The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 59



Feng Ai dengan sabar menanti kedatangan sang suami. Entah kenapa kali ini dia ingin dibuatkan bubur ayam oleh suaminya. Sudah ada beberapa koki, dan Yi Ye sendiri menawarkan untuk membuatkan makanan yang sedang Feng Ai inginkan. Namun Feng Ai terus saja menolak, dia bilang hanya ingin Gong Sheng yang membuatkan untuknya.


Hari sudah makin gelap, namun Gong Sheng masih juga belum pulang. Hal ini membuat Feng Ai kesal setengah mati, apalagi sejak siang tadi dia tidak makan karena keinginannya yang memakan masakan dari Gong Sheng. Karena kesal, Feng Ai pun memilih tidur saja daripada semakin kesal karena suaminya tak kunjung pulang.


Yi Ye langsung berlari ke arah gerbang kediaman pangeran ke 5, kala mendengar suara kuda mendekat. Yi Ye tahu itu pastilah sang tuan, karena Yi Ye sudah hafal dengan suara khas kuda milik tuannya itu.


" Selamat datang tuan... " sapa Yi Ye menyambut kedatangan Gong Sheng.


" Terima kasih paman. Dimana Ai? " tanya Gong Sheng. Matanya menelisik setiap sudut kediamannya tapi tidak menemukan sang istri. Padahal sang istri selalu menyambutnya setiap kali dia pulang ke kediaman.


" Nyonya sudah tidur tuan. Sejak siang nyonya ingin memakan bubur ayam buatan anda, jadi nyonya tidak makan sejak siang tadi. Tidak tahu jika anda malam ini akan pulang terlambat. " adu Yi Ye.


" Dia pasti marah kan? " tanya Gong Sheng. Pertanyaan konyol yang seharusnya tidak usah dia tanyakan pun pasti dia sudah tahu jawabannya.


" Nyonya memilih tidur untuk meredam emosinya tuan. Saya sarankan agar tuan mau menuruti keinginan dari nyonya agar emosi nyonya tidak semakin bertambah. "


" Ibu hamil memiliki emosi yang tidak menentu tuan. Jadi tolong tuan lebih bersabar dan mau menuruti semua keinginan nyonya. " panjang kali lebar Yi Ye memberikan petuah untuk sang tuan.


" Tapi bagaimana paman tahu itu semua sedangkan paman belum menikah? " sarkas Gong Sheng.


" Saya sering melihat dulu tuan Feng melakukan seperti apa yang saya lakukan ketika Nyonya masih dalam kandungan. " jawab Yi Ye sedikit sombong. Bagaimana pun usia Yi Ye lebih tua dari pangeran ke 5, hal ini tentu saja membuatnya memiliki pengetahuan lebih banyak dari tuannya ini.


Meski dengan menggerutu, namun Gong Sheng tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Yi Ye. Gong Sheng berjalan ke dapur untuk membuatkan Feng Ai bubur ayam lezat buatannya. Semoga saja dengan bubur ayam ini, Feng Ai mau memaafkan kesalahannya yang pulang terlalu malam. Ini semua karena dia yang menyiapkan segala keperluan pamannya yang akan bertandang ke tempatnya.


Feng Ai mencium bau yang mengenakan berada di dalam ruangannya. Feng Ai pun berusaha untuk terbangun dari tidurnya, meskipun dia mengantuk namun perutnya yang belum terisi dari siang meronta ingin segera diisi ketika dia mencium bau yang begitu sedap.


" Ai sudah bangun? Ini aku buatkan untuk mu bubur ayam sesuai dengan yang kau inginkan. Ada juga beberapa cemilan yang aku buat untuk mu. Makan ya! " bujuk Gong Sheng.


" Saya makan karena tidak ingin menyia-nyiakan makan ini. Tapi saya masih marah pada anda yang pulang terlalu larut. " Feng Ai melirik sinis ke arah Gong Sheng lalu mulai memakan makanannya.


Berulang kali bibir Feng Ai memuji kelezatan bubur ayam buatan sang suami. Rasa marah dan kesalnya tadi sekarang sudah hilang karena disihir oleh kelezatan masakan Gong Sheng.


