
Pagi cerah bertemankan matahari yang begitu terang menyinari dunia kini tengah menyambut Feng Ai untuk mulai beraktifitas. Rencananya dia kan kembai berlatih agar secepatnya dia menguasai tingkat spiritualis kedua.
Feng Ai bangun dengan semangat membara bahwa dia akan bisa menguasai teknik yang terakhir diajarkan oleh pengawal pribadinya itu. Mulai dengan membersihkan diri dibantu oleh Hui Li. Feng Ai memakai pakaian yang nyaman dia gunakan untuk latihan. Mudah digunakan untuk bergerak dan tidak terlalu sesak agar pernapasannya tidak terganggu saat latihan.
" Nyonya, apa anda tidak lelah setiap hari berlatih ilmu beladiri? Kenapa anda tidak menikmati saja hidup yang sudah diatur oleh pangeran ke 5?" tanya Hui Li yang begitu penasaran dengan perubahan yang terjadi pada nyonyanya.
" Jika aku katakan aku ingin mengubah takdir kejam yang menanti ku dan pangeran ke 5 apa kau akan percaya?" Feng Ai balik bertanya. Dia ingin mendapatkan pendapat dari sudut pandang lainnya.
" Kenapa anda tiba-tiba bertanya seperti itu? Apakah anda sungguh bermimpi buruk pagi tiga hari yang lalu?"
" Bukan hanya mimpi buruk, tapi aku telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat olehku. Sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah terjadi jika saya orang-orang serakah itu sudah binasa." geram Feng Ai.
" Apa yang sebenarnya dilihat oleh nyonya?" Hui Li bertanya dalm hati.
Memakai pakaian yang nyaman untuk berlatih, Feng Ai segera bergegas ke arah ruang makan yang ada di kediaman pangeran ke 5 ini. Feng Ai harus makan yang banyak agar punya tenaga menghadapi latihan pagi ini.
Beberapa menu ada yang Feng Ai ketahui tapi ada beberapa yg tidak dia ketahui. Mungkin saja itu makanan di China jaman dahulu jadi dia tidak tahu. Dengan lahap Feng Ai menghabiskan makanannya pagi ini.
Halaman belakang sudah Shihan ubah menjadi arena latihan untuk Feng Ai. Mulai dari bambu yang dia bentuk seperti orang-orangan sawah untuk teman Feng Ai berltih. Juga ad beberapa senjata yang cocok digunakan oleh Feng Ai.
Feng Ai yang baru datang menatap takjub pada beberapa benda yang Shihan tambahkan di halaman belakang sebagai alat untuknya berlatih. Feng Ai nampak tidak terlalu tertarik pada semua itu,meski dia terlihat cukup takjub tapi tidak ada yang bisa mengalihkannya dari cara menguasai energi dalam yang ada pada tubuhnya.
" Shihan apakah alat-alat ini diperlukan dalam latihan ini?" tanya Feng Ai.
" Ketika anda memasuki tingkat kedua, maka semua alat ini akan dipakai untuk anda melatih menyalurkan energi dalam anda sehingga bisa menjadi sebuah pukulan atau tendangan yang dilakakan dengan tenaga dalam, efeknya akan lebih hebat dibandingkan kita melakukan itu tanpa tenaga dalam." teran Shihan.
" Begitukah? Baiklah kita mulai lagi latihan yang kemarin." ajak Feng Ai.
Shihan mulai mengajak Feng Ai untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Hal ini diperlukan bagi seorang pemula karena dapat membuat pemula itu kewalahan. Energi di dalam tubuh setiap manusia memilki kekuatan besar yang tersimpan di dalam tubuh manusia itu sendiri. Sehingga sebuah pemanasan itu wajib agar tidak terjadi hal-hal yang idak diinginkan.
Feng Ai meregangkan semua otot-otot daam tubuhnya. Menjadi seorang putri mantan jendral perang juga belum tentu harus bisa ilmu beladiri. Apalagi jik keturunan itu adalah seorang perempuan. Setiap orang yang memiliki anak perempuan tidak akan pernah pernah menyuruh anak mereka untuk melakukan hal berbahaya, sama halnya seperti Feng Ying yang menjaga Feng Ai.
