
Desa bukit adalah desa yang berada di perbukitan bagian selatan Xili. Desa ini berada di atas perbukitan, terisolasi dari negara lain, dari kehidupan lain yang ada di bawah sana. Penduduk yang membuat desa bukit pertama kali adalah bekas dari negara Li yang sudah dibumihanguskan oleh Goryeo seratus tahun yang lalu. Dulunya negara Li adalah negara yang berada di tengah antara Xili dan Goryeo, lalu mereka diserang oleh Goryeo karena pada masa itu, Goryeo ingin memperluas daerah kekuasaan untuk menekan Xili.
Penduduk desa ini mengisolasi diri mereka sendiri dari dunia luar, tidak mau mengurusi lagi bagaimana dunia luar bertindak. Mereka hidup dengan damai dari hasil ladang dan ternak mereka sendiri. Namun beredar kabar bahwa pasukan desa bukit adalah pasukan yang kuat jika melakukan pertempuran jarak dekat. Mereka dijuluki sebagai ' Quzhujian ' penghancur.
" Setelah apa yang pernah Goryeo lakukan pada leluhur kami, lalu sekarang kau ingin aku membantu kalian menyelamatkan desa Xili. Apa kalian sudah tidak waras? " sarkas Xijian, pemimpin desa bukit.
" Aku tahu dimasa lampau kita adalah musuh, tapi seiring berjalannya waktu Goryeo dibawah kepemimpinan ku berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan kalian. Tolong pertimbangkan hal itu... " terpaksa, adalah kata yang harus Kim Yozu dalami. Dia harus merendahkan dirinya agar pasukan desa bukit mau turun membantu keponakannya.
" Katakan apa keuntungannya jika aku menolong my? " tanya Xijian.
" Putra Xia Nian, yang juga merupakan pewaris tahta ku sekarang ini sedang berjuang di sana. Jika kalian menyelamatkannya maka Goryeo akan selamanya memiliki hubungan baik dengan desa bukit.. " Kim Yozu hanya bisa menjanjikan perdamaian pada desa bukit agar mereka mau menolongnya.
" Kau tadi mengatakan putra dari siapa? " tanya Xijian.
" Putra Xia Nian dan Gong Yuan, keponakan ku Gong Sheng... " jawab Kim Yozu tenang.
Xijian tersenyum penuh arti saat mendengar siapa yang harus dia selamatkan. Gong Sheng putra dari Xia Nia dan Gong Yuan, sedangkan dia sendiri dulunya adalah kekasih Xia Nia sebelum pada akhirnya Gong Yuan menikahi Xia Nia secara paksa.
Takdir mereka semua berputar pada poros yang sama. Hal itu yang membuat Xijian merasa bahwa dunia ini lucu karena telah membuatnya menjadi gila. Dia harus menyelamatkan putra dari wanita yang dicintainya dengan pria yang menghancurkan hidupnya. Haruskah dia menyelamatkan...
" Aku membenci Gong Yuan dengan segenap jiwa dan ragaku. Pria tidak bertanggung jawab itu telah merampas wanita ku, bahkan dengan bodohnya dia membawa A Nian menjemput ajalnya... Lalu aku harus menyelamatkan putranya? " Xijian mencemooh keadaan.
" Anak itu, sejak berusia tujuh tahun sudah diusir dari istana. Tidak pernah disayangi dan diperhatikan oleh Gong Yuan. Tumbuh dengan menjaga jarak dari sang ayah. Mereka tidak sedekat yang kau pikirkan, keponakan ku sangat kecewa pada ayahnya.. " Kim Yozu berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya.
" Tapi dia tetap anak Gong Yuan.... "
" Dia juga anak Xia Nian... "
Keduanya terdiam, mereka saling menatap tajam mengisyaratkan kebencian yang mendalam satu sama lain. Namun sekali lagi, mereka kembali pada satu kenyataan bahwa mereka membenci orang yang sama.
" Bantu aku untuk menyelamatkan keponakan ku, maka aku akan membantu mu menghancurkan Gong Yuan.. "
Xijian masih terdiam, dia berada di satu dilema. Menyelamatkan putra Xia Nian, atau membunuh putra Gong Yuan. Xijian merasa ini kesempatan terbaiknya untuk membalas kejahatan Gong Yuan dulu, tapi itu juga merupakan anak dari wanita yang dicintainya.
