
Keesokan harinya di kediaman pangeran ke 5 , semakin ramai dibandingkan kemarin. Kali ini yang membuat ramai kediaman pangeran ke 5 ini adalah karena adanya banyak orang jalanan yang datang untuk mendapatkan sembako dan juga makanan. Mereka pagi buta tadi diberi tahu oleh salah seorang penjaga kediaman pangeran ke 5 untuk datang dan mendapatkan beberapa santunan dari pemilik kediaman ini.
Yi Ye dan Hui Li menjadi orang yang membagikan santunan itu pada para orang jalanan. Sedangkan Feng Ai dan Gong Sheng menatap dari kejauhan. Untuk Shihan, dia dipercaya untuk membagikan santunan itu dari rumah ke rumah yang ada di ibukota. Dan Shihan bersama dengan beberapa penjaga pergi untuk membagikan santunan itu.
" Terima kasih banyak tuan ku. Sungguh dewa akan selalu menjadi penolong untuk tuan ku." ucap seorang wanita tua yang ikut mengantri mendapatkan santunan dari pangeran ke 5.
" Nyonya apa anda baik-baik saja? Anda bisa beristirahat di dalam jika anda kelelahan." Hui Li menawarkan.
" Tidak nona cantik, terima kasih. Jaga tuan mu yang sekarang ini sedang mengandung. Beliau harus dikelilingi orang-orang yang dia sayangi agar bisa menolongnya untuk tetap berada di sini." Hui Li sama sekali tidak tahu maksud dari wanita tua tadi, namun Hui Li mengiyakan saja. Toh baginya ucapan itu doa.
Hui Li tersenyum saja sebagai tanggapan dari apa yang wanita tua itu katakan. Setelah itu dia kembali membagikan santunan itu pada orang yang berada di belakang wanita tua dengan petuah untuknya.
Semakin siang, semakin banyak orang yang mengantri di depan gerbang pintu kediaman pangeran ke 5. Mereka semua ingin mendapatkan santunan berupa bahan pangan dan beberapa bungkus makanan yang dimasak oleh koki di kediaman pangeran ke 5.
Gong Sheng dan Feng Ai sampai turun tangan membantu karena melihat Yi Ye dan Hui Li sedang kewalahan. Akhirnya mereka bergantian untuk membagikan santunan itu. Dan kegiatan ini berlangsung hingga sore hari. Shihan dan beberapa penjaga pun juga kembali ke kediaman pangeran ke 5 sore hari mendekati malam. Kini mereka gantian mempersiapkan untuk pesta nanti malam.
Feng Ai dirias secantik mungkin dengan pakaian yang begitu indah, yang terbuat dari sutra terbaik di Xili dan berhiaskan mutiara. Berwarna hijau muda, dan ditambahkan aksesoris indah menempel di kepala dan lengan Feng Ai. Sungguh bidadari turun dari langit, yang dapat menggambarkan betapa menariknya dan cantiknya Feng Ai malam ini.
" Jika Ai bisa secantik ini, ingin rasanya aku tidak mengizinkannya tampil di acara pesta nanti. Pasti akan ada banyak mata yang melirik dan menatapnya." gumam Gong Sheng.
" Tuan, seharusnya anda berbangga diri karena memiliki istri secantik nyonya. Belum lagi anda dan nyonya diberikan momongan secepat ini. Jadi jangan mengeluh." Yi Ye menegur tuannya.
" kau tahu paman, pangeran ke 4 dan putra mahkota tertarik pada Ai ku. Sungguh aku tidak angin kedua saudara ku itu melihat' betapa cantiknya istri ku." Gong Sheng balik protes.
" Hahahahah.... Jadi ceritanya anda cemburu, begitu tuan ku." ledek Yi Ye tertawa renyah.
" Paman tentu saja tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini. paman kan belum memiliki tambatan hati." ledek Gong Sheng. Dia tidak terima diledek oleh kepala pelayannya padahal kepala pelayan di kediamannya ini belum memiliki istri maupun wanita yang disukai.
Keduanya kembali memperdebatkan masalah jodoh dari Yi Ye yang sampai usianya sudah hampir empat puluh tahun belum juga datang. Bukannya Yi Ye tidak pernah jatuh cinta, namun cintanya dulu bertepuk sebelah tangan sehingga dia harus melupakan bahkan sebelum cinta itu berkembang.
