
Feng Ai terus saja mondar mandir di depan pintu gerbang kediaman Man Yue ini. Dia sedang menunggu kedatangan suaminya, setelah tadi sempat bertemu sebentar di depan gerbang istana untuk melepaskan rindu di hati barang sebentar saja. Tapi sejak dia kembali ke kediaman suaminya ini, hingga hari dirasa sudah semakin siang, batang hidung suaminya masih belum nampak terlihat memasuki kediaman. Feng Ai jadi merasa cemas akan hal itu.
Yi Ye, Shihab dan Hui Li ikut menanti bersama nyonya kediaman ini. Mereka merasa lucu melihat tingkah nyonya mereka yang mirip seperti anak kecil saja. Seperti seorang anak yang kehilangan ibunya, begitulah nyonya mereka terlihat.
Tak lama pintu gerbang kediaman pangeran ke 5 ini terbuka lebar. Seseorang yang sejak tadi ditunggu oleh Feng Ai, akhirnya tiba juga. Sekali agi Feng Ai memeluk tubuh dari pria yang merupakan suaminya itu. Feng Ai ingin melepaskan rindunya setelah selama lebih dari tiga minggu mereka tidak bersama.
" Kenapa lama sekali baru sampai?" tanya Feng Ai masih dalam pelukan suaminya.
" Maafkan aku ya sudah membuatmu menunggu begitu lama. Aku tadi harus menuju ke barak dulu sebelum kembali ke rumah." jawab Gong Sheng. Pelukan pada tubuh mungil sang istri semakin dia pererat karen dia begitu merindukan wanita yang telah menghiasi hari-harinya sejak dua puluh tahun yang lalu.
" Selamat datang tuan,mari silahkan masuk ke dalam untuk minum teh. Melepas penat selama perjalanan kembali ke ibukota." undang Yi Ye, mempersilahkan tuannya untuk memasuki kediaman.
" Terima kasih Yi Ye." ujar Gong Sheng. Tangannya menggandeng tangan Feng Ai dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam kediaman mereka.
Yi Ye memerintahkan kepada para dayang dan pelayan untuk menyiapkan teh dan juga cemilan untuk tuan dan nyonya mereka. Yi Ye tersenyum tipis saat melihat nyonyanya terus saja bergelayut manja pada tuannya. Tak lama beberapa pelayang dan dayang membawa apa yang kepala pelayan mereka perintahkan.
Gong Sheng begitu menikmati teh melati yang dibuat oleh pelayannya. Teh yang selalu bisa menyegarkan tubuhnya. Gong Sheng mempersilahkan Feng Ai untuk juga meminum teh yang disajikan oleh para pelayan. Feng Ai pung mengambil gelasnya, kemudian meminumnya. Sangat segar di tenggorokan dan tubuhnya. Seakan penatnya selama sehari tadi telah hilang.
" Terima kasih paman. Ini sangat menyegarkan." ujar Feng Ai.
" Senang jika anda menyukainya nyonya." Yi Ye membungkukkan badannya.
" Kami istirahat dulu, kalian silahkan lanjutan kembali pekerjaan kalian." pamit Gong Sheng mengajak istrinya untuk ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Gong Sheng melepaskan jubahnya dan hanya menyisakan pakaian rumahannya. Kemudian dia mengajak Feng Ai untuk menemaninya berbaring di ranjang mereka. Tidak ada yang mereka bicarakan, hanya berbaring dengan saling memeluk. Melepaskan rindu mereka yang terpisah cukup lama, kemudian mereka sama-sama terlelap di siang hari ini.
Malam harinya Gong Sheng ingin mengajak istrinya untuk ke kota melihat pesta rakyat yang selalu diadakan setelah pasukan Xili memperoleh kemenangan dalam setiap misinya. Biasanya akan ada pertunjukkan dan juga kembang api yang menjadi kesukaan dari Feng Ai. Feng Ai dengan senang hati menerima ajakan dari suaminya itu. Seperti kencan pikirnya.
Jalanan yang ada di ibukota dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan berbagai macam barang, baik pakaian atau pun aksesoris yang begitu indah. Ketika melihat sebuah jepit rambut yang begitu indah, Gong Sheng mengajak Feng Ai untuk mampir melihatnya.
