
Feng Ai masih menangis dalam pelukan suaminya ketika mengantarkan jasad sang ibunda ke pemakaman. Rasanya baru sebenar dia merasakan kasih sayang dari seorang ibu, namun dengan cepat Sang Pencipta, mengambil ibundanya untuk meninggalkan dunianya.
Gong Sheng tidak ada hentinya mengusap punggung feng Ai untuk mengurangi sesak di dada istrinya itu. Mendengarkan tangisan dari istrinya, sungguh hati Gong Sheng ikutan hancur. Berulang kali Gong Sheng mengucapkan kata-kata penyemangat. Kening Feng Ai pun terus merasakan kecupan dari suaminya ini.
Feng Ai duduk termenung di depan kamar pribadinya di kediaman Feng. Di sinilah biasanya dia dan juga ibundanya bercerita tentang sehari-hari. Feng Ai bahkan juga sering bercerita tentang Gong Sheng pada ibundanya. Feng Ai selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai pria bernama Gong Sheng itu pada sang ibunda.
Feng Ai terus mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Entah sudah berapa kali kedua tangannya bergerak menghapus air mata yang tidak ada hentinya mengalir itu. Dari kejauhan, Gong Sheng melihat sang istri seperti kehilangan' setengah jiwanya. Ingi rasanya dia meringankan kesedihan istrinya itu. Namun Gong Sheng tidak memiliki cara untuk menghapus kesedihan seorang anak yang kehilangan ibunya.
" Yang mulia, apa yang sedang anda lakukan di sini? Kenapa tidak masuk ke kamar nada?" tanya feng Ying.
" Ayahanda." Gong Sheng terkejut. " Saya ingin memberikan waktu pada Feng Ai , untuk bisa menenangkan hatinya. Sungguh saya tidak tahu harus berbuat pa, kerena sejak awal saya memang tidak memiliki ibunda, jadi saya tidak tahu harus bagaimana." ujar Gong Sheng mengeluarkan unek-uneknya.
" Kenapa anda merasa seperti itu yang mulia? Feng Ai pasti bisa melewati semua ini dengan baik nantinya." ujar Feng Ying. Dia tahu bahwa putrinya ini sangat kuat. Pasti lambat laun akan bisa merelakan kepergian ibundanya.
Gong Sheng merenungkan ucapan ayah mertuanya. Memang Feng Ai yang sekarang ini dia temui jauh lebih tegar dari yang dulu. Jika dulu, sudah pasti dia akan menangis histeris sepanjang hari karena kehilangan ibundanya. Namun dalam penglihatan Gong Sheng yang sekarang, sungguh istrinya ini sangat tabah sekali.
Gong Sheng meminta pada pelayan di rumah ini untuk menyiapkan teh melati dan buka cemilan kesukaan Feng Ai. Gong Sheng ingin menemani istrinya ini untuk hanya sekedar berbincang demi bisa melepaskan rasa hati yang sedang sedih itu.
" Ai, kenapa sendiri? Dimana Hui Li?" tanya Gong Sheng yang langsung mengambil duduk di depan Feng ai, yang hanya terhalang meja bundar.
" Hui Li pasti di dapur, dan aku memang ingin sendiri dulu saat ini. Apa kak Sheng butuh sesuatu?" tanya Feng Ai.
" Aku butuh di sini menemani mu, apakah boleh?" ujar Gong Sheng.
" Tentu saja boleh, kebetulan aku sedang ingin mencari teman bicara saat ini." jawab Feng Ai tersenyum.
Gong Sheng mengusap pelan pipi istrinya ini, dan dapat dia rasakan pipi itu setengah basah. Berarti untuk beberapa wakt lalu sebelum Gong Sheng duduk di sini, Feng Ai masih menangis. Ganti diusapnya punggung tangan Feng ai, lalu digenggamnya erat tangan istrinya ini untuk menguatkan sang istri.
Tak lama Hui Li datang membawa apa yang pangeran ke 5 pinta tadi. Teh melati dengan camilan bulan kesukaan feng Ai. Setelah meletakkan hidangan itu di meja, Hui Li segera berpamitan untuk kembali ke dapur. Hui Li tau bahwa nyonyanya ini sedang butuh waktu bersama sang suami untuk hanya sekedar bersandar.
