The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 89



Berita tentang lahirnya pangeran dari pangeran ke 5 dan juga putri Feng Ai telah sampai ke telinga penghuni istana. Hal ini disambut dengan sangat baik, namun beberapa diantaranya terlihat tidak senang akan hal itu. Orang-orang yang tidak suka dengan lahirnya pangeran di kediaman pangeran ke 5 adalah pihak keluarga putri Mahkota. Mereka merasa bahwa jalan cucu mereka nanti menjadi seorang Kaisar, akan terhalang oleh anak dari Gong Sheng dan Feng Ai.


Putra mahkota dan juga pangeran ke 4 semakin gencar mempengaruhi perdana menteri kiri. Apalagi benar adanya bahwa anak dari Gong Sheng dan Feng Ai adalah pangeran. Sebuah nilai lebih karena mereka melahirkan pangeran pertama kali di generasi ketiga penguasa Xili.


" Ayah mertua, apa anda tahu bahwa Kaisar telah memberikan perintah untuk memberikan penghargaan pada Putri dari kediaman pangeran ke 5 dan juga mengangkat putranya menjadi pangeran. " ujar Gong Lie mengompori perdana menteri kiri.


" Dari mana yang mulia putra mahkota mengetahuinya? " tanya perdana menteri kiri.


" Tentu saja dari orang-orang yang aku letakkan disisi ayahanda ku.. " jawab Gong Lie terlihat culas.


" Lalu menurut anda apa yang bisa kita lakukan? " tanya perdana menteri kiri yang mulai terpengaruh.


" Jalankan apa yang aku pernah katakan dulu, dengan begitu posisi ku dan juga anak dalam kandungan putri Mahkota akan aman... " Gong Lie menyeringai tajam.


Banyak orang berdatangan ke kediaman pangeran ke 5 untuk memberikan selamat pada pasangan yang baru saja mendapatkan momongan. kedatangan tamu disambut dengan baik oleh Gong Sheng. Tak sedikit dari tamu yang memberikan bingkisan sebagi tanda selamat. Tentu saja hal itu harus diterima dengan baik oleh Gong Sheng. Jadilah dia menjamu semua tamu itu di kediamannya.


" Selamat tuan jendral. Pangeran lahir dengan selamat, dan beliau terlihat sangat tampan." puji salah satu bangsawan di ibukota.


" Terima kasih atas pujiannya tuan. Dan untuk bingkisannya, saya dan istri mengucapkan banyak terima kasih.." ucap Gong Sheng tulus.


" Sama-sama tuan. Saya dan istri memiliki hutang budi yanng banyak pada tuan putri. Anda beruntung memiliki istri sebaik tuan putri.." alis Gong Sheng berkerut mendengar penuturan dari bangsawan yang ada di depannya ini.


Disaat Gong Sheng hendak bertanya tentang ucapan bangsawan itu, tamu lain datang mengucapkan selamat padanya. Beberapa tamu memohon untuk bisa melihat Feng Ai dan putra mereka, namun Gong Sheng ragu untuk mengizinkan mereka masuk. Pasalnya karena proses melahirkan yang cukup lama karena bayi sungsang membuat kondisi Feng Ai masih sangat lemah. Gong Sheng takut karena banyak tamu menganggu proses kesembuhan sang istri.


" Maafkan saya tidak bisa mengizinkan kalian melihat putra dan istri saya. Kondisi Ai sedang lemah karena proses melahirkan yang sangat lama. Jadi mohon sekali maafkan aku tidak bisa Sheng membawa kalian ke dalam.." Gong Sheng menunduk tanda maaf. Lebih baik begini dari pada sesuatu terjadi pada istrinya nanti.


" memangnya apa yang terjadi sampai proses melahirkan tuan putri membutuhkan waktu yang lama tuan jendral?" tanya istri dari salah satu menteri yang dibawah ayah mertua Gong Sheng.


" Bayinya sungsang. Karena itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan posisi bayi agar masuk ke jalan lahir. " terang Gong Sheng.


" Beruntung tuan putri baik-baik saja. Banyak kasus bayi sungsang yang membuat ibu beserta bayinya meninggal. Tuan putri sungguh wanita yanng kuat dan hebat..." beberapa orang membenarkan hal tersebut.