" Yang mulia, bisakah and mencoba untuk melakukan apa yang saya contohkan tempo hari?" Shihan mulai ke tahap serius.
Dua hari yang lalu, dia sudah bisa mengeluarkannya meskipun masih sangat tipis sekali, sedangkan hari ini apa yang Feng Ai dapatkan hanyalah sebuah kekecewaan. Dia kembali gagal melakukan hal itu.
Shihan yang mengetahui memang ini adalah ha yang paling sulit ketika seorang spiritualis mulai menginjak tingkatan kedua. Apalagi yang seperti Feng Ai ini yang sama sekali tidak memiliki dasar dari sebuah ilmu beladiri.
" Mari yang mulia, kita lakukan secara bersamaan. Fokus untuk melihat teknik yang akan saya gunakan." ujar Shihan yang langsung membuat kuda-kuda utuk dia mengeluarkan energi dalam tubuhnya.
Pelan tapi pasti, energi dalam milik Shihan mulai muncul membentuk sebuah perisai yang melindungi tubuh Shihan. Deng pun kembali mengikuti seperti apa yang Shihan lakukan barusan. Percobaan pertamanya masih gagal. Tapi dia sama sekali tak patah semangat, dia kembali mencobanya.
Shihan melihat kesungguhan dalam diri Feng Ai pun merasa bangga karena tuannya ini memiliki sifat yang tidak jauh beda dari pangeran ke 5. Berpendirian teguh dan juga memiliki tekad yang membara. Hal inilah yang mengantarkan Gong Sheng ke puncak tertinggi dalam kehidupannya.
" Berusahalah yang mulia, saya melihat anda seperti saya dulu melihat yang mulia pangeran ke 5 berlatih. Beliau juga memiliki tekad yang besar sama seperti Anda. " ujar Shihan memberi semangat.
Tak mengeluarkan sepatah kata pun, Feng Ai hanya mulai melakukan kembali hal yang sama agar semakin dekat dia dengan keberhasilan. Feng Ao berkonsentrasi penuh berusaha untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Sesuatu yang dirasa Feng Ai adalah mimpi buruk nya selama ini
Nampak muncul sedikit demi sedikit pancaran aura tenaga dalam milik Feng Ai. Berwarna jernih seperti air dan mengalir lembut seperti air yang mengalir. Sedikit demi sedikit, aliran aura tenaga dalam itu semakin interns hingga menyerupai air yang mengalir dari sebuah air terjun. Bergejolak membuat sebuah perisai bagi pemilikinya.
" Selamat yang mulia, anda telah berhasil menguasai tenaga dalam Anda. Selamat datang di spiritualis tingkat dua. " Shihan memberikan apresiasi tinggi pada Feng Ai.
" Lihatlah Shihan... Ini terlihat sangat keren, benar-benar terlihat sangat indah. " sorak sorai Feng Ai kalau melihat aura dari tenaga dalamnya keluar membentuk sebuah perisai.
" Anda benar-benar mirip dengan tuan pangeran ke 5 yang mulia. Beliau juga seperti Anda saat dulu tuan Feng mengajari kami ilmu beladiri. Saya la sekali tak melihat tuan pangeran ke 5 bisa tertawa lepas seperti saat itu. " gumam Shihan.
" Lalu sudah sampai tingkat keberapa suamiku? "
" Pangeran ke 5 sudah mencapai tingkat sembilan yang mulia. Beliau sudah bisa bersatu dengan kemampuannya. Beliau juga sudah mendapatkan tingkat kedua jenis spiritualis nya. "
" Wah keren sekali. Lalu kau? "
" Saya tingkat ketujuh yang mulia. Setidaknya saya bisa bertarung untuk dapat melindungi tuan pangeran ke. 5."
Feng Ai merasa sangat senang karena telah bisa melakukan apa yang dia capai hari ini. Dia semakin optimis bisa mencapai tingkat yang terbaik sebelum peristiwa itu terjadi. Harapan Feng Ai hanya satu, semoga dia tidak akan terlambat saat ini.