
Langit di malam ini nampak sangat cerah dengan berhiaskan cahaya rembulan dan ribuan bintang. Nampak seorang pria duduk di kursi yang ada di samping sebuah danau. Pria paruh baya ini melamun dengan mata yang fokus melihat air danau yang memantulkan cahaya bulan.
" Jika kalian rindu aku, duduklah di tepi danau. Maka kalian akan merasakan bahwa aku bersama kalian. Kalian berjanji untuk melakukan itu kan?"
Suara anak remaja yang terlihat mengkhawatirkan adik dan tunangannya yang akan kabur dari desa mereka.
Kim Yozu, lagi dan lagi diliputi rasa bersalah dan penyesalan mendalam akan waktu yang selamanya tidak akan pernah bisa dia putar kembali. Waktu yang telah membawa senyuman dari dua gadis yang begitu dia cintai.
" Yang Mulia, orang yang anda nanti telah tiba.." lamunan Kim Yozu buyar ketika mendengar laporan dari orangnya.
" Persilahkan dia!!" titah Kim Yozu.
Tak lama kemudian, orang yang melapor pada Kim Yozu tadi kembali dengan seorang pria yang usianya mungkin sama dengan Kim Yozu. Pria paruh baya yanng masih tetap gagah meski jejak-jejak penuaan itu terlihat di wajahnya.
" Apa yang membawa anda kemari Yang Mulia. Jangan sampai orang Xili mengetahui kedatangan anda." sapaan dari pria paruh baya yang diundang Kim Yozu.
" Kenapa kau tidak bisa menjaganya dengan baik? Kenapa kau membiarkan saja wanita ular itu berada di dalam rumah tangga kalian? Kau ingin membuat Jia Li marah karena masih menyimpan nama kku dihatinya?" serentetan pertanyaan dilontarkan Kim Yozu pada pria paruh baya yang telah menjadi labuhan terakhir wanita yang dia cintai, Feng Ying.
" Anda sudah tahu? Maafkan saya Yang Mulia.." Feng Ying tertunduk penuh sesal. Dia sungguh tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang menjadi cinta pertama bagi istrinya itu.
" Aku membenci mu. Jika bukan karena putri mu yang begitu mirip dengan Jia Li, aku pasti sudah membuatmu menyesal telah membuat wanita yang paling aku cintai itu menderita dalam pernikahannya dengan mu." Kim Yozu menatap sengit Feng Ying yang ada di sampingnya ini.
Satu yang menjadi penyesalan dalam hidup seorang feng Ying adalah kehadiran wanita kedua di dalam biduk rumah tangganya. Karena kehadiran Li Wei yang mengaku telah mengandung anaknya, membuat Jia Li tidak lagi menatapnya dengan penuh cinta seperti ketika dia pertama kali bersamanya.
Sejak hadirnya Li Wei itulah, Jia Li mulai kembali memikirkan cinta pertamanya, tunangannya, yang ternyata masih menunggunya hingga hari itu, bahkan Feng Ying tahu bahwa Kim Yozu masih tetap mencintai Jia Li hingga saat ini.
" Kak Yozu, adalah pria yang paling bertanggung jawab yang pernah aku kenal. Andai peristiwa itu tidak terjadi, maka seharusnya kami sudah bersama saat ini."
Kata-kata Jia Li inilah yang pernah dia sampaikan pada ibu dari pangeran ke 5. Keduanya adalah wanita yang begitu mengagungkan Kaisar Goryeo ini. Karena menurut mereka, Kim Yozu adalah pria yanng bertanggung jawab dan penuh dengan cinta dan kasih sayang pada mereka.
" Aku memaafkan mu, sama seperti aku memaafkan Gong Yuan. Hanya demi Ai dan Sheng. Jika suatu hal buruk terjadi pada mereka berdua, aku bersumpah dengan kedua tangan ku sendiri, kalian akan aku hantarkan bertemu dengan dewa kematian.." setelah mengatakan itu Kim Yozu langsung meninggalkan Feng Ying seorang diri di tepi danau. Tepi danau yang menjadi awal mula penderitaan sekaligus kebahagiaan dari Jia Li dan Xia Nian.
------------------------------------------------------------------------------------
Sejak pertemuannya dengan paman dari Gong Sheng, entah mengapa hati Feng Ai terus merasa gundah dan sama sekali tidak bisa tenang. Dipikirkan seperti apapun, feng Ai masih tidak mengerti kenapa dia begitu terkenang dengan sosok paman dari suaminya itu.
