
Di desa perbatasan, nampak seluruh pasukan milik pangeran ke 5 telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ibukota. Semua masalah di desa ini sudah selesai, kini saatnya bagi seluruh pasukan pangeran ke 5 untuk kembali bertemu dengan keluarga mereka yang ada di ibukota dan desa-desa di sekitarnya.
Liancheng nampak berat untuk melepas kepergian tuannya juga teman seperjuangannya. Tapi Liancheng memahami bahwa teman seperjuangannya ini masih lah berada di masa pengantin baru. Jadi pasti sedang rindu-rindunya dengan istri yang menanti di kediaman Man Yue di ibukota.
" Selamat jalan yang mulia, semoga selama perjalanan sampai ke ibukota anda dan seluruh pasukan selamat. Maaf saya tidak bisa mengantar, karena pasti saya tidak akan mau kembali lagi kemari... Huaaaa...... " Liancheng menangis meraung-raung. Jujur kalau boleh memilih, dia pasti akan memilih menjadi bawahan Gong Sheng tapi tinggal di ibukota. Daripada sebagai jendral tapi harus mengungsi di perbatasan.
" Kau itu menjijikkan sekali. Seorang jendral perang menangis, di depan seluruh pasukan mu lagi. Dimana wibawamu... " tegur Mingye setengah mengejek juga.
" Aish.... Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku, kau mau bertukar tempat dengan ku? " rengek Liancheng.
" Maaf anda adalah Jendral, sedangkan saya hanyalah ketua tim pasukan Ri Yue. Sungguh tidak pantas bagi saya jika sampai saya menggantikan posisi anda tuan ku. " jika orang lain yang mendengar itu seperti bentuk hormat bawahan pada atasan. Tapi bagi Liancheng itu adalah ledekan yang sengaja Mingye lontarkan untuknya.
" Sudahlah... Kalian ini lama tak berjumpa tapi selalu saja bertengkar setiap hari. Kau sudah cocok di sini Liancheng, aku juga sedikit keberatan jika kau menjadi bawahan ku. Kau adalah prajurit Xili yang kuat dan cocok dengan jabatan mu sebagai Jendral. Jadi syukuri saja apa yang ada, jangan banyak mengeluh. Lihatlah anak buahmu, mereka juga sama denganmu tidak ingin berada di sini. Tapi demi keluarga mereka, sehingga tinggallah mereka di sini. Karena dari sinilah awal peperangan, dan jika kalian menang, maka tidak akan banyak korban berjatuhan. " Gong Sheng memberikan petuah pada mantan rekan kerjanya.
Liancheng langsung manyun saat teman sekaligus atasannya itu justru mendukung dia ada di perbatasan. Sama-sama pernah di bawah naungan jendral yang sama, juga merupakan murid dari Feng Ying, membuat Gong Sheng dan Liancheng saling kenal. Meski begitu Lianceheng tidak pernah melupakan siapa dirinya dan siapa Gong Seng itu.
" Sudah!! Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Semu pasukan mu melihat diri mu. Tidak kah kau malu pada mereka, bagaimana bisa seorang pimpinan bersikap seperti anak kecil seperti mu!" tegur Mingye.
" Ck... Kau tidak tahu bagaimana rasanya berada di sini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku>" kesal Liancheng.
" Dengar ya, aku sangat tidak ingin mau tahu dengan semua derita mu." sentak Mingye.
Gong Sheng hanya bis tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah anak buah dan teman lamanya itu berdebat. Rasanya kembali seperti dulu saat mereka masih sama-sama menjadi prajurit di bawah naungan Jendral Han. Jendral yang membawa banyak sekali prestasi untuk Xili, namun gugur dalam peperangan lima tahun yang lalu. Setelah itu, Gong Sheng lah yang diangkat untuk menggantikan posisi jendral Han.
Gong Sheng dan semua pasukannya meninggalkan perbatasan dengan perasaan bangga dan senang karena pada akhirnya masyarakat di desa itu telah dapat hidup dengan baik stelah ini. Banyak rakyat di desa perbatasan mengantarkan pasukan milik pangeran ke 5 itu sampai keluar dari wilayah desa mereka memasuki hutan. Para penduduk desa perbatasan melambaikan tangan mereka, sebagai bentuk perpisahan.
Jarak yang ditempuh dari perbatasan ke ibukota membutuhkan waktu ebih dari tujuh hari. Meski saat berangkat mereka bisa sampai dalam waktu enam hari, tapi entah untuk kali ini. semoga saja tidak ada halangan seperti saat pasukan milik pangeran ke 5 ini berangkat dari ibukota.
Sudah ada satu nama yang dicurigai oleh Gong Sheng, bahkan dia yakin orang itu pelakunya. Meski belum ada bukti yang mengarah pada orang itu,tapi setahu Gong Sheng hanya orang itulah yang mengincar dirinya selama ini. Gong Sheng ingin melihat sendiri bagaimana ekspresi wajah dalang penyerangan itu jika dipertemukan dengan orang suruhannya yang akan dihukum penggal.
" Tuan ku. apa yang akan anda lakukan dengan tahanan itu?" tanya Mingye. Dia menunjuk tahanan mereka dengan dagunya.
" Aku akan membuat kejutan yang seru pastinya. Kenapa kau bertanya?" tanya Gong Sheng.
" Apakah anda masih yakin bahwa orang itu yang selama ini berada dibalik banyaknya orang-orang yang mengancam diri anda tuan?"
" Hm... Apakah menurut mu ada orang lain yang mengincar ku selain dia? Pasti jawabannya tidak ada. Aku sudah terlalu lama mengalah, tapi jika dia masih belum melewati batas kesabaran ku, maka aku tidak akan bergerak."
" Aku akan mendukung anda tuan." ujar Mingye. Dia tahu siapa yang sedang mereka berdua bicarakan. Dan dia juga tahu batas kesabaran yang dimaksud tuannya itu adalah putri dari kediaman pangeran ke 5, Feng Ai.
" Kalian semua siaga lah, aku merasa dia akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan ku. Dan selidiki hutan yang menjadi tempat latihannya, cari bukti sebanyak mungkin." titah Gong Sheng.
" Baik tuan." Mingye menunduk menerima titah dari tuannya.
Perjalanan kembali dilanjutkan dalam diam, tidak adalagi obrolan, mereka hanya berjalan menjauh dari daerah perbatasan menuju ke jalanan di dalam hutan yang mereka biasa lewati untuk pergi ke ibukota.
Gong Sheng memacu kuda putihnya dengan pelan, tak ingin cepat dan meninggalkan pasukannya. Sambil menikmati keindahan alam yang tersaji, Gong Sheng dan pasukannya menuju ke ibukota.
Di tempat lain, yang sangat jauh dari tempat Gong Sheng dan pasukannya, nampak seorang pria tengah berjalan mondar mandir begitu mendengar bahwa pangeran ke 5 akan kembali ke ibukota membawa kemenangan. Dia rasanya sudah kehabisan cara untuk menjebak Gong Sheng, agar dibenci oleh Kaisar dan rakyat. Lalu dia akan di buang ke desa pembuangan, desa bagi para pelaku kejahatan kejam yang tidak bisa disatukan kembali dengan penduduk lainnya.
Pria ini terus berpikir cara seperti apa lagi yang akan dia gunakan untuk membuat Gong Sheng menjadi buruk di mata orang-orang yang salam ini begitu mengaguminya. Hingga dia terpikirkan dengan sebuah ide yang pasti akan mempermalukan Gong Sheng di depan semua anggota istana. Terlebih lagi di depan kaisar dan ibu suri agung.