The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 52



Beberapa hari sudah berlalu, kini tepat satu bulan setelah Feng Ai mengetahui tentang kehamilannya. Hari-hari yang dia lewati selama beberapa hari ini terasa sangat indah karena ada sang suami di sampingnya. Seperti halnya keinginan wanita lain, yang hamil ditemani dengan suami. Feng Ai kini bisa merasakan itu semua.


Gong Sheng selalu setia berada di samping istrinya ketika sang istri hamil muda. Gong Sheng juga sering sekali membelikan atau melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan sang istri. Biasanya disebut sebuah ngidam, dan bersyukur bahwa ketika Feng Ai merasakan apa yang disebut ngidam sang suami ada di dekatnya.


Selama satu bulan ini memang Gong Sheng hanya datang ke barak untuk melihat dan menemani pasukannya berlatih. Beruntung karena tidak ada misi yang harus dia selesaikan saat ini, sehingga dia bisa menemani sang istri yang sedang hamil muda.


" Jendral besar, " sapa salah satu anggota pasukannya.


" Ya.. " sapa balik dari Gong Sheng.


" Senang melihat anda di sini Jendral. " sapa anggota pasukannya yang lain.


" Kumpulkan semua pasukan di lapangan, aku tunggu lima menit. " titah Gong Sheng pada salah satu anggota pasukannya.


" Baik jendral besar. " segera pria yang diperintahkan oleh Gong Sheng itu membunyikan sebuah alat yang biasa digunakan untuk mengumpulkan seluruh pasukan.


Dan benar saja, lima menit kemudian di lapangan terlihat semua pasukan dari pangeran ke 5 berkumpul dan berbaris rapi. Mereka semua nampak sedang menantikan instruksi dari jendral besar mereka. Semua tenang, tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suaranya.


" Semuanya, hanya akan mengatakan hal ini satu kali, jadi saya harap kalian mendengarkan dengan baik dan melaksanakan sesuai dengan apa yang akan saya katakan." sejenak Gong Sheng menghentikan ucapannya dan menatap semua pasukannya.


" Kalian akan kembali berpatroli di seluruh wilayah ibukota dan desa yang ada di sekitarnya. Silahkan kalian bagi sendiri timnya dan kalian akan berjaga selama dua puluh empat jam. Saya ingin kalian melaporkan apa yang kalian lihat secara berkala tentang apapun itu. Apa kalian mengerti?" taya Gong Sheng diakhir instruksinya.


" Mengerti jendral." serempak semua pasukan Gong Sheng menjawab.


" Baik, kalian boleh bubar." satu per satu anggota pasukan Gong Sheng meninggalkan lapangan dan kembali dalam pelatihan mereka.


Gong Sheng kemudian berjalan menuju ke ruangannya. Rupanya di dalam ruangannya sudah ada seseorang yang menuggu kedatangannya. Orang itu adalah Muzi, orang yang pangeran ke 5 pinta untuk melindungi sang istri dan memperhatikan gerak gerik dari putra mahkota atau pun pendukungnya.


" Tuan ku, saya ingin melaporkan sesuatu." ujar Muzi yang kini tengah berhadapan langsung dengan tuannya.


" Apa itu? Aku harap informasi yang kau berikan akan membantu posisi kita saat ini." tanya Gong Sheng.


" Saya sudah mendapatkan keberadaan markas pasukan rahasia yang dimiliki oleh putra mahkota. Tepatnya berada di hutan yang ada di belakang istana. Hutan itu adalah wilayah dari permaisuri, karenanya tidak ada yang berani mendekat selama ini." lapor Muzi.


" Bagus, kau bekerja dengan sangat baik. Kau tidak pernah mengecewakan ku." puji Gong Sheng, dibalas oleh Muzi yang menunduk memberi hormat.


" Apa ada pergerakkan di sana?" tanya Gong Sheng.


" Baik, laporkan apapun yang menurut mu baik untuk aku dengar. Terima kasih, kau boleh melanjutkan tugas mu.