Hingga hari ini pun, Gong Sheng juga belum mengatakan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga malam itu Kim Yozu menangis menyebut nama ibunya dan ibu Gong Sheng. Ingin menagih janji sang suami yang mengatakan akan menjelaskan semuanya. Namun dia tidak berani bertanya karena suaminya saat ini sedang disibukkan dengan pernikahan pangeran ke 3.
" Yang Mulia tidak ingin latihan?" Shihan yang khawatir dengan kondisi tuannya selama beberapa hari ini pun menawarkan sesuatu yang dia larang sendiri untuk tuannya lakukan.
" Mari kita ulangi dari pelajaran pertama saya hingga pelajaran terkahir yang saya ajarkan pada anda, Yang Mulia." pinta Shihan.
" Baiklah..." hanya itu yang keluar dari mulut Feng Ai yang biasanya sangat cerewet itu.
" Huft..... Sepertinya beban pikirannya saat ini sangat banyak sehingga untuk sekedar berceloteh saja Yang Mulia malas..." batin Shihan mengomentari sikap tuannya beberapa hari ini.
Meski dengan sikap yang malas-malasan, namun Feng Ai tetap melakukan seperti pa yang Shihan pinta tadi. Karena sejujurnya Feng Ai sangat senang karena bisa berlatih lagi, tapi segala beban pikirannya itu membuatnya kehilangan selera untuk melakukan apapun.
Sangat baik, itu yang bisa Shihan nilai dari semua yang telah dilakukan oleh tuannya itu. Semua yang dia ajarkan dicerna dengan baik oleh tuannya, sehingga hasil latihan mereka selama ini tidaklah sia-sia. Feng Ai mampu dengan baik mempraktekan ajaran yang Shihan berikan. Semangat yang selalu dihargai dan dicontoh oleh Shihan, yang hanya bisa tuannya ini tampilkan.
" Yang Mulia sangat hebat... Semuanya sempurna.." Shihan bertepuk tangan menyambut sang tuan.
" terima kasih Shihan.... Ehmm... Boleh.... Aku..... tanya sesuatu..." Feng Ai berucap dengan gagap.
" Silahkan Yanng Mulia. Jika saya tahu jawabannya maka saya pasti akan mengatakannya pada anda." Shihan tersenyum.
" Janji ya..." mata Feng Ai mengerjab dengan sangat lucu, membuat Shihan langsung mengangguk tanpa berpikir apa yang terjadi di depan mereka nanti.
" Apa yang kau ketahui tentang paman dari suami ku?" tanya Feng Ai terkesan sangat berani.
" Ehmmmmm.... Tuan besar adalah seorang yang anda pati tahu, identitasnya tidak sederhana seperti apa yang terlihat. Tuan besar, begitu menyayangi pangeran ke 5, dan berniat memboyong pangeran ke 5 ke tempat beliau." Feng Ai mendesah kecewa. Jawaban Shihan bukanlah apa yang ingin dia dengarkan.
Malas bertanya lagi, Feng Ai berpamitan pada Shihan untuk beristirahat dengan alasan kelelahan. Sepertinya, satu-satunya jalan adalah bertanya pada sang suami. Semoga saja, kali ini suaminya itu tidak akan menghindar lagi.
Feng Ai menunggu kepulangan sang suami, karena rasa penasarannya yang tinggi membuat tidurnya siang tadi sangat tidak nyenyak. Dengan senyum yang terlihat sangat menawan dan manis, Feng Ai menyambut kedatangan sang suami. Alis Gong Sheng bertaut, melihat apa yang dilakukan sang sitri tidak seperti biasanya.
" Belum tidur?" tanya Gong Sheng berjalan beriringan dengan sang istri memasuki rumah utama.
" Saya tidak bisa tidur.." jawab Feng Ai.
" Kenapa Ai? Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Gong Sheng yang mulai khawatir.
" Saya hanya ingin menagih janji anda yang mengatakan akan menceritakan semua yang terjadi ketika kita berdua sama-sama belum lahir." Feng Ai langsung berwajah serius karena itulah yang menggambarkan dirinya saat ini.
" Kita bahas di kamar ya... Ayo!!" keduanya kembali berjalan beriringan masuk ke kamar pribadi mereka.