" Lihatlah, bukankah ini sangat cantik." ujar Gong Sheng menunjukkan sebuah jepit rambut yang berbentuk bunga anggrek.
" Iya ini sangat indah sekali. Tapi kenapa kau menunjukkan ini pada ku?' tanya Feng Ai.
" Baik, dengan senang hati aku akan memakainya nanti." ujar Feng Ai begitu bahagia.
" Tuan berapa harga jepitan rambut ini?" anya Gong Sheng pada penjual aksesoris itu.
" Yang mulia tidak usah membelinya, silahkan ambil saja yang yang mulia pangeran dan putri sukai." jawab penjual itu.Baginya, sudah bisa dekat dengan pahlawan Xili lebih mahal dari semua aksesoris yang dijualnya.
" Jika tuan memberikan ini untuk kami, maka yang akan menghadiahkan ini untuk istri ku adalah anda. Biarkan aku membayarnya, agar aku yang memberikan hadiah ini untuk istri ku." ujar gong Sheng memberikan beberapa uang koin pada penjual aksesoris itu.
" Kalau begitu, biarlah ini menjadi hadiah anda untuk anda yang mulia." penjual itu memberikan sebuah cincin dari giok berwarna hijau. Dan kebetulan cincin itu sepasang.
" Kami menerima ini. terima kasih tuan." ucap Gong Sheng begitu tulus.
Setelah dari kedai yang menjual berbagai macam aksesoris tadi, Gong Sheng mengajak Feng Ai untuk menuju ke sungai yang ada di ibukota ini. Biasanya diacara seperti malam ini, pasti banyak orang yang membuat perahu dan membuat perahu itu berlayar di sungai dengan tulisan doa pada setiap bagian yang ada di perahu itu. Leluhur mengatakan bahwa dengan begitu setiap doa yang tertulis di perahu itu akan dikabulkan oleh dewa.
Di tepi sungai itu, ternyata ada penjual perahu dan jua lampion. Setiap orang bebas memilih perahu atau lampion yang mereka layarkan. Gong Sheng meminta feng Ai untuk memilih, dan pilihannya jatuh pada lampion. Menurut feng Ai, lampu dalam lampion, akan menerangi permohonan mereka agar sampai pada kediaman dewa.
Feng Ai merapatkan kedua tangannya di depan dadanya untuk mengucapkan doanya pada dewa. Begitu pula dengan Gong Sheng. Saat Feng Ai mengucapkan doanya dalam hati, air matanya tanpa diminta langsung keluar membasahi wajahnya. Feng Ai kembali mengingat mimpi buruknya waktu itu. Mimpi yang memperlihatkan kematian dari suaminya.
Gong Sheng sangat terkejut melihat feng Ai menangis saat mengucapkan doanya. Diusapnya punggung bergetar itu agar istrinya tenang. Tak lama, Feng Ai kembali merasa tenang saat dia berhasil menguasai dirinya agar tidak membuat suaminya itu curiga. Feng Ai mengulas senyum manisnya di depan Gong Sheng agar suaminya itu tidak khawatir padanya.
" Kenapa menangis? Seperti aku aan pergi meninggalkan mu dan tida akan kembali saja." ujar Gong Sheng menggoda istrinya. Feng Ai tersenyum kecut mendengar candaan dari suaminya.
" Kalau saja kamu tahu baha kamu mungkin akan meninggalkan aku selamanya." batin Feng Ai.
" Aku tidak akan pergi meninggalkan mu jika aku tidak sedang menjalankan misi. Jadi jangan bersedih ya." ujar Gong Sheng menghibur.
" Janji ya?" ujar Feng Ai.
" Janji.. Langit dan Bumi menjadi saksi dari janji ku ini. " Gong Sheng berucap tegas dengan senyum menghiasi wajah tampannya itu.
Feng Ai tersenyum, dalam doa nya dia memohon agar suaminya ini memiliki umur yang panjang. Agar rakyat Xili dan juga keturunannya bisa memiliki masa indah dan waktu yang bisa mereka habiskan bersama dengan Gong Sheng. Feng Ai begitu tidak rela jika orang sebaik Gong Sheng harus berakhir hidupnya dengan fitnah yang menempel pada tubuhnya.