Dulu sekali, ketika Yi Ye masih menjadi anggota pasukan dari Feng Ying. Yi Ye pernah jatuh cinta pada seorang gadis yang tinggal di desa yang ada di dekat ibukota. Namun beberapa waktu kemudian, Yi Ye justru mendengar gadis itu sudah dipinang oleh gubernur setempat menjadi istri ketiga. Sayangnya gadis itu menerima pinangan itu, jika tidak sudah bisa dipastikan Yi Ye akan membawa kabur gadis itu. Dan sejak itulah, hati Yi Ye tidak lagi pernah meras jatuh cinta pada wanita.
Meninggalkan kisah pahit Yi Ye, kini berganti melihat tampilan putri Feng Ai. Dari atas hingga ke ujung kaki, benar-benar sempurna. Aksesoris dan riasan serta pakaian yang dikenakan sesuai dan menambah kecantikannya berkali-kali lipat. Malam ini Gong Sheng tidak boleh meninggalkan Feng Ai barang sebentar, atau para pria hidung belang akan langsung bergerak mendekatinya.
Pintu gerbang kediaman pangeran ke 5 sudah dibuka untuk tamu undangan. Sebagai bentuk penghormatan,Gong Sheng juga mengundang keluarga istana, entah siapa yang nanti akan hadir sebagai perwakilan. Gong Sheng juga mengundang para menteri serta kerabat istana dan keluarga dari sang istri.
Gong Sheng ingin menunjukkan pada semua orang yang dia dan istrinya kenal, bahwa sekarang ini dia sangat bahagia dengan kehamilan sang istri. Bahkan jika perlu, Gong Sheng ingin semua negar tetangga Xili mengetahui tentang kabar gembira yang dia ingin sampaikan itu. Namun sebisa mungkin Gong Sheng menahan, karena permusuhannya dengan pihak putra mahkota belum berakhir.
" Yang mulia, selamat untuk berita bahagianya...." ucap menteri pertahanan dan keamanan.
" Terima kasih tuan menteri. Silahkan masuk dan nikmati pestanya.Dan maaf jika tidak sesuai dengan selera anda." ujar Gong Sheng rendah diri.
" Anda terlalu menganggap saya tinggi yang mulia. Dan ini sedikit hadiah untuk yang mulia putri." tuan menteri menyerahkan bingkisan pada Gong Sheng.
" Terima kasih tuan." ujar Gong Sheng tulus. Dia kembali menyambut tamu yang lain.Yang sejauh ini masih dari para menteri dan juga kerabat istana. Sedangkan pihak dari istana sendiri kini masih belum datang.
Satu persatu tamu undangan datang dan langsung dipersilahkan masuk oleh Gong S heng dan Yi Ye. Di bagian taman samping kediaman pangeran ke 5, sudah tertata rapi tempat duduk dan meja untuk semua tamu undangan. Beruntung kediaman pangeran ke 5 warisan dari ibunya itu cukup besar, sehingga bisa menampung semua tamu undangan.
Kedua mata Gong Sheng langsung tertuju pada tiga kereta kuda yang berhenti di depan pintu gerbang kediamannya. Dalam hati Gong Sheng sudah tahu siapa tuan dari tiga kereta kuda tersebut. Namun dia jadi sedikit penasaran, selain putra dan putri Mahkota, dari tiga kakak nya siapa yang menjadi tuan dari dua kereta kuda lainnya.
Dan sungguh tidak Gong Sheng sangka, pangeran ke 2 dan ke 3 lah yang datang. Awalnya dia berpikir bahwa pangeran ke 4 yang ikut. Pasalnya secara diam-diam pangeran ke 4 menaruh hati pada istrinya sejak waktu mereka masih kecil. Dengan senyum yang tulus, Gong Sheng menyambut ketiga kakak nya dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
" Selamat ya adik kelima, kau lebih dulu memiliki momongan daripada aku dan Ming Yue. Sungguh putri Feng Ai memang luar biasa, putri Mahkota harus banyak-banyak belajar dari putri Feng Ai. " sarkas Putra Mahkota.