Gong Shen pun setuju dengan apa yang ibu tadi ucapkan. Istrinya memang sangat hebat dan kuat sehingga bisa melewati ini semua dengan baik. Bahkan istri dan bayi yang dikandung oleh istrinya bisa terlahir dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


" Maafkan aku Ai, baru bisa melihat mu..." Gong Sheng mengecup dahi sang istri.


" Tidak apa-apa. Saya juga hanya tidur saja sejak tadi. Rasanya lemah dan lemasnya tidak kunjung hilang.." keluh Feng Ai.


" Wajar jika begitu. Tadi aku dengar dari para tamu, melahirkan dengan bayi sungsang itu sangatlah berbahaya. Syukur kamu dan anak kita selamat."


" Iya... Ini semua berkat anda. Saya tidak ingin meninggalkan anda karena itu saya berjuang untuk tetap bertahan meski rasanya sangat sakit sekali." Gong Sheng menitikkan air matanya melihat perjuangan sang istri untuk isa melahirkan buah hati mereka.


Ketika malam larut tiba, Gong Sheng terkejut langsung bangun saat mendengar suara Gong Jue menangis. Mungkin karena haus jadinya putranya ini terbangun di tengah malam. Namun karena efek lelahnya belum hilang, Feng Ai bahkan tidak mendengar ketika aak mereka terbangun di malam hari.


" Ai... Bangun sebentar ya.. Ini Xiao Jue ingin minum ASI." ucap Gong Sheng membangunkan sang istri.


" Maafkan saya,,, saya merasa sangat lelah jadi tidak bisa bangun ketika mendengar putra kita terbangun. Maafkan saya.." Feng Ai segera meraih putranya dari gendongan sang suami dan langsung menyusuinya tanpa rasa tidak nyaman sekalipun meski ada Gong Sheng disana.


" Jangan meminta maaf. Kamu memiliki jasa yang amat besar untukku dan putra kita. Jadi jangan merasa bersalah karena tidak bisa bangun, ada aku yang akan membangunkan mu." Gong Sheng mengusap puncak kepala Feng Ai sambil melhat lahapnya putranya ini meminum susu.


" jangan terburu-buru... Ayah tidak minta Xiao Jue..." Gong Sheng terkekeh sendiri melihat putranya ini.


Gong Sheng merasa begitu bahagia sekarang karena keluarganya sangat lengkap dengan kehadiran Gong Jue, putranya dengan Feng Ai. Kini tujuan hidupnya hanyalah melindungi keluarga kecilnya ini. Gong Sheng berjanji pada sang putra bahwa dia akan menciptakan dunia yang terbaik untuk sang putra.


" Sehat selalu kalian berdua, karena aku tidak ingin kalian sakit atupun terluka . Itu sama saja menyakiti hati ku ini..." batin Gong Sheng.


Sepanjang malam ini sudah beberapa kali Gong Sheng dan Feng Ai terbangun karena mendengar tangisan dari Gong Jue. Mereka sebenarnya mengantuk dan lelah, namun mereka menikmati setiap saat yang harus mereka alami karena pengalaman baru ini sungguh membuat mereka merasa bahagia.


Keesokan harinya baik Gong Sheng maupun Feng Ai terbangun dengan wajah yang memancarkan kelelahan. Bahkan para pelayan dan dayang yanng melihat itu merasa kasian. Mereka pun mengusulkan diri membantu tuan dan nyonya mereka untuk pengasuh pangeran kecil ini. Awalnya Gong Sheng menolak, namun melihat wajah kelelahan sang istri, Gong Sheng pun mengizinkan pelayan dan dayang membantu Feng Ai merawat putra mereka.


Alis Gong Sheng berkerut ketika melihat seseorang yang seharusnya tidak boleh berada di kediamannya kecuali, sesuatu telah terjadi..


" Bersiaplah tuan.. Mereka akan segera menjalankan rencana mereka... " lapor nya dan pamit begitu saja dari hadapan Gong Sheng. Menyisakan rasa penasaran yang tinggi pada suami Feng Ai ini.


" Tunggu!!! '