
Perwakilan dari istana pun kini sudah waktunya untuk kembali ke istana setelah mengucapkan belasungkawa mewakili kaisar dan permaisuri. Sebelum kembali ke istana putra mahkota menyampaikan undangan kepada pangeran ke 5 dan juga istrinya untuk datang ke istana menghadiri jamuan makan malam untuk menyambut kemenangan dari pasukan yang dipimpin oleh pangeran ke 5 sehingga mendapatkan kemenangan melawan para perompak.
" Kalian harus datang karena kalian adalah bintang utamanya. Ingat itu." ujar putra mahkota mengingatkan adik dan adik iparnya untu memenuhi undangan dari kaisar.
" Tentu kakak pertama, kami pasti akan datang. Selamat jalan, hati-hati sampai ke tujuan kalian." Gong Sheng membungkuk mengantarkan saudaranya kembali ke istana.
" Suami ku, apa anda menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Feng Ai sesaat setelah mereka memasuki gerbang pintu kediaman Feng.
" Maksudnya... maksudnya bagaimana ya?" Gong Sheng sedikit tergagap karena terkejut.
" Jika aku tidak bertanya tentang tahanan yang pasukan anda bawa pulang ke ibukota, kira-kira dengan cara apa anda akan memancingnya?" tanya Feng Ai setengah menyindir.
" Apa Ai ku sudah tahu?" tanya Gong Sheng menggoda.
" Tentu saja saya tahu. Apa yang tidak putri kediaman Feng ketahui." ujar Feng Ai besar kepal.
Gong Sheng pun menceritakan permasalahan yang terjadi saat keberangkatannya ke perbatasan. Mereka diserang oleh kelompok orang dan kemudian berhasil menangkap ketua dari kelompok yang menyerang pasukan Ri Yue. Berbagai cara digunakan agar tahanan itu mengatakan siapa yang berada di balik penyerangan ini, hingga dengan diancam tentang keluarganya, tahanan itu pun mengatakan siapa dalangnya.
Meski hanya mengatakan bahwa orang yang memerintahkannya adalah orang yang memakai pakaian sutra dan merupakan seorang bangsawan. Dari situ Gong Sheng menyimpulkan bahwa dalang dibalik penyerangan itu adalah orang yang tinggal di ibukota, dan bisa saja tinggal di istana. Sepengetahuan dari Gong Sheng, bangsawan yang tinggal di ibukota hanya sedikit yang memiliki pakaian yang terbuat dari sutra dengan kualitas terbaik. Salah satunya adalah penghuni istana.
Gong Sheng tidak memiliki masalah dengan bangsawan di ibukota karena pengaruh dari gurunya yang adalah ayah dari istrinya sekarang. Satu-satunya orang yang memiliki masalah dengannya adalah pihak dari permaisuri. Dan putra mahkota termasuk dalam pihak permaisuri yang adalah ibundanya.
Tak disangka langit kini sudah berganti gelap. Banyak bintang yang bertaburan di langit karena kebetulan cuacanya sangat cerah, meski sudah malam. Feng Ai duduk di paviliun kecil, menikmati keindahan malam. Pikirannya tertuju pada jamuan makan malam yang akan di adakan di istana, dan Feng Ai tahu apa yang akan terjadi di dalam perjamuan makan malam itu.
Otaknya dipaksa untuk berpikir keras agar bisa mendapatkan ide yang pasti bisa menggagalkan rencana dari pihak lawan. Tapi sampai detik ini, satu pun ide tidak terlintas di otaknya. Haruskah dia bertanya pada Yi Ye, tapi merasa tidak enak juga. Lebih khawatir jika sampai Yi Ye bertanya yang terlalu detail tentang perjamuan makan malam itu.
" Apa yang sedang kau pikirkan?" kehadiran Gong Sheng mengagetkan Feng Ai.
" Anda sudah membuat saya jantungan, bagaimana kalau say mati muda karena sakit jantung." kesal Feng Ai.
" Hush.... Tidak boleh bicara tentang kematian. Tapi jawab dulu pertanyaan ku. apa yang kau pikirkan sampai tidak ingat bahwa ini sudah waktunya untuk tidur." tanya Gong Sheng, mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab oleh sang istri.
" Tentang perjamuan makan malam. Menurut nada, apakah putra mahkota dan pangeran lainnya akan bertindak?" tanya Feng Ai sebagai jawaban dari pertanyaan Gong Sheng.
