
Gong Sheng mengajak Feng menuju ke aula utama di kediaman Feng ini untuk bisa menyambut perwakilan dari istana. Ini kesempatan yang baik untuk melihat bagaimana reaksi dari seseorang yang Gong Sheng curigai sebagai dalang dibalik penyerangannya saat menjalankan misi beberapa waktu yang lalu.
Feng Ai sendiri juga ingin melihat apa yang akan putra dan putri mahkota lakukan di kediamannya, juga maksud dari pangeran ke 4 datang ikut menjadi perwakilan dari istana. Feng Ai ingat betul bagaimana Gong Xin memperlakukan Feng Ai dalam cerita yang sebenarnya, yang pernah dibaca Qiaofeng.
Feng Ai berasa ingin mencakar wajah pangeran ke 4 yang dengan senyum mesumnya menatap tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Feng Ai pura-pura tidak melihat dan berjalan menyambut putra dan putri mahkota.
Ngomong-ngomong, Feng Ai juga sebal dan kesal melihat wajah dari Ming Yue, jika mengingat bahwa wanita ini masih mengincar posisinya sebagai nyonya di kediaman pangeran ke 5. Feng Ai ingat sepulang dari jamuan makan malam dari ibu suri agung, putri mahkota ini telah menyewa beberapa preman untuk menghadang kereta kuda yang ditumpangi Feng Ai. Beruntung Feng Ai sudah tahu strategi itu, hingga akhirnya memilih jalan yang memutar untuk sampai ke kediaman pangeran ke 5.
Ingin rasanya Feng Ai membalas perbuatan dari putri mahkota, tapi mengingat hari ini adalah hari berkabung, dia mengurungkan niatnya.
" Selamat datang yang mulia putra mahkota." sapa Gong Sheng menunduk.
" Hei, kau itu adik ku, dan kita berada di luar istana. Jadi jangan terlalu formal, panggil aku kakak pertama." ujar Gong Lie ramah.
" Itu benar adik ke 5, panggil kami kakak saja." pangeran ke 4 menambahkan.
" Ah.... baik kalau begitu. Mari silahkan masuk kakak sekalian." ujar Gong Sheng kikuk.
Feng Ai membaca gerak-gerik dari suaminya itu, dia bisa menyimpulkan bahwa suaminya itu tengah merencanakan sesuatu dengan segala keramahtamahannya. Meski tidak tahu rencana apa yang sedang dibuat oleh suaminya, tapi Feng Ai berencana ingin membantu.
" Terima kasih atas kedatangan anda sekalian untuk berbelasungkawa pada ibunda saya." Feng Ai berucap sopan.
" Jangan sungkan begitu adik ipar, kami sebagai keluarga dari perdana menteri kanan, sudah harus dipastikan agar ikut berbelasungkawa. Kita kelurga bukan?" Gong Lie berujar dengan sangat lembut sekali. Sesuatu yang tidak pernah putri mahkota lihat selama mereka menikah.
" Cih.... Mungkinkah dia berniat merayu putra mahkota?' batin Ming Yue bertanya.
" Terima kasih yang mulia putri mahkota." ujar Feng Ai.
" Panggil saja aku Yue'r, bukankah usia kita seumuran." putri mahkota bersikap sok baik.
" Baiklah, anda bisa memanggil saya Ai."
Setelah segala drama ramah tamah berakhir, rombongan dari istana langsung dijamu oleh keluarga Feng. Sekedar minum teh dan juga menikmati hidangan yang disiapkan oleh orang-orang di kediaman perdana menteri kanan ini.
Putra mahkota tiba-tiba saja meminta untuk sekedar berkeliling kediaman Feng. Dia beralasan bahwa sudah lama sekali tidak bermain di sini, sehingga mungkin saja sudah banyak yang berubah. Feng Ai dan Gong Sheng sebagai tuan rumah pun mengantarkan perwakilan dari istana ini untuk berkeliling. Kebetulan ada kebun bunga yang dirawat oleh mendiang ibunda Feng Ai di bagian samping kanan rumah utama.