***********
Pasukan pangeran ke 4 dan putra mahkota kini sedang menyerang desa tempat dimana Gong Sheng berada. Sejauh ini pasukan Gong Sheng masih diatas pasukan pangeran ke 4 dan putra mahkota. Namun jika sampai ada serangan susulan dari lawan, maka mereka akan kewalahan berujung pada kekalahan.
Gong Sheng berada di posisi paling belakang dari posisi pertahanan dan penyerangan. Dia menjadi pion terpenting menjaga warga yang bersembunyi di celah. Bersama dengannya ada Muzi dan juga Mingye, dua orang yang dia percaya.
" Tapi jendral.... "
" Kalian membantah ku? " suara Gong Sheng bagai petir untuk kedua anak buahnya itu.
" Lakukan apa yang aku perintahkan. Prioritas kalian adalah Feng Ai dan calon anak ku... "
" Baik jendral... " Muzi dan Mingye terpaksa menuruti apa yang jendral mereka perintahkan. Mereka berdua tahu bahwa prioritas jendral mereka adalah anak dan istrinya.
Ketiganya menunggu waktu mereka untuk bertarung tiba. Berada di garis akhir bukanlah hal mudah, karena semua akan menjadi beban mereka bertiga jika barusan depan dan tengah tidak mampu menahan lawan. Mereka menjadi kunci terakhir dari kemenangan dan kekalahan secara bersamaan.
" Bersiaplah... Musuh sebentar lagi datang... " seru Gong Sheng memberi semangat pasukannya.
Gong Sheng tidak yakin akan bisa bertahan sampai akhir melihat luka di tubuhnya masih belum sembuh benar. Namun jika memang nyawanya adalah harga yang harus dibayar demi melindungi rakyatnya, maka Gong Sheng rela mengorbankan nyawanya.
" Ai, jika kehidupan kedua itu ada, maka kau harus menunggu ku datang untuk bersama mu... " batin Gong Sheng pasrah.
Baris depan dan tengah sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama. Pasukan susulan dari lawan benar-benar datang disaat tenaga mereka hampir habis. Banyak yang tumbang dalam pertempuran ini, baik itu pihak Gong Sheng maupun pihak kedua saudaranya.
Pertahanan tengah sudah roboh, beberapa pasukan lawan sudah menampakkan batang hidung mereka tepat di depan Gong Sheng. Tanpa banyak bicara pasukan pangeran ke 4 dan putra mahkota langsung mengerang Gong Sheng dan pasukannya tanpa ampun. Pertempuran sengit puji tidak dapat terelakan.
" Maju... Kita serang pengkhianat itu bersama-sama... " seru prajurit lawan yang langsung maju menyerang..
" Aish.... Kita tidak punya pilihan lagi... Semuanya bersiap di tempat. Ingat... Sebelum kalian mati kalian harus membawa mereka mati.... " seru Mingye yang diseluruh pasukan yang tersisa.
Pasukan Gong Sheng semakin terpojok karena baris depan dan tengah sudah kalah. Semakin banyak lawan yang datang, Gong Sheng bahkan sudah tidak bisa menghitung berada nyawa yang melayang di tangannya. Gong Sheng dan Muzi saling melindungi dan melengkapi, tugas Muzi harus memastikan bahwa jendral nya ini dapat bertahan.
Pasukan Gong Sheng hanya tersisa beberapa orang saja termasuk Muzi dan Mingye. Mereka sudah tidak memiliki jalan keluar karena dikepung oleh pasukan lawan.
" Kalian berdua pergilah, aku akan menahan mereka... " titah Gong Sheng pada Muzi dan Mingye.
" Jendral... " keduanya protes.
" Lakukan sekarang!!! " Gong Sheng memerintah dengan mengintimidasi kedua anak buahnya dengan tatapan tajam membunuh.
Tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah dari jendral mereka. Disaat Gong Sheng hendak mengecoh lawan agar Muzi dan Mingye bisa kabur. Dari arah belakang terdengar suara derap kuda yang mendekat....
" SERBU...... "