The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 47



Di luar kamar milik Gong Sheng dan Feng Ai, masih banyak pelayan dan datang yang berdesakan ingin tahu apa yang terjadi pada nyonya mereka. Apalagi tadi mereka mendengar sendiri bagaimana nyonya mereka mual-mual di dalam kamar. Shihan sendiri juga ikut bergabung dalam kelompok datang itu, dia cukup penasaran dengan apa yang terjadi.


Di dalam kamar, terlihat semua memperhatikan tabib Ming yang sedang memeriksa pergelangan tangan dari Feng Ai. Lama sekali mereka menunggu dengan perasaan was-was, justru Gong Sheng dibuat kesakitan oleh tabib Ming. Pasalnya bukannya mengatakan apa sakit yang diderita Feng Ai. Tapi tabib Ming justru tersenyum menggoda dirinya. Jika tidak melihat situasi dan kondisi saat ini, ingin sekali Gong Sheng membuat perhitungan dengan tabib Ming.


" Bagaimana tabib Ming? Sakit apa yang diderita nyonya? " tanya Yi Ye memecah keheningan.


" Nyonya tidak sakit tuan. Justru ini adalah kabar baik. " ujar tabib Ming.


" Kabar baik kau bilang. Istri sampai lemas seperti ini kau bilang kabar baik. Apa maksud mu? " Gong Sheng langsung menyambar tabib Ming. Kekesalannya semakin menjadi saja melihat tingkah polah dari tabib yang selama ini mengabdi padanya.


" Ini sungguh kabar yang sangat baik tuan, jika bukan kabar baik laku kabar apa jika istri anda sedang mengandung saat ini. " ujar tabib Ming cengengesan. Tapi Gong Sheng sekarang ini seolah sedang tidak berada di sana jiwanya. Dia begitu terkejut sampai tidak tahu harus bagaimana, dia juga merasa ini seperti mimpi.


" Jangan bengong yang mulia. Saya ucapkan selamat, karena sebentar lagi kediaman Man Yue akan dipenuhi dengan tangisan bayi. " tabib Ming memberi selamat setengah mencandai tuannya.


" Maksudnya bagaimana? " tanya Gong Sheng masih terlihat bingung.


" Suami ku, anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dalam perut ku ada buah cinta kita. " bukan tabib yang menjawab melainkan Feng Ai.


" Benarkah? Yi Ye kau dengar, aku akan menjadi ayah. " Gong Sheng tertawa bahagia dan mencium kening Feng Ai mesra sebagai wujud Terima kasihnya.


Kediaman Man Yue hari ini merayakan kegembiraan karena nyonya di kediaman ini tengah mengandung. Suatu keberuntungan yang dewa berikan pada kediaman Man Yue. Seperti apa yang dipercaya oleh masyarakat Xili, bila ada seorang wanita yang mengandung dalam sebuah keluarga, maka keluarga itu akan berlimpah rejeki dan keberuntungan. Karena itu semua orang di kediaman Man Yue hendak melakukan perayaan sebagai rasa syukur atas keberuntungan dari dewa pada nyonya kediaman Man Yue.


Yi Ye segera mengkoordinasikan pada seluruh penghuni di kediaman pangeran ke 5 ini. Mereka akan memasak yang banyak dan membagikannya pada anak jalanan dan juga masyarakat di ibukota. Dengan maksud ingin membagi keberuntungan mereka pada seluruh masyarakat Xili. Shihab dan para pengawal jiga membantu bagian dapur untuk mempersiapkan semuanya.


Gong Sheng tidak pernah ingin sedetik pun menjauh dari sang istri. Dia terus menggenggam tangan istrinya dan sesekali mengecupnya. Kebahagiaan yang tak terkira telah diberikan dewa melalui sangat istri dan Gong Sheng sangat berterima kasih akan hal itu.


" Apa anda sangat senang suami ku? Anda tidak berhenti tersenyum sejak tadi. " tanya Feng Ai. Dia ikut merasa bahagia ketika melihat suaminya bahagia atas kehamilannya.


" Saya juga beruntung memiliki anda dalam hidup saya. Tidak dapat saya bayangkan jika dalam hidup ini bukan anda yang menjadi pendamping saya. " ujar Feng Ai sendu.


