anda.. " Feng Ai berujar dengan tersenyum dan kedua tangannya mengusap perutnya yang sudah besar karena berusia lima bulan.


" Terima kasih Ai, dan Terima kasih anaknya ayah.. "


" Tetaplah bersama dengan kami.. " gumamnya pelan.


Di benteng Dormun, terlihat pangeran ke 4 bersama dengan putra mahkota sedang merencanakan penyerangan mereka. Dimana waktunya akan mereka putuskan setelah rencana mereka sempurna. Meski hanya seperempat pasukan Ri Yue yang Gong Sheng bawa, tapi itu cukup jika harus ditandingkan dengan pasukan gabungan keduanya. Daya tahan dan daya serang pasukan Ri Yue adalah yang terbaik sepanjang seratus tahun belakang ini. Bersama dengan Gong Sheng sebagai jendralnya, mereka berkali-kali lipat lebih hebat.


" Lebih baik kita menyerang dari arah depan dan belakang.. " usul jendral pasukan pangeran ke 4.


" Ck.. Kau bodoh atau apa? Di belakang mereka adalah perbukitan, dan kita tidak terbiasa berperang di medan seperti itu hanya akan menyetorkan nyawa kita pada mereka.. " protes jendral pasukan putra mahkota yang tidak setuju dengan usul temannya itu karena dianggap sama saja dengan bunuh diri.


" Lalu harus bagaimana? Kau itu tidak bisa menghasilkan ide jangan menghina ide orang lain. " protes jendral pangeran ke 4.


" Kalian ini tidak bisa ya akur barang sehari saja


Setiap kali ada hal seperti ini kalian jadi yang pertama berdebat... " lerai pangeran ke 4 yang sebenarnya jengah dengan kedua jendral di timnya itu.


" Kita serang saja dari samping. Mereka akan lengah di samping karena percaya kita tidak akan menyerang bagian belakang dan samping. Pasukan mereka akan berpusat di depan, maka menguntungkan kita bisa masuk ke dalam desa itu... " usul putra mahkota.


" Tapi bukan berarti menyerang di sana tidak ada penjagaan nya kan? Kita harus benar-benar memperhitungkan langkah mereka. Ri Yue dengan atau tanpa adik kelima, tetap pasukan terbaik Xili. " ujar pangeran ke 4 sedikit ragu.


" Karenanya kita umpan kan pasukan satu untuk. menyerang depan, setelah pasukan lawan lengah kita akan masuk dari samping kanan dan kiri.. " ujar putra mahkota penuh keyakinan.


" Jika itu sudah kau putuskan, kami akan ikut. Tapi kapan tepatnya kita akan menyerang mereka? " ujar. Gong Xin tidak sabar.


" Kita tunggu mereka lengah.. ". jawab Gong Lie.


" Baik.. Aku persiapkan dulu pasukan kita, kak.. " Gong Xin langsung pergi dari ruangan mereka melakukan pertemuan. Dia menuju ke barak tempat dimana pasukannya dan pasukan kakaknya berada. Dia harus mempersiapkan semuanya agar tujuan mereka kali ini membuahkan hasil. Dalam hari Gong Xin tidak sabar untuk bisa memiliki Feng Ai seutuhnya, karena itu yang dijanjikan oleh putra mahkota padanya.


Malam telah tiba, baik di benteng Dormun maupun desa tempat pasukan Gong Sheng berada, Sama-sama tenang seolah tidak akan ada yang terjadi. Padahal dalam hitungan jam saja mungkin akan terjadi perang besar di salah satu dari tempat itu. Semuanya malam ini seakan ingin menikmati hari-hari damai mereka, sebelum kemelut akan membuat kedamaian mereka hilang.


Berada di bawah langit yang sama, memiliki ayah yang sama bahkan salah satu dari mereka haus akan kasih sayang ayah mereka. Namun justru itu yang membuat mereka saling bermusuhan


Ego mereka menguasai, merasa tidak ada yang salah dengan keputusan mereka untuk bertarung. Andai saja salah satunya tahu bahwa ada dari mereka berdua yang tidak menginginkan tahta, bisakah pertempuran ini terhindarkan. Atau justru semakin memperparah.. Hal ini belum ada yang mampu memprediksinya..