
xia Tian sudah mencapai setengah jalan dari jarak yang seharusnya dia tempuh jika ingin sampai ke Goryeo. Namun fisiknya seolah tidak membiarkannya cepat untuk bisa sampai ke tujuannya. Faktor usia membuat Xia Tian jadi lambat untuk bisa segera sampai di ujung celah bukit yang menghubungkan Xili dan Goryeo itu.
" Huft... huft... kenapa aku jadi lemah begini? Kalau aku terus seperti ini, rakyat di desa dan pasukan keponakan ku akan tertimpa musibah. Aku harus bisa sampai ke Goryeo. Ya harus cepat sampai. " gumam Xia Tian menyemangati dirinya sendiri.
Meski sudah amat lelah, namun semangat yang dimiliki pria tua ini masih lah tak kalah dengan semangat anak muda. Demi desanya, keluarganya, dan yang paling penting demi sesuatu yang dijaga kakak angkatnya selama ini, Gong Sheng keponakannya.
Beberapa kali terjatuh, beberapa kali beristirahat, meski begitu Xia Tian tetap berjuang sampai titik terlemahnya demi bisa bertemu dengan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka semua.
Berada di dalam celah bukit membuat Xia Tian tidak tahu sudah seberapa lama dia berada disana. Yang bisa dia rasakan hanya kakinya yang mulai lemah dan tertatih karena terlalu lelah. Tapi dia merasa bahwa tempat yang dia tuju sudah dekat, karenanya dia bertekad tidak akan berlama-lama lagi di dalam sana.
" Aku harap kalian semuanya bisa bertahan samali aku datang bersama bantuan.. " ujar Xia Tian menatap lurus ke belakang. Ke arah desa tempatnya besar selama empat puluh lima tahun lamanya.
" Kak... Kau punya putra yang luar biasa. Dia mirip dengan diri mu dan juga beliau. Kalian sama-sama tidak akan menyerah dan rela mati demi menjaga apa yang menurut kalian penting. Terima kasih kau melahirkan pria yang luar biasa kak.. " monolog Xia Tian dalam hati. Fisiknya yang terlalu lelah membuatnya berhalusinasi, seakan dia terjebak di alam sadar dan tidak.
Sinar matahari masuk ke dalam jendela sehingga menyorot wajah seorang pria tua yang terbaring masih belum sadarkan diri. Sepertinya, karena kelelahan membuat tidur pria tua itu terlampau nyenyak. Seorang pria yang usianya sepertinya lebih tua jika dibandingkan pria yang terbaring itu, terlihat memasuki kamar tempa pria yang dikenalnya sedang istirahat.
" Masih belum bangun?" tanya pria itu pada orangnya.
" Belum Yang Mulia.." jawab anak buah pria itu.
Dalam alam bawah sadarnya, Xia Tian mendengar ada yang memanggil dengan sebutan yang mulia, sontak saja dia langsung berusaha untuk sadar. Ketika dia berhasil membuka matanya, dia sedikit terkejut karena tempat dimana dia terbangun bukanlah gua yang gelap. Matanya menatap sekitar, dikejutkan dengan sosok yang memang ingin sekali dia temui saat ini. Namun kesadaran masih belum penuh membuatnya mengira bahwa dirinya tengah berkhayal.
" Apa ini hanya khayalan ku saja? Kenapa aku melihat kakak angkat di sini?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
" Kau sudah sadar?" tanya sosok yang dia khayalan tadi.
" Kakak angkat, itukah anda? " Xia Tian langsung bangkit berdiri dan memberi hormat.
" Duduklah, aku tahu kau kelelahan. Tapi kenapa kau bisa berada di celah? Jika saja penjaga disana tidak masuk, maka kau tidak akan sadar di tempat ku.. " ujar Kik Yozu.
" Karena itu saya seharusnya bersyukur karena terbangun di tempat anda.. " ujar Xia Tian bersemangat.