" Kenapa sedih begitu? " tanya Gong Sheng yang sedikit heran dengan mimik wajah sang istri. Sejujurnya Feng Ai kembali mengingat mimpi dan cerita tentang Gong Sheng dan Feng Ai. Hatinya hancur saat melihat dengan mata kepalanya suaminya dipenggal dan dicemooh orang-orang yang selama ini menghormatinya.


" Bagaimana saya bisa sedih disaat anda terlihat bahagia? Saya bahagia karena anda, suamiku. " ujar Feng Ai menutupi kesedihannya.


Keduanya kembali berbincang halal seputar kehamilan, tentang ngidam yang biasanya dialami ibu hamil dan pastinya akan aneh-aneh. Belum lagi morning sickness yang saat itu disebut dengan istilah mual pagi. Gong Sheng sebisa mungkin ingin menjadi suami siaga di samping sang istri. Menuruti setiap keinginan dan menjadi orang yang pertama kalo mengerti tentang kondisi istri dan calon anak mereka.


Namun satu kekhawatiran dari Gong Sheng yang tidak bisa dia ungkapkan pada Feng Ai saat ini. Dia takut kehamilan Feng Ai akan menjadi senjata untuk putra mahkota dan juga pangeran lainnya menjatuhkan nya. Gong Sheng sebenarnya tidak takut jika berkorban dan meninggalkan pasukannya, tapi apakah rakyat dan Xili akan baik-baik saja dengan hal ini. Lalu apakah dengan dia berkorban, mereka yang ingin menjatuhkannya akan puas dan membiarkannya dan keluarganya hidup bebas. Semuanya itu merupakan ketidakpastian dan Gong Sheng tidak ingin bertaruh pada hal yang tidak pasti.


" Aku harus mengatur strategi agar jangan sampai Ai dan calon anak kami menjadi sasaran dari mereka. Aku sungguh tidak akan memaafkan diri ki sendiri bila sampai keluarga ku ini menderita atau terluka karena ku. " batin Gong Sheng. Dia menatap penuh kecemasan ke arah wajah dari istrinya yang beberapa menit lalu terlelap dalam pelukannya. Gong Sheng kemudian turun dari ranjang, dan keluar dari kamar ingin menemui anak buahnya yang juga anggota pasukannya.


Pasukan Ri Yue memang adalah pasukan milik dinasti Xili dengan Gong Sheng sebagai jendral besar yang memimpin pasukan itu. Namun sesungguhnya, beberapa orang dari pasukan Ri Yue merupakan pasukan pribadinya, yang selama ini menerima perintah dari Gong Sheng untuk menyelidiki dan juga mengawasi putra mahkota serta pangeran lainnya. Dia tidak menggunakan pasukan pribadinya untuk memberontak, namun mengantisipasi orang-orang yang mengincar dia.


Gong Sheng berada di taman Anggrek milik sang istri, menunggu orang yang dia nantikan kedatangannya sejak tadi. Tidak perlu menunggu lama, Shihan dan seorang lainnya datang menghampiri Gong Sheng.


" Tuan, Muzi sudah datang. " lapor Shihan.


" Saya disini tuan. Saya siap menerima perintah dari anda. " ujar Muzi membungkukkan badannya memberi hormat pada tuannya.


" Istri ku sedang hamil, Shihan saja mungkin akan kewalahan jika mereka bertindak menjadikan istri ki sebagai ancaman. Karena itu aku ingin kau sendiri bersama Shihan untuk menjaga dan melindungi istri ku. Ingat, dia adalah tuan kalian, jadi utamakan keselamatan nya diatas diri ku. " titah Gong Sheng.


" Baik tuan. Saya juga akan menambahkan beberapa orang yang secara rahasia melindungi tuan putri. " Muzi mematuhi perintah dari tuannya.


" Selidiki dan awasi pergerakan mereka, jangan sampai mereka selangkah di depan kita. Taruhannya adalah nyawa kita semua. Putra mahkota menjebak ku dengan mengatakan aku memiliki pasukan pribadi demi memberontak. Jadi identitas kalian juga jangan sampai bocor. Tetap dengan tenang menjadi pasukan ku. Mengerti? " Shihan dan Muzi membungkuk sebagai jawaban mereka.