The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 72



Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan pertemuannya dengan sang paman, Gong Sheng bersiap untuk pulang. Perasaannya sedikit tidak nyaman saat membicarakan sang istri. Daripada hal-hal buruk terjadi, Gong Sheng memilih pulang saja, toh masih ada hari esok untuk berkutat kembali dengan pekerjaannya.


Dengan menunggangi kuda hitam miliknya, Gong Sheng melaju dengan cepat menuju ke kediaman miliknya. Jaraknya lumayan jauh, jadi agar bisa segera sampai Gong Sheng harus memacu kudanya kencang. Karena kebiasaan inilah, Gong Sheng sampai membuat jalan khusus untuknya yang membelah hutan menuju ke kediamannya. Gong Sheng membuat jalurnya sendiri di dalam hutan agar rakyat tidak terganggu dengan kecepatan kudanya.


Tidak banyak tahu tentang jalan dalam hutan ini. Hanya orang-orang kepercayaannya yang berada di barak saja yang tahu tentang jalan ini. Tapi tidak selamanya manusia bisa merahasiakan sesuatu yang ditawar tinggi oleh lawan, begitu pula dengan jalan rahasia ini. Ketika sudah sepertiga jalan, Gong Sheng terpaksa harus menghentikan laju kudanya karena dihadang oleh beberapa orang yang terlihat sangat menyeramkan.


Gong Sheng turun dari kudanya, dengan hati-hati dia mempersiapkan perlawanan jika orang-orang ini sungguh ingin mencari gara-gara dengannya. Total ada sembilan orang dengan wajah yang begtu menyeramkan, dan seorang lagi yang berpakaian rapi, menurut tebakan Gong Sheng, pria yang rapi itu tentunya adalah bos dari orang-orang yang menghadangnya ini.


" Apa mau kalian?" tanya Gong Sheng mengulur waktu. Dia harus terlihat tidak mencurigakan untuk bisa mempersiapkan senjata yang nantinya akan digunakan olehnya untuk menghadapi orang yang ada di hadapannya ini.


" Jangan terlalu sombong bocah.... Karena malam ini kami akan membuat mu menyesal telah berlaku sombong pada kami!!. pria dengan wajah yang paling menyeramkan berujar sinis.


" Benarkah? Wow... aku jadi ingin melihat sejauh dan sehebat apa kemapuan kalian jika dibandingkan dengan ku!" tantang Gong Sheng.


" Sialan... Dia meremehkan kita... Ayo kita serang dia..' pria menyeramkan lainnya langsung maju ke depan diikuti kawannya.


Gong Sheng memasang kuda-kuda, dia juga berusaha untuk fokus pada kekuatan yang dia miliki. Begitu para pria menyeramkan itu berada di jarak yang cukup dengannya, Gong Sheng langsung menghujamkan berbagai macam senjata tajam yang entah berasal dari mana...


Para pria menyeramkan itu langsung kalang kabut berusaha menghindari senjata tajam yang dilemparkan oleh target mereka ini. Karena rasanya sejak tadi, target mereka ini hanya diam saja di sebelah kuda berwarna hitam yang ditungganginya tadi. lalu berasal dari mana semua senjata tajam yang terlontar ke arah mereka itu?


Gong Sheng menyeringai tajam melihat para pria dengan wajah menyeramkan itu berlarian menghindari senjata yang dilemparkan olehnya. Jika ditanya dari mana senjata itu berasal,padahal Gong Sheng sama sekali tidak terlihat membawa banyak senjata. Jawabannya adaah karena kemampuan istimewa yang dimiliki oleh Gong Sheng.


Gong Sheng adalah spiritualis tingkat dewa, dengan tingkatan langit keempat. Kemampuan langka dimana dengan tingkatannya itu Gong Sheng bisa menguasai semua unsur dalam spiritualis, dan terbentuklah pedang atau besi tajam itu. karena Gong Sheng mampu menggunakan semua unsur spiritualis.


" Katakan pada ku siapa yang memerintahkan kalian, maka nyawa kalian akan selamat. Jika kalian memilih diam, maka terima sendiri akibatnya." setelah mengatakan itu, senjata tajam dari besi terus saja menyerang para pria berwajah menyeramkan itu. Sama sekali tidak berhenti, tujuannya adalah merusak mental mereka agar bisa mendapatkan nama orang yang memerintahkan mereka.


" Ampun tuan... Tolong hentikan.!!! Kami lelah.." salah seorang dari pria berwajah menyeramkan itu langsung berteriak dengan kencang menghadap Gong Sheng.