Muzi undur diri dari hadapan tuannya untuk kembali menjalankan tugasnya, salah satunya adalah menjaga nyonya kediaman pangeran ke 5. Muzi sendiri yang turun tangan menjadi pengawal bayangan dari Feng Ai. Dia sengaja tidak menampakkan wajahnya agar Feng Ai tidak panik karena bertambahnya pengawal untuk dirinya.


Sepeninggal Muzi, pangeran ke 5 kembali melanjutkan apa yang dia kerjakan untuk hari ini. Salah satunya adalah memeriksa laporan keamanan dari para jendral kemudian dia memberikan laporan itu pada menteri pertahanan dan keamanan. Barulah Kaisar yang akan mendapatkan laporan tersebut.


Di kediaman pangeran ke 5, terlihat saat ini nyonya dari kediaman ini sedang menikmati kegiatannya berkebun. Dengan ditemani oleh Hui Li dan Shihan, nyonya kediaman pangeran ke 5 nampak terlihat senang. Karena ada suaminya di rumah dan karena kehamilannya dengan terpaksa Feng Ai membatasi latihannya. Hal ini sengaja Shihan sarankan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Feng Ai menurut saja karena ini memang demi kandungannya.


" Shihan?" panggil Feng Ai.


" Iya yang mulia." sahut Shihan mendekat.


" Apa aku boleh latihan? Yah dalam satu minggu bisa kan dua kali latihan. Rasanya tanggung sekali dengan penyampaian ku jika tidak dilakukan." keluh Feng Ai mengambil simpati Shihan.


" Saya akan pikirkan lagi yang mulia, tahapan berikutnya dengan latihan yang tidak akan memberatkan anda. " akhirnya Shihan luluh juga. Sudah sebulan ini Feng Ai merayunya agar diperbolehkan untuk latihan tapi Shihan selalu menolak keinginannya.


" Baik, awas kau ingkar janji." ujar Feng Ai ketus.


" Maf yang mulia, tapi saya tidak menjanjikan apa-apa pada anda. Saya hanya mengatakan untuk berpikir dahulu latihan yang bisa nada jalani." sanggah Shihan. Di tempat duduknya Feng Ai terlihat mengepalkan kedua tangannya karena geram. Sungguh pengawal pribadinya ini semakin ke sini semakin menyebalkan saja.


Karena sudah kepalang geram, Feng Ai segera meninggalkan Shihan dan Hui Li yang masih ada di taman. Feng Ai sengaja berkeliling sendirian di kediaman milik sang suami ini.


Brak....


" Serang....." terdengar suara gaduh tidak jauh dari Feng Ai berdiri saat ini. Karena penasaran Feng Ai bergegas untuk melihat apa yang terjadi di tempat yang Feng Ai tahu adalah untuk mencuci.


Mulut Feng Ai terbuka lebar kala melihat tempat cucian sudah berantakan dan tergeletak beberapa tubuh manusia yang mungkin terluka atau mati. Feng Ai kemudian mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh beberapa pasang kaki, kali ini menuju ke paviliun utama. Sekitar dua puluh langkah besar, Feng Ai melihat penjaga kediaman pangeran ke 5 sedang bertarung dengan penyusup. Tak ingin menunggu lagi, Feng Ai lekas membantu para penjaga karena terlihat penjaga kediaman ini mulai terpojok karena kalah jumlah.


" Pergi panggil Shihan dan Yi Ye...." seru Feng Ai pada salah seorang penjaga yang terjatuh karena ditendang musuh. Penjaga itu langsung berlari mencari Shihan dan Yi Ye.


Feng Ai beberapa kali menghindar saat musuh menyerangnya. Beruntung dia memiliki kelincahan yang bisa dia manfaatkan untuk menghindar dari serangan sehingga membuat para musuh kelelahan karena terus menyerang tanpa hasil. Ketika Feng ASi mulai terpojok, datang seorang pria yang membantunya. Pria ini adalah Muzi, orang suruhan Gong Sheng untuk menjaga keselamatan dari putri Feng Ai.


Tak lama Shihan dan Yi Ye datang ke tempat pertarungan itu, dan mulai meneka para musuh sehingga pihak Feng Ai akhirnya memperoleh kemenangan. Salah seorang dari penyusup itu sengaja dibuat untuk tetap hidup agar nantinya bisa diinterogasi oleh pangeran ke 5.