The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 85



Rombongan menteri pertahanan, Cho Hain telah tiba di desa tempat Gong Sheng berada. Melihat kekacauan di des itu, Cho Hain memaki putra mahkota dan pangeran ke 4 dalam hati. Bagaimana bisa , keduanya membuat nyawa rakyat sendiri menjadi taruhan atas kepentingan pribadi mereka.


Cho Hain heran ketika melihat seorang pria dewasa yang dia tahu adalah orang yang tidak mungkin berada di tempat ini saat ini. Orang yang dimaksud oleh Cho Hain adalah Xijian dari desa bukit. Tapi ketika matanya melihat keberadaan sang kakak, disini dia tahu bahwa pasti kakaknya yang membawa Xijian turun gunung.


" Sebaiknya kau dan pasukan u bersembunyi terlebih dahulu ketika Kaisar tiba. Tidak baik jika kalian semua tetap disini. Takutnya Kaisar membenarkan kabar burung yang mengatakan bahwa Gong Sheng membentuk aliansi untuk memberontak." ujar Cho Hain memberi saran.


" Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan dan tidak." ujar Xijian ketus.


" Terima kasih atas bantuan mu..." Cho Hain mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun karena gengsinya, Xijian tidak mau menerima jabatan tangan dari Cho Hain.


Cho Hain bersyukur bahwa pemimpin desa bukit yang terkenal susah diatur itu mau memenuhi permintaannya untuk bersembunyi terlebih dahulu ketika Kaisar Xili tiba di desa ini. Alasannya seperti yang dikatakan tadi bahwa di ibukota telah tersebar isu tentang pangeran ke 5 yang membuat aliansi untuk memberontak pada Xili. Dan Cho Hain tidak ingin hal tersebut dibenarkan. Karena nyatanya bukan Gong Sheng yang berniat berkhianat.


Pasukan dari Cho Hain yang dibawanya dari ibukota, kini tengah membantu para penduduk desa dan juga sisa pasukan Gong Sheng untuk membenahi desa yang kacau karena serangan dari pangeran ke 4 dan putra mahkota. Jika para pria tengah membenahi desa, maka para wanita akan membuat masakan yang bisa dimakan oleh para pria yang tengah bekerja itu. Feng Ai menjadi yang paling depan kala membantu para wanita dari desa itu yang tengah memasak.


" Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Feng Ai.


" Tuan putri... Jangan kemari dan mengotori pakaian anda. Silahkan tunggu saja disana, biar disini kami yang selesaikan.." ibu kepala desa melarang Feng Ai bergabung.


" Jangan sungkan jika butuh bantuan saya bu..." ujar Feng Ai tetap kekeh membantu.


" Silahkan menunggu disana saja putri, kami tidak ingin anda membantu karena melihat perut anda yang sudah sangat besar itu. Kami tidak ingin anda kelelahan hanya karena disibukkan oleh kami disini." ujar ibu kepala desa mencoba memberi pengarahan.


Setelah dibujuk oleh ibu kepala desa dan beberapa penduduk desa lainnnya, Feng Ai akhirnya mengalah dan memilih duduk di tempat yang orang-orang tadi tunjukkan. Meski merasa tidak enak, tapi Feng Ai juga tidak mungkin membantah ibu-ibu yang jumlahnya banyak itu.


Kegiatan semua orang yang ada di desa ini selesai di sore hari. Semuanya tampak terlihat sangat lelah. Feng Ai segera menghampiri suaminya untuk mengantarkan air minum dan menemani suaminya beristirahat. Melihat suaminya terlihat lelah dengan badan yang penuh luka itu, sungguh Feng Ai tidak tega melihatnya. Namun menghentikan pun dirasa tidak mungkin karena bagaimana pun Gong Sheng adalah orang yang menjadi pemimpin di desa ini, di situasi sekarang ini.


" Pergilah untuk membersihkan badan, Ai.. Tidak lama lagi Kaisar akan segera tiba." ujar Gong Sheng.


