
Feng Ai menatap Yi Ye dengan banyak pemikiran yang terlintas di kepalanya. Feng Ai begitu terkejut saat Yi Ye mengatakan bahwa dia dan Feng Ai berbeda. Feng Ai sedikit merasa takut, kalau-kalau Yi Ye menyadari tentang dirinya yang sebenarnya.
" Kenapa paman punya pikiran seperti itu?" tanya Feng Ai sedikit takut.
" Karena anda yang dulu tidak akan pernah memanggil saya dengan sebutan paman. Anda yanng dulu juga tidak akan pernah tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu beladiri." jawab Yi Ye begitu tegas. Jawaban yang dilontarkan oleh Yi Ye ini sukses membuat mulut Feng Ai bungkam. Tubuh Feng Ai juga bergetar sangat hebat karena ketakutan.
" Paman.... aku...aku...aku..." Feng Ai tergagap. Melihat itu Yi Ye tersenyum, sepetinya dugaannya selama ini benar adanya.
" Apa tujuan anda sampai berbuat seperti ini? Jangan takut nyonya, selama anda memiliki niat yang baik untuk pangeran ke 5, saya tidak akan melakukan apa pun yang bisa melukai anda." tanya sekaligus penjelasan dari Yi Ye.
" Tidak paman... aku tidak punya niat buruk pada pangeran ke 5. Sungguh, aku bahkan berani bersumpah untuk itu." Feng Ai langsung berdiri dan menghampiri Yi Ye, berlutut dihadapan kepala pelayan kediaman pangeran ke 5 itu.
" Nyonya bangun,,, saya mohon bangun nyonya." Yi Ye berusaha membantu nyonya nya untuk bangun.
" Tidak paman, sampai paman percaya pada ku aku tidak akan bangun. Sungguh aku sama sekali tidak ada niatan buruk paman." rengek Feng Ai.
" Bisa anda bangkit dan kemudian menceritakan yang sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi sebenarnya pada anda?" tanya Yi Ye meminta penjelasan.
Feng Ai kemudian menceritakan semuanya yang terjadi. Bahkan ketika menjadi Qiaofeng pun diceritakannya. Andai saja yang diajak bicara Feng Ai adalah orang modern seperti Qiaofeng, pasti mereka tidak akan ada yang percaya. Beruntung Yi Ye mau percaya akan ha tersebut, keran pada zamannya hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Feng Ai pun mulai menceritakan nasib yang akan dialami oleh Feng yang asli dan juga Gong Sheng. Tidak ada yang ditutupi olehnya, karena tak ingi dicurigai oleh orang-orang dari suaminya. Dan tujuan Feng Ai yang sekarang adalah ingin mengubah takdir meraka, takdir dirinya dan juga Gong Sheng.
" Paman yang paling tahu bagaimana seorang pangeran ke 5 itu. Apa anda akan percaya jika pangeran ke 5 dituduh berkhianat pada Xili?" tanya Feng Ai diakhir ceritanya.
"Itu fitnah, yang mulai pangeran ke 5 idak akan dan tidak pernah melakukan pengkhianatan. Ini pasti siasat dari putra mahkota yang selalu iri pada yang mulia pangeran ke 5." sanggah Yi Ye.
" Paman benar, Sheng tidak berkhianat dan aku harus menyelamatkannya. Dia orang baik paman, rakyat Xili akan kehilangan orang baik jika Sheng sampai meninggal."
" Aku dan Shihan akan membantu anda nyonya. Kami berada dipihak anda, jika membutuhkan sesuatu tolong katakan pada saya maupun Shihan." ujar Yi Ye menawarkan bantuan.
" Kami akan tutup mulut nyonya, meski itu tuan kami sendiri yang bertanya."
Setelah Feng Ai terbuka pada Yi Ye, sedikit demi sedikit beban berat yang ada dipundaknya mulai terasa sangat ringan. Awalnya ini adalah sesuatu yang dianggap sulit olehnya, tapi sekarang setelah ada orang yang mendukungnya, Feng Ai percaya akhir dari kisahnya akan berubah.
