The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 28



Feng Ai masih duduk di rerumputan bersama Shihan, di dekat air terjun yang akan menjadi tempat latihan untuknya.Keduanya saing dim, sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing. Suara gemericik air terjun, dan kicauan burung membuat Feng Ai menjadi rileks. Sejenak, suara dunia membuat beban di pundaknya menghilang, meski hanya sesaat.


Disaat Feng Ai masih asyik menikmati sajian alam yang alami di depan matanya. Gerakan Shihan yang berdiri membuatnya kembali ke alam nyata. Feng Ai kembali ingat apa tujuan mereka datang ke tempat ini. Mengikuti Shihan yang hendak memasuki sungai yang ada di dekat air terjun, Feng Ai menggulung celana dan juga lengannya. Memudahkannya bergerak dan juga agar tidak terlalu basah.


" Yang mulia, mari ikuti gerakan saya!" ajak Shihan.


" Baik." ujar Feng Ai sambil memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan energi dalamnya agar bisa mengalahkan energi air. Dengan begitu maka akan dengan mudah nantinya Feng Ai mengendalikan air.


" Yang mulia, latihan ini bergantung penuh pada kemampuan anda. Saya akan mengajarkan gerakannya, tapi selanjutnya adalah bergantung pada kemampuan anda. Saya adalah spiritualis tanah, jadi tidak bisa mencontohkan pada anda bagaimana mengendalikan kekuatan air alami." terang Shihan panjang.


" Baik. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Feng Ai memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Shihan memasang kuda-kuda yang sama saat dia melatih Feng Ai untuk menguasai energi yang ada di daam tubuhnya. Kedua tangannya diletakkan di depan dada mirip dengan orang yanng sedang berdoa. Shihan berkonsentrasi penuh, hingga tiba-tiba banyak pasir dan tanah yang berterbangan mengitari Shihan.


>" Pusatkan pikiran anda bahwa air ini dan anda adalah satu. Tenang, dan pusatkan sugesti anda di dalam alam bawah sadar anda, bahwa anda adalah air dan air ini adalah satu kesatuan dengan anda!" ujar Shihan memberikan arahan.


Feng Ai tak menanggapi perkataan Shihan, tapi tubuhnya melakukan sama seperti yang Shihan katakan. Feng Ai mulai memusatkan pikirannya pada air yang ada di depannya.Berulang kali dia berucap dalam hati bahwa dia adalah air, begitu berulang-ulang.


kriiikk....kriikk....kriikkk....


Tidak ada yang muncul atau bergerak mendekati posisi dimana Feng Ai berdiri. Feng Ai masih terus berkonsentrasi, namun dia tidak tahu bahwa dia sudah gaal dalam percobaan pertama. Mata Feng Ai yang terpejam membuatnya tidak menyadari bahwa sekarang ini Shihan sedang menahan tawanya melihat bagaimana wajah Feng Ai yang nampak seperti seseorang yang menahan untuk buang hajat.


" Hahahahah... Yang mulia, saya mohon... hahaha.... hentikan yang mulia...hahahah." Shihan yang sudah tidak mampu lagi menahan tawanya sampai berguling-guling di tanah.


" Eh.... Apa ada yang aneh?" tanya Feng Ai yang tidak paham dengan apa yang membuat Shihan menjadi tertawa.


" Wajah anda yang mulia, sangat lucu sekali. Saya tidak mampu menhan tawa saking terlihat sangat lucu dan aneh yang mulia." Shihan masih saja tertawa sampai memegangi perutnya yang sakit karena tawanya yang keras itu.


" Hish...." Feng Ai nampak malu sekali kali ini. Beruntung pria yang dia cintai tidak melihat betapa jeleknya wajahnya saat ini.


Setelah berhasil menguasai dirinya agar tidak tertawa lagi, Shihan mulai mencontohkan kembali bagaimana proses untuk bisa mengendalikan jenis elemen spiritualis nya. Mulai dari tarikan nafasnya, kuda-kudanya, lalu sejauh apa bayangan yang dikonsentrasikan agar bisa memiiki kemampuan untuk menaklukkan elemen spiritualis nya.


