
Pasukan Ri Yue kini telah melewati Xili wilayah bagian timur. Hanya tinggal melewati tiga desa saja maka mereka akan sampai di ibukota. Kini mereka sedang beristirahat di tengah hutan dekat dengan sungai yang bisa digunakan mereka sebagai sumber air. Sengaja juga memilih beristirahat di hutan, karena tempat ini merupakan sumber makanan dan juga terdapat sumber mata air di dalamnya.
Pasukan Ri Yue telah selesai membangun tenda untuk mereka semua beristirahat. Kini saatnya mereka memasak hasil buruan yang sudah anggota lainnya dapatkan tadi. Ada rusa hutan juga beberapa merpati dan juga kelinci yang bisa mereka masak sebagai menu makan mereka malam nanti.
" Kalian bagi untuk memasak bahan ini, lainnya berjaga. Pengalaman kita pernah diserang saat berada di dalam hutan, jadi pengamanan kali ini harus lebih ketat." titah Mingye.
" Baik katua." sahut anak buah Mingye.
Beberapa anak buah dari masing-masing tim dalam pasukan Ri Yue akan diutus untuk melakukan pengamanan pada sekitar daerah perkemahan mereka. Agar kejadian saat mereka diserang ketika berangkat menjalankan misi tidak akan terulang kembali di perjalanan mereka pulang usai menjalankan misi.
Pangeran ke 5 sendiri sudah masuk ke tenda khusus untuknya agar bisa mengistirahatkan dirinya. Perjalanan selama lebih dari tiga hari tanpa istirahat cukup menguras tenaganya. Bagaimana pun keinginan hati ingin segera sampai ke rumah membuatnya melupakan kekuatan fisiknya.
" Tuan ku..." sapa Zigang, salah satu ketua kelompok yang ada di pasukannya.
" Ada apa kau mencari ku?" tanya Gong Sheng yang tengah membaringkan tubuhnya.
" maaf mengganggu waktu istirahat anda. Tapi saya punya sesuatu yang harus disampaikan pada anda." ujar Zigang.
" Katakan!!!" titah Gong Sheng.
" Saya mendapatkan pesan dari ibukota, yang isinya adaah tentang pergerakan seseorang yang tidak dikenal dalam menekan putra mahkota. Identitas orang tersebut masih belum bisa diketahui tuan ku." lapor Zigang.
" Selidiki lagi, apakah orang ini berada di pihak kita atau justru orang yang nantinya akan berbalik menyerang kita!!" titah Gong Sheng.
" Baik tuan ku." Zigang kemudian pamit undur diri.
Di dalam tendanya, Gong Sheng mulai menerka-nerka siapa yang mungkin saja menjadi orang yang telah menekan pergerakkan putra mahkota. Namun selama dia merenung tidak ada satu nama yang terlintas dalam pikirannya. Putra mahkota memiliki dukungan dari keluarga permaisuri dan juga dukungan dari perdana menteri kiri. Dengan kata lain wilayah kekuasaannya sangat luas, lalu siapa yang telah mengusiknya, Gong Sheng sungguh tidak mampu menerka.
Asyik dengan banyaknya praduga seseorang yang bisa saja menjadi orang yang mampu menekan pergerakkan putra mahkota, Gong Sheng sampai tidak menyadari bahwa waktu berkumpul untuk makan malam telah terlewatkan. Hingga datanglah salah satu anggota pasukannya yang memanggilnya di dalam tenda. Gong Sheng sungguh merasa tidak enak telah membuat anggota pasukannya menunggunya dalam jangka waktu yang lumayan lama.
" Maaf atas keterlambatan saya, mari kita mulai makan malam kita!!" seru Gong Sheng.
Masih sama di dalam hutan, namun berbeda dengan hutan tempat dimana pasukan pangeran ke 5. Feng Ai dan juga Shihan tengah berlatih di di dekat air terjun. Feng Ai ingin segera bisa mengendalikan air agar segera bisa menggunakan kemampuannya untuk bisa menyembuhkan orang.
Shihan mengamati dengan seksama bagaimana tuannya itu berlatih untuk bisa menguasai teknik mengendalikan air ini. Shihan yang sudah mendengar dari Yi Ye tentang sosok Feng Ai yang sekarang ini, pun juga mulai merasa bahwa selama ini keinginan Feng Ai untuk menguasai ilmu beladiri karena tuannya ingin berguna bagi pangeran ke 5.