Gong Sheng memberikan cangkir berisi teh pada feng Ai. Membantu sang istri untuk minum,agar sang istri mau meminum karena jika dipinta sendiri untuk meminum pastinya istrinya ini tidak segera meminumnya.
" Hem... Tapi entah mengapa hati ku sedikit hampa." jawab Feng Ai. Pandangan meeka berdua bertemu, Gong Sheng melihat mata istrinya ini sudah sangat sembab, mungkin terlalu lama menangisi kepergian ibunda tercintanya. Feng Ai menatap mata Gong Sheng, dan dari mata itu dirinya tah bahwa suaminya ini sedang sangat khawatir padanya. Feng Ai tiba-tiba merasa tidak enak telah membuat suaminya yang masih kelelahan akibat perjalanan jauh itu menjadi khawatir.
Keduanya diam sesaat, tidak ada yang ingin mengucapkan barang sepatah kata saja. Feng Ai yang masih dalam masa berkabungnya, sedangkan Gong Sheng bingung harus memulai pembicaraan ini dari mana. Keduanya sama-sama canggung untu sepersekian detik samai Gong Sheng memberanikan diri untuk mengucapkan apa yang menjadi pikirannya.
Sebelum berucap, terlebih dulu Gong Sheng membasahi tenggorokannya dengan teh hangat yang ada di depannya itu. Semoga saja dengan dibasahi terlebih dahulu, nantinya tenggorokannya ini tidak akan tercekat.
" Ai, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Gong Sheng. kedua matanya mengikuti ke arah mana sang istri melihat. Nampak beberapa ekor burung terbang berkelompok.
" Tentang ibunda. Rasanya baru kemarin kami duduk di sini dan menceritakan semua yang kami alami. Baru sebentar, tapi aku sudah begitu merindukan ibunda." jawab Feng Ai sendu.
" Pernahkah kau berpikir bahwa ibunda mu akan bersedih bahkan menangis jika kau disini menangis? Ayahanda ku selalu mengatakan hal itu.Ibu sudah berada di tempat yang sangat indah dan hidup dengan bahagia di sana menantikan kedatangan kita. Namun jika kita yang ada di dunia ini terus menangisi kepergiannya, kira-kira menurutmu ibunda kan sedih atau tidak?" ujar Gong Sheng seperti sedang menenangkan anak kecil agar tidak menangis lagi.
" Benarkah? Jika benar seperti itu aku tidak akan menangisi bunda lagi. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk bunda di sana." ujar Feng Ai. Nampaklah senyum yang akhirnya terbit setelah seharian ini terbenam oleh kesedihan.
" Tentu saja itu benar. Bagus jika kau berniat seperti itu. Ibunda kita yang ada di sana lebih membutuhkan doa dari kita dibandingkan dengan air mata kita. Sekarang kau mengerti?"
" Hm... Terima kasih karena kau mengatakan hal ini kepada ku. Bisa-bisa ibunda akan marah pada ku jika aku terus menangis." ujar Feng Ai. Dibalas anggukan oleh Gong Sheng. Senang melihat istrinya kembali tersenyum setelah seharian ini nampak bersedih dan putus asa.
Keduanya kembali mengobrol hal-hal ringan yang lucu dan menyenangkan. Hal ini diyakini dapat memperbaiki kala hati sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Terbukti, Feng Ai mulai bisa tertawa dan juga melontarkan kalimat-kalimat yang lucu. Dalam diam Gong Sheng tersenyum melihat keceriaan istrinya ini kembali.
Sedang asyiknya mengobrol, Shihan datang menyampaikan bahwa perdana menteri kanan, meminta Gong Sheng dan juga Feng Ai ke aula tengah di kediaman Feng untuk menyambut perwakilan dari istana.
" Siapa wakil dari istana?" tanya Gong Sheng sedikit penasaran. Meski dalam hati dia sudah menduga-duga.
" Putra dan putri mahkota, serta pangeran ke 2 dan ke 4." jawab Shihan menundukkan kepalanya.
" Baik, mari kita sambut mereka. Bukankah mereka sudah jauh-jah datang dari istana. " Gong Sheng tersenyum kecut.