The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 46



Ketika hari sudah malam, pangeran ke 5 barulah tiba di rumahnya. Dari penyelidikan yang dia lakukan tadi, sungguh tidak ada yang berarti dan malah membuat kepalanya sakit karena keterangan dari pelakunya sangat tidak masuk akal. Mau percaya, bukti mengarah pada orang itu, tidak percaya, tapi pelaku begitu yakin dengan setiap ucapannya, seperti tidak ada kebohongan di setiap kata-katanya.


Begitu sampai di depan paviliun utama, dari kejauhan dia melihat istrinya tengah berjalan-jalan bersama dengan pelayan pribadinya. Gong Sheng tersenyum melihat sangat istri dan langsung menghampirinya. Pangeran ke 5 langsung memeluk tubuh dari istrinya itu. Menghirup rakus aroma tubuh dari Feng Ai, yang bagi Gong Sheng seperti nikotin yang membuatnya sangat candu.


Feng Ai senang-senang saja mendapatkan pelukan dari sang suami. Dia pun membalas pelukan dari suaminya itu dengan semakin mengeratkan kedua tangannya yang kini bertengger di pinggang pangeran ke 5.


" Apa Ai sedang menunggu ku?"tanya Gong Sheng masih memeluk tubuh istrinya yang candu itu.


" Iya. Saya menunggu anda sambil berjalan-jalan merasakan hembusan angin yang menyegarkan." jawab Feng Ai.


" Kalau begitu bagaimana jika kita masuk saja ke dalam. Aku tidak ingin kamu sakit karena terlalu lama berada di luar." ajak Gong Sheng. Dia merangkul pundak sang istri dan membawanya ke dalam kediamannya.


Feng aii mengantarkan suaminya untuk membersihkan dirinya. Dia membawakan pakaian baru untu suaminya, agar suaminya bisa mengganti pakaiannya. Berdiri di depan bilik yang digunakan untuk mandi, stelah beberapa menit Gong Sheng keluar dengan tubuh yang setengah basah. Sungguh menggoda iman dari Feng Ai agar tidak menubruk suaminya itu.


Kini keduanya sedang berbaring di ranjang membicarakan kegiatan mereka seharian ini. Gong Sheng begitu semangat mendengarkan apa yang diceritakan oleh sang istri. Kegiatan yan menurut Gong Sheng begitu menyenangkan, karena kegiatannya hanya melihat dan mengawasi pasukannya berlatih. Hingga Gong Sheng mendengarkan sebuah informasi yang janggal dari sang istri.


" Bukankah tadi siang kamu berada di dapar? Apa yang kamu masak tadi siang? maaf aku tiba-tiba ada urusan di kantor pengadilan." tanya Gong Sheng dengan arut wajah kecewa. Kecewa karena tidak bisa merasakan masakan yang dibuat oleh sang istri.


Glek...


Feng Ai menelan ludahnya dengan kesusahan. Pasalnya dia itu sebenarnya tidak memasak, dan tadi siang dia hanya menumpang bersembunyi di dapur. Jadi sekarang ini ketika suaminya bertanya tentang masakannya, dia bingung harus menjawab seperti apa.


" Saya tidak memasak tadi, hanya ingin memperhatikan orang memasak saja." jawab Feng Ai.


" Kenapa kamu melihat orang memasak? Bukankah itu aneh?" tanya Gong Sheng yang memojokkan Feng Ai.


" Saya hanya ingin melihat saja..... ah iya... saya hanya melihat saja." jawab feng Ai cengengesan.


" Kamu itu lucu sekali sih." karena gemas, Gong Sheng mencubit pipi tembam Feng Ai.


" Auw....Ini sagat sakit sekali." protes Feng Ai. Melihat tingkah istrinya ini Gong Sheng tersenyum sendiri. Menurutnya sang istri sangat lucu sekali.


Lelah saling berbincang, akhirnya mereka berdua sama-sama terlelap dalam mimpi mereka. Entah pa yang sedang mereka impikan, tapi itu telah berhasil membuat keduanya sama-sama tersenyum dalam mimpi mereka. Sungguh damai sekali tidur mereka malam ini.


