
Semua pasang mata yang ada di aula jamuan ini menatap ke arah pangeran ke 5 dan putra mahkota secara bergantian. Ucapan yang baru saja diucapkan oleh putra mahkota berhasil membuat semua orang memperhatikan mereka. Jalan untuk mencoreng nama baik dari adiknya ini sebentar lagi akan membuahkan hasil. Putra mahkota tersenyum tipis, melihat bagaimana pihak dari pangeran ke 5 sampai terlihat pucat. Satu umpannya berhasil membuat banyak ikan tertangkap.
" Maafkan aku kakak pertama, tapi aku sungguh tidak merasa melakukan sebuah hal buruk sehingga membuat banyak orang menyebarkan isu tentang ku." ujar Gong Sheng menyanggah ucapan yang menjebak dari putra mahkota.
" Mereka menyebarkan isu bahwa adik kelima telah membentuk pasukan rahasia di hutan yang ada di sekitar kediaman milikmu. Bahkan mereka mengatakan bahwa kau akan melakukan pemberontakan." Gong Lie tersenyum mengejek menatap sang adik.
Gong Sheng terdiam, bukan untuk membenarkan ucapan dari putra mahkota. Namun untuk memikirkan sebuah cara untuk mematahkan niat dari putra mahkota yang menggiring semua orang yang hadir diacara jamuan ini untuk memperhatikan gerak geriknya.
" Bukan kah gosip itu terlalu berlebihan. Lagipula kenapa aku harus membentuk pasukan rahasia jika saja pasukan Ri Yue berada di bawah kendaliku." ucapan Gong Sheng ini sedikit mematahkan ucapan putra mahkota.
" Apa kakak pertama tahu, bahwa adik anda ini telah mencapai prestasi yang gemilang di dunia prajurit. Dan karena itu semua pasukan milik ku hanya menuruti apa yang aku perintahkan. Untuk apa saya memiliki pasukan rahasia." Gong Sheng langsung tidak membenarkan ucapan putra mahkota.
" Untunglah jika isu itu tidak benar. Aku tidak ingin orang menyalahkan keberadaan mu di istana adik kelima." sarkas putra mahkota.
Tidak ada satu pun yang terkejut melihat kejadian di depan mereka ini. Sudah sangat biasa jika putra mahkota dan pangeran ke 5 berada di ruangan yang sama, maka keduanya kan terlibat adu argumen yang cukup menghebohkan karena tidak ada satu pun yang mau mengalah diantara keduanya.
" Tolong kakak pertama tidak memperdulikan sebuah isu yang belum benar dan tidaknya. Hal ini bisa membuat nama putra mahkota tercoreng karena menyebarkan informasi palsu." sarkas Gong Sheng mampu membungkam mulut putra mahkota.
Dari singgasananya, Kaisar menatap dan mendengarkan setiap ucapan yang diperdebatkan oleh kedua putranya. Benar dan tidaknya isu itu, jika sampai rakyat mulai membicarakannya maka pihak istana harus menjelaskan semuanya. Namun melihat kembali ke belakang, Kaisar tahu betul bahwa pangeran e 5 bukanlah orang seperti itu. Tapi melihat putra mahkota yang terlihat serius, Kaisar jadi meragukan pemikirannya tentang putranya.
" Apa maksud dari yang putra mahkota ucapkan itu? Anda tahu betul bahwa masalah ini sensitif dana anda bisa dihukum jika menyebarkan fitnah. " Kaisar mencoba menengahi.
" Maafkan saya ayahanda, tapi memang inilah yang saya dengar ketika saya melakukan perjalanan ke kediaman adik kedua." putra mahkota melancarkan rencananya untuk mempengaruhi kaisar.
" Saya ingin menanyakan perihal itu pada adik kelima, karena bagaimana pun masalah ini bisa memberikan dampak pada istana ayahanda." tambahnya lagi.
" Mohon maaf jika saya lancang memotong pembicaraan yang mulia kaisar dengan putra mahkota. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya. Isu itu tidak benar adanya, saya memilih menjadi prajurit untuk menghindari masalah tentang istana dan juga semua yang ada di dalamnya. Sejak saya kecil, saya sudah keluar dari istana. Sudah sejak itu pula saya hanyalah orang biasa." ujar Gong Sheng menohok Kaisar.