" Apa yang aku dapat jika aku menghentikan permainan ini? Jika tidak mendapat apa-apa aku lebih senang kalian terus seperti ini, karena menurutku ini hiburan yang menarik.." kata-kata Gong Sheng membuat mata para penjahat itu mendelik tajam. Sepertinya mereka telah salah memilih lawan.


" Baik.... baik... kami akan mengatakannya... tapi.... tapi ....hentikan.... HENTIKAN....." Gong Sheng langsung menghentikan apa yang telah dia lakukan sejak tadi. Puas rasanya membuat pra penjahat dengan wajah menyeramkan itu ketakutan dan menyerah.


" Katakan..." Gong Sheng berucap menekan kata-kata yang dia ucapkan..


" karena apa?" hardik Gong Sheng tidak sabar.


" Karena yang datang..... menemui... kami adlah pengawal pribadinya.... iya... seperti itu" wakil para penjahat itu mengatakan yang sebenarnya meski tergagap. Gong Sheng juga sudah bisa menebak siapa yang menyuruh mereka.


" Heh... tri murahan..." gumam Gong Sheng mencemooh.


Setelah memberikan sedikit pelajaran pada orang-orang tadi, Gong Sheng kembali melanjutkan perjalan menuju ke kediamannya. Sepanjang perjalanan yang dia tempuh, mulutnya sama sekali tidak berhenti menggerutu. Gong Sheng jadi pulang terlambat dan terlambat pula bertemu sang istri karen orang-orang tadi.


" Awas saja kalian jika masih berani mencari gara-gara dengan ku.." kesalnya.


Begitu sampai di kediaman miliknya, seperti biasa Yi Ye yang menyambut tuannya ini. Gong Sheng celingukan mencari sesuatu atau seseorang yang jelas batang hidungnya tidak nampak. Gong Sheng pun bergegas menuju ke kamarnya, istrinya pasti ada di kamar mereka...


" Tuan... Nyonya muda sedang daam kondisi mental yang buruk. Beliau tadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak beliau lihat. Begitulah laporan yang disampaikan oleh pengawal dan pelayan pribadi nyonya kediaman pangeran ke 5 itu.


" Apa maksud mu? Jelaskan dengan benar.." hardik Gong sheng terlihat begitu tegas.


" Nyonya tadi mampir ke kediaman Feng setelah berjalan-jalan di kota. Menurut apa yang dikatakan oleh Shihan tadi, nyonya melihat sang ayah sedang bercengkrama dengan ibu dan saudara tiri nyonya... Setelahnya Nyonya hanya diam dan memilih pulang." lapor Yi Ye.


Gong Sheng langsung bergegas menuju ke dalam kamar miliknya dan Feng Ai. Kamar yang menjadi saksi bisu cinta mereka berdua yang saling menyatu. Ketika gong Sheng membuka pintu kamarnya dengan perlahan, matanya langsung menatap sosok wanita yang dicintainya itu sedang melamun di dekat jendela kamar mereka.


"Ai..." Gong Sheng berjongkok di depan feng Ai dan menggenggam tangan wanitanya itu. Secara perlahan Feng Ai menundukkan kepalanya, Feng Ai langsung tersenyum melihat suaminya berada di hadapannya. Kerinduannya tersampaikan...


" Apa yang sedang mengganggu pikiran mu? dan kenapa malam-malam begini duduk di dekat jendela yang terbuka? Apa Ai ingin bayi kita dalam perut mu kedinginan?" Gong Sheng langsung mencerca istrinya dengan banyak pertanyaan. Feng ai terkekeh pelan mendengar banyaknya pertanyaan yang ditanyakan oleh prianya ini.


" Bagaimana saya bisa menjawab jika anda langsung memberi banyak pertanyaan?" protesnya.


" Kalau begitu jawab saja apa yang sedang kau pikirkan? Maukah kau berbagi?" Feng Ai terdiam. Kepalanya kembali dia putar menghadap ke langit yang bisa dilihatnya melalui jendela.


" Apakah yang saya rasakan saat ini dulunya juga dirasakan oleh ibunda? Melihat dengan mata sendiri seseorang yang disayanginya berbahagia dengan orang lain tanpa memikirkan tentang dirinya ? Saya.... Saya... merasa dikecewakan dan dikhianati...." Feng ai menangis tersedu alam itu.


Bulan dan bintang di langit menjadi saksi betapa hancurnya hati Feng Ai saat ini karena apa yang dirasakan oleh ibunya kini dia rasakan juga. Feng Ai terus menangis dalam pelukan Gong Sheng sampai tertidur karena kelelahan menangis.