Pagi telah menggantikan malam, langit begitu cerah seolah tengah memberikan semangat bagi semua makhluk yang ada di dunia ini untuk beraktifitas. Di kamar utama kediaman Man Yue, terlihat dia insan saling jatuh cinta itu masih lelap dalam tidur mereka. Padahal matahari semakin meninggi disetiap pergantian jamnya. Namun sungguh tidak mengusik tidur dari mereka berdua.


Beberapa pelayan sudah beberapa kali mondar mandir di depan kamar tuan dan nyonya mereka. Tapi masih saja kamar itu tertutup dan hening. Para pelayan itu ingin membangunkan namun tidak berani karena takut menganggu tidur dari tuan dan nyonya mereka.


Feng Ai terbangun karena dia merasa sesuatu yang anak pada perutnya. Dia langsung berlari ke bilik mandi untuk menetralisir mualnya. Gong Sheng langsung terbangun begitu Feng Ai turun dari ranjang dengan cara kasar. Dia pun mengikuti kemana istrinya itu pergi.


" Ai, apa kau baik-baik saja? " tanya Gong Sheng mendekat.


" Hm.... Hoek... hoek... "


" Ayo aku antar ke ranjang. " Gong Sheng langsung mengangkat tubuh Feng Ai menuju ke ranjang mereka. Dia membaringkan sangat istri di ranjang kemudian dia berpamitan keluar sebentar.


" Ada apa dengan ku? Rasanya tidak nyaman sekali. " batin Feng Ai keheranan.


Gong Sheng mengelilingi kediamannya mencari sosok kepala pelayan yang entah dimana siang ini. Dia sampai beberapa kali memutari rumahnya hanya demi mencari kepala pelayan di kediamannya.


" Kalian lihat paman? " tanya Gong Sheng pada pelayan yang berpapasan dengannya.


" Kepala pelayan ada di halaman belakang bersama pengawal Shihan, Tuan. " jawab pelayan itu hormat.


" Terima kasih. " ucap Gong Sheng langsung menuju ke halaman belakang meninggalkan pelayan yang masih membungkuk di depannya tadi.


Kaki jenjang milik pangeran ke 5 melangkah dengan cepat ke halaman belakang rumahnya. Dia heran kenapa kepala pelayan kediamannya bisa berada di halaman belakang sesiang ini. Dalam hati dia sedikit dongkol karena disaat penting begini tapi kepala pelayan yang dia andalkan malah menghilang. Gong Sheng begitu mengkhawatirkan kondisi Feng Ai yang sendirian di kamar mereka.


" Paman, panggil tabib segera. " titah Gong Sheng setengah berteriak karena jaraknya cukup jauh antara dia dan Yi Ye.


" Baik tuan. " segera Yi Ye menyuruh seseorang untuk datang ke tempat tabib yang selama ini mengabdi pada kediaman pangeran ke 5.


" Tuan.... " Shihan memberi hormat.


" Kau perintahkan dapur untuk membuatkan bubur dan juga teh hangat untuk istri ku. " Gong Sheng meminta Shihan untuk ke dapur sedangkan dia langsung berlari ke kamarnya.


Shihan menatap aneh kepergian tuannya yang nampak panik itu. Ria segera saja menuju ke dapur untuk mengatakan apa yang diperintahkan oleh tuannya tadi. Dan karena penasaran yang besar dengan perilaku tuannya yang janggal itu, Shihan pun melangkah kan kakinya ke kamar utama.


Shihan tekejut saat sampai di depan kamar utama, banyak sekali dayang dan pelayan berkumpul di depan kamar tuan dan nyonya mereka.


" Apa kalian tidak ada kerjaan sehingga bisa berkumpul di sini? " Shihan sudah berkacak pinggang menegur para pelayan dan dayang itu.


" Maaf tuan pengawal, kamu disini karena mendengar Nyonya seperti sedang mual. " ujar seorang pelayan.


" Tuan putri mual? " gumam Shihan. Sekarang dia tahu alasan kenapa tuannya seperti sedang dikejar hewan buas saja ketika berlari tadi.


Tak lama Yi Ye datang bersama dengan Tabib Ming dan bergegas masuk ke kamar utama di Kediaman Man Yue ini. Semua yang berada diluar kamar merasakan senam jantung karena menunggu kabar tentang sakit apa yang diderita nyonya kediaman Man Yue ini.