" Say akan menyiapkan air hangat untuk anda terlebih dahulu.. Setelahnya saya kan langsung membersihkan diri.." Feng Ai pamit untuk menyiapkan segala keperluan suaminya.


Terbukti omongan Gong Sheng benar adanya, karena tidak lama setelah semua kegiatan di desa itu selesai rombongan dari Kaisar tiba. Rombongan Kaisar datang dengan membawa beberapa bahan pangan dan juga sandang yang dibutuhkan oleh penduduk desa ini. Meski begitu, Gong Sheng sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang ayah. Hati Gong Sheng sudah kepalang sakit karena ketidaktegasan Kaisar yang mengakibatkan semua orang di desa ini menderita.


" Seperti yang anda lihat... Aku baik-baik saja.." jawab Gong Sheng.


" Mari kita temui tabib yang kami bawa dari istana, pangeran. Semoga saja bisa membuat ana lekas sembuh ." ajak Kasim Mo.


" Perintahkan tabib yang kalian bawa untuk memeriksa para korban luka di seluruh desa ini. Tidak baik jika aku diistimewakan padahal keberhasilan aku saat ini adalah karena kerja keras mereka..." ujar Gong Sheng yang langsung ditindak lanjuti oleh Kasim Mo.


Tabib istana sedikit terkejut ketika memeriksa tubuh pangeran ke 5. Pasalnya luka yang ada di tubuh pangean ke 5, bukannya hanya luka karena senjata tajam dalam peperangan, melainkan juga ada luka bekas penganiayaan. Gong Sheng yang menyadari tabib itu ingin mengatakan tentang lukanya pada Kaisar , dengan terpaksa Gong Sheng menutup mulut tabib itu.


" Tapi yang mulia, Kaisar berhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada anda." ujar tabib itu.


" Lalu apa yang akan terjadi setelah kau mengatakan tentang kondisi luka ku? Apa menurut mu Yang Mulia Kaisar akan menindak lanjuti masalah ini? Jangan memperbesar masalah ini karena yang akhirnya rugi tetaplah Kaisar..." kecam Gong Sheng yang langsung membungkam mulut tabib tersebut.


" Tapi apa yang harus saya katakan pada Kaisar jika beliau bertanya. Saya tidak mungkin berbohong pada beliau."


" Katakan saja yang sebenarnya, tapi jangan katakan luka ku ini karena penganiayaan. Hanya katakan luka-luka ku ini karena peperangan kemarin."


" Baik yang mulia..." tabib tadi terpaksa menuruti keinginan Gong Sheng karena bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Gong Sheng adalah benar adanya.


Kaisar tidak mungkin menindak kedua saudara yang telah melukainya. Hal tersebut hanya akan memancing keluarga permaisuri dan juga keluarga selir Xi. Kaisar nantinya yang paling dirugikan dalam masalah ini. Gong Sheng tidak ingin disalahkan diakhirnya dalam masalah ini.


Setelah diperiksa oleh tabib, Gong Sheng hendak kembali ke kamarnya, namun dihentikan aku oleh suara pertengkaran dari orang yang dia kenal. Segera saja Gong Sheng menuju ke sumber suara itu karena rasa penasarannya.


" Jika kau tidak bisa menjaganya, maka birkan dia ikut bersama ku!!" sentak Kim Yozu.


" Sheng adalah putra ku.. Maka tempatnya adalah disini bukan di tempat mu.." balas Gong Yuan.


" Putra mu kau bilang? Putra yang kau usir keluar dari istana saat dia masih sangat kecil. Disaat dia butuh kasih sayang kau membuangnya dengan alasan kau ingin melindunginya? Jangan bicara pada ku seolah-olah aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakang ku." Gong Yuan bungkam.


Gong Sheng hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat siapa yang sedang adu mulut dan disaksikan seluruh orang yang ada di desa itu. Gong Sheng tahu jika keduanya dipertemukan pasti hanya akan menambah kekacauan yang ada. Keduanya tidak akan bisa akur sampai kapan pun. Dan kesalnya Gong Sheng semakin bertambah saat melihat seseorang hadir meramaikan suasana.