Melihat istrinya begitu lahap memakan bubur dan cemilan khusus yang dia buat, Gong Sheng tersenyum puas. Tidak sia-sia dia mendengarkan Yi Ye berulang kali mengomel jika hasilnya bisa membuat sang istri senang karena lezatnya hasil olahannya.


" Apa Ai mau lagi? " tanya Gong Sheng setelah semua makanan di atas meja tandas oleh sang istri.


" Masih, aku akan meminta pelayan untuk membawanya kemari. Ai tunggu saja di kamar ya. " Gong Sheng langsung beranjak untuk menemui pelayan yang sedang berdiri di depan kamar mereka. Gong Sheng meminta para pelayan membawakan bubur yang istrinya pinta.


Tak terasa sudah beberapa mangkok bubur yang Feng Ai makan. Dan karena kekenyangan, Feng Ai sampai tertidur, padahal dia belum membersihkan dirinya setelah makan. Gong Sheng tak mempermasalahkan hal tersebut langsung menggendong Feng Ai membawa ke ranjang mereka.


Gong Sheng didera rasa lelah yang teramat besar, dan akhirnya membuatnya memilih berbaring di samping sang istri daripada mengerjakan laporan yang ada di ruang kerjanya.


Malam semakin larut, dua insan manusia ini sama-sama mengarungi mimpi indah mereka. Dan malam pun berganti dengan pagi keesokan harinya. Hari baru yang akan disambut Feng Ai dan Gong Sheng..


Feng Ai bermimpi, namun kali ini adalah mimpi yang indah. Feng Ai kini merasa berada di sebuah bangunan yang sama sekali tidak dia kenali. Sebuah bangunan yang di dekatnya terdapat sebah danau yang begitu indah dengan banyak pohon kamboja di sekelilingnya. Sungguh sangat indah.


Dari kejauhan Feng Ai melihat Gong Sheng sedang berjalan dengan dua orang pria yang usianya lebih tua darinya. Pria yang pertama menggenakan pakaian seperti pria tua pada umumnya dan seorang pria lagi memakai pakaian yang mirip dengan seorang Kaisar. Namun kedua pakaian itu sungguh modelnya sama sekali bukan model pakaian orang Xili.


" Apa yang kau lamunkan Ai?" tanya Gong Sheng yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


" Ini dimana?" tanya Feng Ai.


" Ini di istana milik paman ku. Bagaimana menurut mu, indah bukan?" jawab Gong Sheng. Dan mendengar jawaban dari sang suami justru semakin membuat Feng Ai kebingungan.


" Suatu saat kita akan tinggal di sini. Setidaknya sampai aku tahu siapa orang yang telah membunuh ibuku. Bila saat itu tiba, aku akan senang jika kita bisa pindah kemari. Tempat dimana ibu ku tumbuh dewasa menjadi gadis yang sangat cantik." terang Gong Sheng.


" Apa yang terjadi pada ibunda anda?" tanya Feng Ai penasaran.


" Apa yang terjadi? Kenapa masalah ini tidak muncul di novel yang aku baca?" batin Qiaofeng panik.


" Yang jelas, kematian ibu ku ada campur tangan dari penghuni harem lainnya. Aku harus tahu apa yang terjadi saat dulu. Kenapa bisa pendarahan ibuku tidak bisa dihentikan hingga akhirnya beliau meninggal."


Feng Ai sedikit gusar dalam mimpinya. Apakah ini mimpi atau memang penggalan dari novel ini tapi yang jelas Feng Ai tidak tahu. Apakah novel ini memiliki cerita lain yang Feng Ai tidak ketahui. Namun yang paling membuat Feng Ai menjadi ketakutan adalah jika dalam versi ini, suaminya akan tetap mengalami kematian seperti versi yang sudah dibacanya.


Rasa ketakutan itulah yang membawa feng Ai terbangun saat hari masih gelap. Ketika dia bangun, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah damai dari suaminya. Feng Ai mengusap pipi Gong Sheng pelan agar tidak membangunkannya.


" Apa pun versi ceritanya, aku pasti akan melindungi mu."