Ucapan Gong Sheng barusan sungguh membuat Kaisar seperti ditampar. Karena dia yang ingin menjaga nyawa putranya ini, dia sampai tidak bisa mengucapkan barang satu kata pun yang mengungkapkan hatinya yang begitu menyayangi putranya ini. Kaisar pikir, daam hatinya Gong Sheng bisa mengerti apa yang dirinya lakukan demi melindungi putra tersayangnya ini. Nyatanya, bagi Gong Sheng, gelar pangeran ke 5 hanyalah sebuah formalitas saja.
Andai waktu bisa diputar kembali, Kaisar begitu ingin kembali ke masa lalu. Alasannya, dia ingin memperkuat dirinya dan kuasanya agar tidak sampai tunduk pada keluarga permaisuri. Dengan begitu, dia bisa melindungi wanita yang dia cintai dan juga putra semata wayang mereka.
" Saya sekarang ini hanyalah seorang jendral besar di Xili, yang mulia permaisuri. Saya bukanlah seorang pangeran. Bagi saya, saya adalah bagian dari Xili, bukan bagian dari istana." ujar Gong Sheng tegas. Feng Ai sampai tertegun melihat sikap tegas dn tidak gentar yang ditunjukkan oleh suaminya saat ini. Baginya, sungguh sangat keren sekali.
" Suka ataupun tidak, dalam darah mu mengalir darah kaisar. Bagaimana kau bisa mengatakan hal tersebut. Sungguh benar jika kau ingin berkhianat?" ujar Permaisuri mulai tersulut emosinya.
" Saya sudah terlalu banyak kehilangan darah yang mulia permaisuri. Darah yang anda maksud saat ini adalah darah yang seperti apa?" sarkas Gong Sheng.
" Kau !!!!" permaisuri geram.
" Adi kelima, tolong jaga ucapan mu. Bagaimana pun beliau adalah ibunda kita. Sopan lah." tegur pangeran ke 2 sok paling benar.
" Maafkan saya, tapi inilah saya apa adanya." ujar Gong Sheng hendak mengajak Feng Ai pergi dari jamuan itu, sebelum pada akhirnya ada suara yang menginterupsi keinginannya.
" Kembali duduk pangeran ke 5." suara Kaisar menggelegar di ruangan itu.
Feng Ai segera menarik kembali tangan suaminya agar segera duduk. Feng Ai punya rencana tersendiri, jadi jangan sampai sekarang ini suaminya itu merusak rencana yang sudah dia buat matang. Feng Ai kemudian membisikkan kata-kata yang bisa menurunkan emosi dari suaminya ini.
Gong Sheng berusaha untuk mengendalikan emosinya. Sungguh, datang ke tempat ini adalah pilihan yang sangat buruk. Lebih baik dia berkumpul dan berpesta dengan pasukannya daripada harus ke istana dan bertemu dengan penghuninya yang bermuka dua.
" Baiklah, acaranya kita lanjutkan." ujar kasim Mo setengah berteriak. Para penari yang awalnya berhenti pun kini kembali meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama musik.
Feng Ai melihat putra mahkota masih sibuk untuk memperbincangkan isu yang jelas tidak benar itu. Bukan Gong Sheng yanng memiliki pasukan rahasia, melainkan putra mahkota sendiri. Feng Ai pun akhirnya harus mengeluarkan jurus terakhir.
Sebelum sempat Feng Ai berucap, tiba-tiba saja ada sebuah panah yang melesat tepat di depannya dan mengarah ke singgasana. Dan entah sejak kapan, tiba-tiba saja Gong Sheng sudah berada di singgasana untuk menghadang panah tersebut yang hampir saja mengenai kaisar jika Gong Sheng tak menghadangnya.
" AAAAAAAARRRRGGGGGGHHHHHH." teriak Feng Ai langsung segera berlari ke arah suaminya yang kini bersimbah darah.
' Suami ku.... bangun suamiku.... Saya mohon tolong bangunlah. Saya mohon bangunlah suami ku." Feng Ai menangis ketakutan, sungguh ini tidak pernah terlintas dipikirannya. Melihat suaminya bersimbah darah di depannya.