Keduanya pun terlibat pembicaraan serius namun masih belum pada inti yang menjadi alasan Xia Tian datang ke Goryeo. Keduanya sibuk menceritakan masalah mereka hingga Xia Tian mulai membahas tentang desa dan berakhirnya dia teringat tujuannya.
" Kenapa aku bisa lupa? Sialan... " desahnya frustasi.
" Ada apa? " tanya Kim Yozu bingung
Degh... Degh...
Rahang Kon Yozu mengeras, tangannya terkepal erat. Batasnya naik turun menandakan dirinya sedang dalam keadaan emosi. Bisa-bisanya keponakannya, calon penerus tahta Goryeo dipermainkan oleh orang Xili.
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang? " tanya Kim Yozu yang tidak lagi bisa menutupi kekhawatirannya.
" Dia sudah membaik, namun tetap saja tidak bisa melakukan pertarungan. Waktu kita tidak banyak, banyak nyawa yang akan dipertaruhkan disini. Pasukan Gong Sheng hanya sepertiga pasukan miliknya. Mereka tidak akan bisa bertahan lama. " Xia Tian mendesak. Bodohnya dia malah bercerita hal tidak penting dan melupakan tentang tujuannya ke Goryeo.
" Tunggu dulu, pasukan ku tidak akan bisa datang tepat waktu jika benar desa sudah diserang. Kita harus memikirkan cara lain agar tidak terlambat. " Kim Yozu nampak berpikir serius mengenai masalah ini.
Jarak antara Goryeo dengan Xili jika melewati perbatasan, memakan waktu sekitar enam sampai tubuh hari dari posisi Kim Yozu saat ini. Jika melewati celah yang langsung menuju ke desa, pasukan mereka butuh waktu paling lama dua hari namun medan dalam celah itu jelas akan menguras semua tenaga pasukannya.
" Kita harus pergi ke desa yang ada di atas bukit. Kita bisa ke sana dalam waktu setengah hari, dengan begitu mereka pasti bisa langsung turun membantu desa. " setelah lama berpikir akhirnya Kim Yozu mendapatkan ide yang tidak bisa disebut terbaik.
" Bukankah desa bukit dengan Xili maupun Goryeo tidak akur. Apakah kita bisa meyakinkan mereka untuk membantu? " Xia Tian sangsi.
" Harus.... Kita tidak punya pilihan sekarang ini.
___________________________________________________
Penduduk desa dan pasukan Gong Sheng bersiap di tempat mereka masing-masing. Pasukan pangeran ke 4 dan putra mahkota telah tiba. Kurang seratus meter lagi maka pasukan lawan akan sampai ke desa. Semuanya yang ada di desa bagi wanita dan anak-anak, lari ke celah untuk bersembunyi. Tempat yang tersembunyi membuat tidak banyak orang yang tahu tentang celah bukit yang bisa membawa ke Goryeo.
Jika para wanita dan anak-anak bersembunyi, maka lain dengan para pria. Mereka bersiap untuk melakukan pertahanan, demi bisa melindungi keluarga dan juga desa. Mereka bertekad, jika pun mati maka mereka mati demi bisa membela desa dan masyarakatnya.
" Kalian harus yakin bahwa kita pasti menang.... " suara Gong Sheng menggema di desa itu. Suara yang selalu didengar pasukan Ri Yue setiap kali mereka bertarung.
" Ingat bahwa kelurga kita menunggu kita untuk membawakan kedamaian bagi mereka. Mari kita berjuang...... "
Suara pasukan Ri Yue dan penduduk desa menyerukan nama Gong Sheng sebagai pimpinan mereka. Gong Sheng menatap datar ke arah pasukan lawan akan tiba. Beruntung pasukan lawan mengerang di siang hari sehingga mereka tidak perlu mengalami kelelahan karena malam yang kacau.
Gong Sheng dapat melihat satu per satu pasukan lawan mendekat ke desa. Mata Gong Sheng terpejam, menyebut nama dewa perang, berdoa agar dirinya bisa dengan gagah berani memimpin pasukan melawan orang-orang jahat...
" Demi Xili...... "