Mereka semua duduk di kursi taman yang menghadap langsung ke taman bunga yang dirawat langsung oleh nyonya di kediaman ini. Saling berbincang hal-hal yang bersifat basa basi hingga Feng Ai menanyakan sesuatu yang sejak tadi ditunggu oleh Gong Sheng.
" Suamiku, aku dengar anda membawa tahanan pulang ke ibukota, apakah tahanan itu adalah ketua perompak yang meresahkan di perbatasan?" tanya Feng Ai. Dalam hati, pangeran ke 5 langsung bersorak.
" Bukan sayang. Tahanan itu adalah ketua dari kelompok yang melakukan penyerangan pada pasukan ku saat kami berangkat menuju ke perbatasan." jawab Gong Sheng. Putra mahkota mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja.
" Jadi ini rencana mu suami ku? Kau ingin memancing ikan besar dengan umpan kecil." batin Feng Ai.
" Benarkah pasukan anda diserang." Feng Ai pura-pura terkejut.
" Tentu saja benar, kenapa aku harus berbohong tentang hal itu. Sengaja aku bawa tahanan itu ke ibukota untuk diadili. Lagipula dia mengatakan bahwa orang yang menyuruhnya adalah seseorang dengan pakaian yang terbuat dari sutra. Setahuku yang memakai pakaian dengan bahan itu adalah bangsawan yang ada di ibukota." terang Gong Sheng. Dengan ekor matanya dia melihat wajah dari putra mahkota yang terlihat sedikit tidak nyaman dengan pembahasan ini.
" Mungkinkah, kau akan masuk ke jebakan ku, kakak ku yang tercinta." batin Gong Sheng menyeringai.
Feng Ai berpamitan ke dapur terlebih dulu, untuk meminta dibuatkan minuman sebagai teman merek bercerita di taman. Ming Yue, tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu, entah dengan maksud apa. Hingga akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju ke dapur yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.
Dalam perjalanan awal menuju ke dapur, Ming Yue sama sekali tidak terlihat mencurigakan. Dia mengikuti Feng Ai dalam diam, dan hanya meminta paa pelayan di dapur untuk membuatkannya teh macha. Tapi saat dalam perjalanan kembali ke taman, Ming Yue langsung menarik tangan Feng Ai menuju ke tempat yang sedikit sepi.
" Yang mulia, apa yang anda sedang coba lakukan?" tanya Feng Ai dengan ekspresi wajah mengejek.
" Diam kau. Tidak usah berbangga diri hanya karena semua pangeran menyukai mu." sarkas Ming Yue.
" Termasuk yang mulia putra mahkota bukan?" ejek Feng Ai yang langsung membungkam mulut putri mahkota ini.
" Yang mulia putri mahkota, saya tahu apa yang anda inginkan dan rencanakan, tapi saya katakan engan tegas bahwa Gong Sheng adalah suami saya, dan rencana anda sudah saya gagalkan sekali, dan seterusnya akan begitu." ujar Feng Ai tang langsung meninggalkan putri mahkota dengan wajah yang dipenuhi keheranan.
Ketika kembali ke taman, baik Feng Ai maupun putri mahkota sama sekali tidak terlihat baru saja terlibat masalah. Keduanya terlihat seperti baru saja saing bercanda, membuat para pria ini tidak curiga sama sekali. Feng Ai memang tidak ingin masalah ini sampai terkuak, masalah tentang keinginan putri mahkota untu mendapatkan pangeran ke 5 dengan menceraikan putra mahkota. Feng Ai tidak ingin dengan alasan ini maka nyawa Gong Sheng akan kembai terancam.
Dengan segala apa yang dimiliki oleh pangeran ke 5 saat ini saja mampu membuat banyak orang iri, termasuk saudara-saudaranya. Apalagi jika semua orang tahu bahwa putri mahkota mengkhianati putra mahkota demi bisa bersama pangeran ke 5. Maka hal ini pasti dimanfaatkan oleh putra mahkota dan pangeran ke 4 untuk menghancurkan Gong Sheng.