
Hari sudah berganti, namun Gong Sheng masih saja belum sadarkan diri. Tabib sudah mengatakan bahwa Gong Sheng sudah melewati masa bahayanya, dan sekarang tinggal menunggu suami dari Feng Ai itu sadar.
" Sampai kapan anda akan tidur, suami ku? Tidakkah anda merindukan saya dan bayi kita? " ujar Feng Ai yang duduk di samping ranjang tempat Gong Sheng berbaring.
" Langit pagi ini begitu indah, banyak awan dengan bentuk mereka yang lucu. Juga sangat cerah, sangat cocok untuk berjemur. Apa anda tidak ingin mengajak calon anak kita berjemur? " ujarnya lagi.
Feng Ai tidak pernah sedikitpun berhenti untuk bertanya atau sekedar bercerita tentang dirinya dan calon anaknya. Berharap dengan begitu Gong Sheng akan segera sadar dan mereka bisa kembali berkumpul. Namun terlihat sekarang ini Gong Sheng lebih memilih untuk tetap tidur. Sungguh Feng Ai menjadi sangat sedih karena hal itu.
" Nyonya, makan pagi anda sudah siap. " Hui Li masuk membawa nampan yang berisi makanan.
" Letakkan saja disana. Aku akan memakannya nanti. " ujar Feng Ai.
" Nyonya, jika tuan tahu bahwa anda melewatkan beberapa waktu makan, maka tuan pasti akan marah.. " Hui Li mencoba untuk membuat nyonya nya mau makan.
" Biarkan saja. Aku justru menunggu dia akan marah dan bangun. " ujar Feng Ai acuh.
Hui Li pun pamit undur diri karena dia tahu tidak akan ada gunanya terus membujuk nyonya nya. Sejak muda berada di samping nyonya nya membuat Hui Li tahu betul bagaimana sifat dan sikap dari Feng Ai. Dan jika sudah seperti ini maka Feng Ai akan sungguh membuktikan ucapannya.
Setelah kepergian Hui Li, Feng Ai masih dengan tenang tetap duduk di samping tubuh suaminya yang tidak berdaya. Menantang suaminya agar mau bangun karena dia tidak mau memakan makanannya. Air mata Feng Ai akhirnya luruh juga setelah dia menahannya sejak pagi dia membuka kedua matanya. Tubuhnya akhirnya bergetar karena rasa sesak didadanya yang tidak bisa dia hentikan dan buang jauh.
Lama Feng Ai menangis, namun masih saja belum ada tanda-tanda bahwa Gong Sheng akan terbangun, hingga Feng Ai pun tertidur. Dalam tidurnya Feng Ai melihat dunia dimana dirinya menjadi Qiaofeng. Di dunia modern tempanya berasal terlihat seseorang yanng begitu mirip dengan Gong Sheng sedang terlihat bingung.
Feng Ai mendekat untuk bertanya apa yang sedang dicari oleh pria yang mirip dengan Gong Sheng itu. Namun si pria itu hanya diam tidak berkata apapun. Pria itu menatap Feng Ai dengan tatapan yang begitu misterius. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, Feng Ai tidaklah tahu.
" Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Qiaofeng pada pria yang mirip Gong Sheng itu.
" Aku hanya sedang mencari untuk ku pulang. Istri ku sedang menunggu ku." jawab pria itu.
" Dimana alamat rumah mu? Aku akan mengantar mu." dengan ramah Qiaofeng bertanya.
" Aku tidak tahu. Ini bukan dunia dimana tempat ku berada sebelumnya. Ini seperti tempat yang asinng untuk ku."ujar Gong Sheng.
Mendengar itu Feng Ai yakin bahwa Gong Shen yang ada di damping tubuh Feng Ai itu sedang tersesat di dunia Qiaofeng berasal. Tak tahu harus berbuat apa, Qiaofeng mengajak pria itu jalan-jalan disekitar tempat mereka berdiri. Hingga tiba-tiba pria itu mengatakan bahwa dia menemukan tempat yang bisa membawanya kembali ke dunianya.
" Tolong antarkan aku ke gunung yang letaknya di dekat desa tua bernama Man Yu." pinta pria yang mirip dengan Gong Sheng itu.
" Desa tua, Man Yu? Bagaimana anda tahu desa itu? Disana sudah lama tidak pernah didatangi orang lagi." Qiaofeng begitu keheranan. Di novel dimana rohnya berada, tidak ada tempat bernama desa Man Yu. Lalu darimana pria itu tahu tenang desa tersebut.