Siapa yang tidak mengetahui tentang konflik yang ada di sekitar pangeran ke 5. Orang yang berhubungan dengan istana pasti tahu bahwa selama ini nama pangeran ke 5 disebut sebagai pangeran yang mampu mengalahkan putra mahkota, dalam artian bahwa pangeran ke 5 bisa menggantikan saudara tertuanya menjadi putra mahkota.
Karena ini nyawa pangeran ke 5 selalu berada diujung tanduk.Apalagi pihak permaisuri sudah menargetkan pangeran ke 5 bahkan sebelum dia ahir. Karena daam ramalan dinasti Xili saat Selir Xia mengandung pangeran ke 5 adalah, " ANAK DALAM KANDUNGAN WANITA YANG TERKASIH AKAN MENJADI PENOPANG DINASTI XILI. KARENA ANAK INILAH NANTINYA DINASTI XILI MENCAPAI PUNCAK KEJAYAANNYA."
" Shihan..." panggil Feng Ai yang sudah ada di hadapan pengawal pribadinya ini. Sepertinya Shihan sedang melamun.
" Ah... iya...iya... Ada apa yang mulia?" tanya Shihan yang sangat terkejut melihat tuannya sudah berada tepat di depannya.
" Aku memanggil mu sejak tadi tapi kau sepertinya sedang melamun jadi tidak mendengar ku." jawab Feng Ai tersenyum. Tidak menyangka bahwa pengawal pribadinya ini bisa juga melamun.
' Maaf yang mulia, saya sedang kepikiran tentang kepulangan pangeran ke 5. Saya sedikit khawatir rombongan pangeran ke 5 akan diserang seperti saat rombongan tersebut berangkat menjalankan misi." ujar Shihan sedikit berbohong. Dia memang sedang memikirkan tentang pangeran ke 5, tapi bukan tentang kepulangannya.
" Jangan khawatir, kalau perhitungan ku tidak salah rombongan pangeran ke 5 akan sampai di ibukota tiga hari lagi. Dan mereka akan sampai dengan selamat." ujar Feng Ai.
" Syukurlah kalau begitu." Shihan turut senang mendengar hal itu, meski dia cukup penasaran darimana tuannya ini tahu.
Shihan kemudian memberikan contoh lagi pada Feng Ai sesuai permintaan tuannya itu. Feng Ai sedikit bingung tentang cara menggunakan energinya untuk bisa menguasai air yang ada di sekitarnya itu. Jadi dia ingin sekali lagi melihat Shihan mencontohkan teknik untuk menguasai air ini.
Dengan konsentrasi tinggi Feng Ai memperhatikan setiap gerakan tangan dari Shihan. Feng Ai juga fokus memperhatikan saat tangan luwesnya membuat tanah yang ada di sekitar mereka menyatu dengan tangannya. Hal inilah yang ingin Feng Ai ketahui dengan jelas bagaimana caranya.
" Fokus anda bukan pada tangan saya yang mulia. Tapi pada energi dalam saya yanng keluar dari tangan sayang seperti sebuah tangan yang mengumpulkan tanah yang ada di sekitar ini." terang Shihan tidak ingin tuannya ini salah fokus, karena akan fatal akibatnya.
" Bagaimana cara mu untuk bisa mengeluarkan energi itu sehingga menjadi sebuah tangan?" tanya Feng Ai.
" Dengan memikirkan bahwa tangan saya ini dengan sendirinya mengumpulkan tanah untuk bisa menjadi pelindung dan senjata untuk saya." jawab Shihan.
" Baik, aku akan mencobanya sekali lagi." Feng ai kembali berdiri di dalam sungai yang dekat dengan air terjun.
Dengan gerakkan tangan yang sama dengan Shihan, lalu langah-langkah yang sama dengan Shihan, Feng Ai mulai menggerakkan energi dalamnya sama sepeti apa yang dikatakan oleh Shihan. Dengan perlahan, air yang ada di sekitar Feng Ai bergejolak. Kemudian air-air itu berada di dalam kuasa tangan Feng Ai. Dia telah berhasil.