
Kepulangan pangeran ke 5 membawa angin segar bagi seluruh penghuni kediaman Man Yue. Bahkan nyonya di kediaman ini sama sekali tidak membiarkan tuan di kediaman ini meninggalkannya barang sebentar saja. Semua pekerja yang ada di kediaman ini sampai menggelengkan kepala mereka melihat sikap nyonya mereka.
Dengan Feng Ai yang mengikuti kemana pun dia pergi, Gong Sheng sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap istrinya itu. Dirinya malah senang karena merasa bahwa istrinya ini begitu mencintainya sampai tidak ingin berpisah.
Hari ini rencananya Feng Ai akan mengajak suaminya untuk berkebun di taman anggrek. Feng Ai tidak mengajak melakukan kegiatan yang melelahkan seperti berjalan-jalan di ibukota, karena suaminya ini pastilah sangat lelah dengan perjalanan yang dia lewati selama beberapa hari ini.
Setelah melakukan makan pagi bersama, Feng Ai meminta tolong pada Yi Ye untuk menyiapkan peralatan yang dipakai untuk berkebun. Feng Ai juga meminta tolong untuk disediakan air di taman anggrek untuk menyiram tanaman itu. Rutinitas seperti inilah yang selalu dilakukan Feng Ai dipagi hari. Merawat apa yang sudah ditanam oleh suaminya dengan susah payah. Dan terbukti perawatan Feng Ai sangat baik sehingga banyak tanaman anggrek yang berbunga dengan berbagai macam warnanya.
" Taman ini jadi sangat indah sekali sekarang ini." puji Gong Sheng.
" Terima kasih. Aku mencurahkan segala waktu ku untuk merawat mereka. Sudah sewajarnya mereka berbunga untuk membalas usaha ku merawat mereka." ujar Feng Ai membusungkan dadanya berbangga diri.
" Tentu saja, kau yang terbaik." Gong Sheng mengusap puncak kepala istrinya. Feng Ai hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan romantis dari suaminya ini.
Keduanya mulai melakukan kegiatan perawatan pada tanaman anggrek yang ada di taman itu. Mereka berdua membagi tugas untuk melakukan perawatan ini. Ada yang memupuk, memotong tangkai yang sudah membusuk, membersihkan daun yang sudah berubah berwarna kuning, dan menyirami semua tanaman anggrek di taman itu.
Sesekali Gong Sheng menggoda istrinya dengan mengotori wajah Feng Ai dengan menggunakan tanah. Feng Ai tentu tidak tinggal diam, Feng Ai pun membalas perbuatan suaminya itu. Suasana di taman itu menjadi sangat hidup karena diisi tawa riang dari keduanya.
Yi Ye datang dengan wajah paniknya menghampiri keuda tuannya itu. Sebelum menemui tuannya, Yi Ye nampak menghentikan langkahnya di depan pintu menuju ke taman anggrek. Yi Ye bingung harus mengatakan dengan cara apa agar tuannya itu tidak bersedih. Setelah lama mondar mandir tidak jelas di pintu menuju ke taman, Yi Ye pun memantapkan hatinya untuk memberikan kabar ini pada nyonya dan tuannya.
" Tuan, nyonya.." Yi Ye membungkukkan badannya memberi hormat. Yi ye membeku ditempat kala menatap wajah bahagia dari nyonya nya. Rasanya tenggorokannya tercekat untuk mengatakan kabar yang dirasa pasti akan membuat wajah penuh kebahagiaan itu akan menghilang.
" Ada apa paman?" tanya Gong Sheng.
" Tuan itu.... itu..... saya akan menyampaikan sesuatu." ujar Yi Ye tergagap. Bingung memilih kata yang dirasa tidak akan terlalu menyakiti tuannya ini.
" Paman?" Feng Ai bersuara karena kepala pelayan di kediaman ini masih diam saja.