Mereka pun segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Besok, mereka akan berkeliling pasar hanya sekedar untuk menghabiskan waktu berdua saja. Feng Ai akhirnya menunda latihannya, karena sang suami belum aktif di barak lagi. Nanti mungkin setelah suaminya kembali ke barak bersama pasukannya, Feng Ai akan mencuri-curi waktu untuk bisa berlatih.
Di dalam ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama, kedua insan yang saling merindu itu akhirnya bisa melampiaskan kerinduan mereka dengan menciptakan malam panas yang jauh lebih panas dari ketika malak pertama mereka. Kamar itu dihiasi suara dua anak manusia yang sedang memadu kasih.
Entah berapa kali mereka melakukan, dan sampai jam berapa mereka baru selesai, yang jelas ketika matahari sudah sangat tinggi, keduanya belum keluar kamar sama sekali. Para pelayang di kediaman Feng saling berbisik membicarakan nona mereka yang sedang hangat-hangatnya hubungan pernikahannya.
" Ah... apa ini sudah siang? Terang sekali. " Feng Ai terbangun karena cahaya matahari tepat mengenai wajahnya. Wajah yang sebelumnya bersandar di dada bidang milik suaminya yang tampan dan gagah itu.
" Ehggg... " terdengar lenguhan dari mulut pria yang berada di samping Feng Ai, siapa lagi kalau bukan suaminya.
" Sayang..? " panggil Gong Sheng. Dia kemudian mengambil posisi duduk untuk mengumpulkan semua nyawanya yang masih berterbangan ke langit ke tujuh karena kenikmatan yang dia rasakan hingga hampir pagi tadi.
" Sudah bangun? Suami ku, pinggang saya sakit sekali. Anda mengajak saya berkeliling pasar ibukota, tapi Anda membuat saya bahkan bangun dari tempat tidur saja tidak bisa. " omel Feng Ai. Mendengar dari sang istri, Gong Sheng terkekeh.
" Apa aku sedang dimarahi oleh istri ku yang cantik ini? "tanya Gong Sheng menggoda. Sungguh, istrinya ini sangat cantik saat sedang cemberut begini. Gong Sheng dibuat gemas.
" Mari kita mandi dengan air hangat saja, lalu setelahnya kita makan. Sore nanti kita akan jalan-jalan. Aku dengar akan ada pesta topeng di jalanan pasar. " ajak Gong Sheng. Dia mengangkat tubuh sang istri lalu dibawanya menuju ke kamar khusus untuk mandi.
" Baiklah. Kita sore nanti akan jalan-jalan. " ujar Feng Ai setuju.
Para pelayang dan sayang di kediaman pangeran ke 5,senyum-senyum sendiri saat melihat nyonya dan tuan kediaman ini baru keluar dari kamar padahal sudah siang hari. Matahari bahkan sangat terik sekali.
Para pelayan langsung berlarian menuju ke dapur untuk mengatakan pada pihak dapur agar segera mempersiapkan makanan untuk tuan dan nyonya mereka. Dengan sigap koki ke kediaman pangeran ke 5 ini memasak makanan yang bisa digunakan untuk menambah stamina, juga sangat baik untuk kesehatan wanita. Siapa tahu penerus dari pangeran ke 5 segera lahir dan akan meramaikan kediaman Man Yue.
" Selamat siang tuan dan nyonya. Sepertinya Anda menikmati malam kemarin? " ujar Yi Ye menggoda tuannya. Tidak dia sangka tuannya ini benar-benar perkasa jika urusan ranjang. Bahkan cara berjalan nyonya nya pun sangat lucu sekali.
" Tentu saja paman, sepertinya paman harus menikah agar tahu bagaimana rasanya. " sindir Gong Sheng.
" Hahahahaha, saya lebih nyaman sendiri tuan. Dengan saya sendiri saya bisa menggoda tuan. " ujar Yi Ye dengan maksud mengejek.
Keduanya nampak tertawa bersama, sudah seperti anak dan juga ayahnya saja hubungan diantara kedua orang ini. Gong Sheng yang tidak pernah sedikitpun membedakan seseorang hanya dari asal keluarganya, selalu menghormati yang lebih tua, dan ringan tangan, membuat seluruh pekerja di rumah ini merasa seperti keluarga.