" Desa itu, akulah yang memberinya nama. Demi mengenang kematian istri ku." jawab Gong Sheng yang langsung membuat Qiaofeng terkejut.
" Ini.... ini.... Bukan mimpi.. Tapi masa depan ku dengan Gong Sheng. Kenapa begini?" batin Qiaofeng terkejut.
" Ai? kau baik-baik saja?" tanya Gong Sheng khawatir.
" Anda.... anda sudah sadar..." setelah terdiam cukup lama, barulah Feng Ai sadar betul bahwa suaminya telah kembali sadar.
" Aku panggilkan tabib dulu..." dengan langkah cepat Feng Ai segera mencari keberadaan tabib yang merawat Gong Sheng.
Gong Sheng yang sudah terbangun itu, terduduk lemah. Mimpinya, membawanya pada kesadaran. Gong Sheng juga bermimpi ketika Feng Ai tadi Feng Ai bermimpi. Tapi mimpi merek sangat berbeda.
Gong Sheng berdiri di sebuah nisan yang bertuliskan nama istri tercintanya. Makam yang tanahnya masih merah itu berada di sebuah desa yang jauh dari ibukota.
gong Sheng dalam mimpi itu menangis histeris karena tidak mampu menyelematkan sang istri. Penyesalan selalu terjadi diakhir cerita, dan itu yang dirasakan Gong Sheng sekarang. Dan itulah yang membuat Gong Sheng kembali tersadar dari komanya. Ketakutannya yang tidak bisa menyelamatkan sang istri, membuatnya lekas bangun.
" Aku harap itu hanya mimpi Ai. Aku tidak akan sanggup bila itu akan menjadi kenyataan." gumam Gong Sheng lirih.
Feng Ai beserta dengan Tabib, Shihan dan Muzi, lalu Mingye terlihat memasuki kamar perawatan Gong Sheng. Namun tabib menghentikan mereka dan meminta agar menunggu di luar. Dirinya akan memeriksa kondisi dari pangeran ke 5 dulu baru yang lainnya boleh masuk.
" Silahkan masuk nyonya. Saya sudah selesai memeriksa yang mulia. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari kemarin." lapor tabib setelah beberapa waktu berada di dalam kamar memeriksa Gong Sheng.
" Benarkah? Terima kasih banyak tabib.. Terima kasih.." Feng Ai segera masuk ke dalam kamar diikuti oleh orang-orang kepercayaan dari Gong Sheng.
" Selamat datang kembali tuan jendral.." sambut orang-orang Gong Sheng.
" Terima kasih. Maaf membuat kalian menunggu dan cemas. Apa ada perkembangan selama aku tidak sadar?" tanya Gong sheng yang langsung diprotes oleh Feng Ai.
" Anda baru saja bangun kenapa sudah membicarakan tentang masalah pekerjaan. Tolong sayangilah diri anda.." ujar Feng Ai dengan bibir yang mengerucut tajam.
" Aku hanya bertanya Ai, lagipula setahu ku mereka tidak mungkin akan diam saja tidak mengambil tindakan disaat mereka tahu aku tidak berdaya." Gong Sheng beralasan.
" Tapi tetap anda harus banyak beristirahat." akhirnya Feng Ai mengalah. Toh percuma saja jika dia ngotot.
Mingye dan Muzi saling memandang, keduanya ragu apakah harus mengatakannya atau tidak. Karena berita yang mereka dengar, ini merupakan berita yang sangat buruk.
" Katakan!!!" titah Gong Sheng yang seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orangnya.
" Tuan, musuh akan menyerang kita dalam dua hari ke depan. Pasukan putra mahkota dan pasukan pangean ke 4 kini tengah berada di benteng Dormun. Begitulah yang kami dengar dari informan kita." lapor Muzi.
Gong Sheng terdiam, sungguh dirinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran dari saudara-saudaranya itu. Rasanya mereka hanya memperebutkan hal yang tidak masuk akal. Tahta yang berusaha dipertahankan oleh putra mahkota itu sama sekali tidak Gong Sheng incar. Dia adalah putra mahkota Goryeo, negara yang lebih makmur dan kaya jika dibandingkan Xili. Lalu bagaimana semua ini akan berakhir?