Gong Sheng bergegas mengejar sang istri. Bila dibiarkan sendiri, Gong Sheng takut istrinya ini akan berbuat nekat. Bagi seorang anak, kehilangan seorang ibu sama dengan kehilangan separuh dunianya. Gong Sheng yang menemukan sang istri nampak kebingungan segera memeluknya. Tubuh Feng Ai bergetar begitu hebat dalam dekapan suaminya. Hatinya begitu sakit saat ini, ibunya, setengah dari dirinya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Gong Sheng memeluk tubuh rapuh Feng Ai dengan erat.Ingin memberikan kekuatan pada wanitanya ini melalui pelukanya yang erat ini. Berharap, sang istri bisa segera tenang dalam pelukannya, maka diusapnya punggung yang nampak sangat rapuh itu.
" Sayang, kamu harus kuat. Aku akan selalu bersama mu, jadi tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak. Tabah dan ikhlaskan ibunda untuk berpulang ke dalam pelukan yang Maha Kuasa. Dewa akan selalu melindungi ibunda di alam sana." ujar Gong Sheng menguatkan sang istri.
" Ibunda...hiks...hiks...ibunda sudah ....sudah meninggalkan ku...hiks...hiks..." tangisan feng Ai pasti akan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Gong Sheng dapat merasakan betapa hancurnya sang istri saat ini.
" Tabah yang sayang, yakin ini yang terbaik." Gong Sheng masih terus membisikkan kalimat-kalimat yang bisa menguatkan Feng Ai.
Keduanya telah selesai bersiap, dan segera saja mereka menuju ke kediaman Feng dengan kereta kuda yang juga membawa Shihan dan Yi Ye. Ayah Feng Ai, dulunya adalah teman seperjuangan Yi Ye saat masih sama-sama menjadi prajurit. Karena itu Yi Ye merasa harus menengok teman seperjuangannya ini untuk menguatkan.
Bagi seorang Feng Ying, ibunda dari putri kesayangan itu adalah satu-satunya istrinya. Meski dia memiliki selir, tapi hubungan keduanya sangat tidak baik. Feng Ying dijebak oleh istri keduanya ini hingga berakhir menikah, dan lahirlah Feng Jiao, saudara tiri Feng Ai.
Jika bukan karena desakan dari ibunda Feng Ai, maka sudah bisa dipastikan Feng Ying tidak akan pernah menikahi Li Wei. Wanita yang penuh tipu muslihat dan juga wanita yang sudah tidak suci lagi karena dulunya adalah seorang wanita malam.
Kereta kuda yang membawa Feng Ai dan juga pangeran ke 5telah berhenti tepat di depan kediaman Feng. Dari luar, sudah nampak banyak sekali orang yang datang mengucapkan salam terakhir kali pada nyonya kediaman Feng itu.
Feng Ai langsung berlari masuk ke rumah utama untuk segera bisa melihat sang ibunda. Pati besar berada tepat di tengah aula, dengan banyaknya orang yang mengenakan pakaian putih untuk berkabung. Feng Ai berjalan gontai mendekati peti mati yang berisikan tubuh sang ibunda yang sudah terbujur kaku. Feng Ai langsung menangis sejadinya untuk meluapkan kesedihannya. Gong Sheng mendekat, dan langsung memeluk tubuh istrinya itu.
Feng Ying menghampiri anak perempuan yang dia kasihi itu. Buah cintanya dengan wanita bernama Jia Li. Wanita yang telah menemaninya selama dua puluh tahun lebih. Wanita yang dengan segala kebesaran hatinya telah merawat suami dan anaknya dengan sangat baik.
Feng Ying memeluk tubuh sang putri yang dia kasihi itu dengan erat. Saling berbagi kekuatan dan juga ketabahan demi bisa melepas jasad nyonya besar kediaman Feng ini untuk dikebumikan. Feng Ying ikut menangis mendengar tangisan pilu anak perempuannya itu.
" Ibunda mu sudah bahagia karena telah mempercayakan mu pada yang mulia pangeran ke 5. Ibunda yakin, yang mulia akan menggantikan kami menjaga mu dengan sangat baik dan tanggung jawab."