Yi Ye pun menemui Shihan untuk mengatakan apa yang baru saja dia dengar sendiri dari nyonya di kediaman ini. Shihn cukup terekjut, tapi tidak heran dengan tujuan Feng Ai, melihat betapa seriusnya tuannya itu belajar untuk bisa menguasai ilmu beladiri.
Keduanya saling sepakat untuk membantu tanpa mengatakan pada siapapun tentang masalah ini termasuk pada Gong Sheng. Toh ini juga demi keselamatan tuan mereka. Jangan sampai karena Gong Sheng tahu, akhirnya justru membuat rencana yang telah disusun Feng Ai gagal total.
Di desa yang terletak di perbatasan, pasukan yang dipimpin oleh pangeran ke 5 masih disibukkan dengan bantuan-bantuan yang mereka berikan untuk penduduk desa itu. Sedikit lagi semua usaha yang merek lakukan sejak beberapa hari ini akan selesai, dan mereka akan segera kembai ke ibukota kota.
Masalah dengan gubernur yanng bertanggung jawab terhadap penduduk di desa perbatasan ini juga sudah diselesaikan dengan baik oleh Liancheng. Teman seperjuangan pangeran ke 5 itu memperjuangkan nasib rakyat yang ada doi sana hingga bisa diatasi oleh gubernur dari bagian desa ain.
Semuanya selesai dengan baik dan tidak lagi meninggalkan masalah ketika pangeran ke 5 dan pasukannya kembali lagi ke ibukota. Nantinya Gong Sheng akan berniat menemui Menteri pertahanan dan kemanan saat dia sudah sampai di ibukota nanti. Gong Sheng ingin meminta agar pasukan yang berjaga di wilayah perbatasan bisa ditambah agi dengan beberapa pasukan yang ada di wilayah ibukota dan sekitarnya.
Sudah ada pasukan Ri Yue menjaga ibukota. Pasukan yang dipimpin oleh pangeran ke 5 itu memiliki daya tempur yang sangat kuat. Jumlah dari pasukan Ri Yue ini ada empat ribu orang. Dari seribu orang ini memiliki daya tempur yang bisa mengalahkan pasukan dengan jumlah yang dua kali lipat lebih banyak dari mereka.
Dengan alasan ini nantinya biarlah pasukan di perbatasan diperbanyak, agar kejadian seperti saat ini tidak akan terulang. Gong Sheng juga sudah membahas dengan Liancheng, bahwa dia ingin baha pria muda dan anak-anak bisa dilatih ilmu beladiri. Agar dapat melindungi keluarga meraka dan juga melindungi desa mereka saat ada bahaya yang menerjang mereka.
" Tuan ku, saya dengar anda akan segera kembali ke ibukota. Kami warga desa ini pasti akan sangat merindukan anda dan para pasukan ini." ujar kepala desa ini.
" Saya sebenarnya baru saja melaksanakan pernikahan, dan keesokan harinya saya langsung berangkat memenuhi tugas saya kemari. Saya telah meninggalkan istri saya di rumah tuan. Saya harus segera pulang, atau kalau tidak bisa-bisa istri saya tidak mengizinkan saya memasuki kamar pengantin kami." Gong Sheng sedang melontarkan candaan kepada kepala desa. Dan hal ini sukses membuat kepala desa dan beberapa warga yang berada di dekat Gong Sheng tertawa keras.
" Kalau begitu memang tuan ku harus segera pulang dan membuatkan kami banyak keponakan dan cucu." ledek istri dari kepala desa.
" Akan sangat menyenangkan bila saya dan keluarga kecil saya bisa kemari suatu hari nanti. Semoga saja semua peperangan segera usai, dan hanya menyisakan kedamaian untuk kita dan semua keturunan kita."
Ucapan Gong Sheng diamini oleh semua warga dan juga pasukan miliknya. Meski untuk mewujudkannya akan sangat menguras banyak tenaga, tapi jika memikirkan hidup damai yang dipenuhi kebahagiaan bersama orang terkasih, pastinya akan memberikan semangat yang besar untuk mewujudkan kedamaian itu.