" Yang mulia, anda harus perhatikan setiap nafas yang keluar dan masuk ke dalam dada anda. Nafas dengan tarikan yang sempurna akan menghantarkan anda ke gerbang keluarnya kekuatan yang ad pada setiap manusia yang tersimpan di alam bawah sadar mereka.


" Shihan, rasanya ada sesuatu yang mengalir di tubuhku. Sesuatu yang sangat dingin sekali." ujar Feng Ai sedikit merasa tak nyaman dengan yang dia rasakan saat ini. Pengalaman pertamanya dalam hal ilmu beladiri.


" pertahankan yang mulia, itu adalah tanda yang diberikan oleh penguasa air untuk bisa menjadi satu dengan anda. Tenang dan rileks kan tubuh anda, jangan sampai konsentrasi anda terganggu. Jika sampai hal itu terjadi maka anda harus mengulangi dari awal lagi. " terang Shihan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Shihan, konsentrasi Feng Ai yang hampir menurun, langsung dia fokuskan kembali. Bisa sampai ke tahap ini saja adalah sebuah keberuntungan dan jika harus diulang kembali mungkin tidak akan ada keberuntungan lagi seperti saat ini.


Shihan kembali menyemangati Feng Ai untuk bisa menyelesaikan tahapan ini agar nantinya dia bisa segera naik tingkat 4. Sejauh yang dilihat oleh Shihan, tuannya ini sangat bersemangat terbukti bahwa hanya dalam waktu tiga minggu perkembangannya sangat pesat. Sebagai seorang guru yang mengajarkan ilmu pada muridnya, Shihan bisa merasa bangga karena muridnya ini sangat cerdas dan mampu mencerna semua pelajaran yang Shihan ajarkan.


" Mari kira beristirahat terlebih dahulu yang mulia. Istirahatkan sebentar badan Anda agar dalam percobaan berikutnya stamina anda fit dan bisa langsung menguasai pengendalian elemen anda ini. " ajak Shihan. Melihat tuannya bermandikan keringat, membuatnya menghentikan sementara latihan ini. Tidak tega juga melihat tuannya begitu kelelahan dan sudah hampir pingsan karena kepanasan dan kelelahan.


" Ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Melihat kalian bisa menguasai hal ini dengan cepat membuatkan berpikir bahwa latihan ini tidaklah sulit. Namun nyatanya aku telah diperdaya oleh mata. " ujar Feng Ai menertawakan dirinya sendiri.


" Anda nanti juga pasti bisa yang mulia, tinggal menunggu waktu saja. Tapi maaf, bisakah anda melakukannya lagi besok? Hari sudah sore yang mulia jika kita tidak pulang sekarang mungkin kita akan terjebak malam dan akan kesulitan keluar dari hutan ini. " terang Shihan mengajak untuk kembali.


" Baiklah. "


Keduanya membereskan barang-barang yang mereka bawa, kemudian melalui jalan yang sama dari saat mereka masuk tadi, kini mereka berjalan keluar. Semoga saja saat malam tiba mereka berdua sudah keluar sari hutan.


Sangat beruntung keduanya tepat keluar dari hutan saat langit juga baru malam. Mereka pun langsung menuju ke kediaman pangeran ke 5. Terlihat di depan gerbang kediaman itu sudah ada Yi Ye dan Hui Li yang menantikan kepulangan nyonya mereka itu.


" Kenapa sampai malam baru pulang, bagaimana jika terjebak di dalam hutan? " tegur Yi Ye pada Shihan.


" Jangan marahi dia paman, ini semua salahku yang terlalu sibuk berlatih hingga tidak kenal waktu. " ujar Feng Ai menenangkan kepala pelayan kediaman pangeran ke 5 itu.


" Mohon lain kali anda lebih memperhatikan waktu nyonya, kami bisa kena marah tuan jika terjadi sesuatu yang buruk anda. "


Feng Ai langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan kemudian langsung beristirahat. Besok dia akan mulai berlatih lagi bersama Shihan. Semoga besok bisa berjalan lancar, itu doa Feng Ai sebelum menutup kedua matanya.