The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 43



Melihat momen yang tidak tepat untuknya, Feng Ai keluar dari kamar yang ditempati oleh suaminya. Feng Ai ingin memberikan waktu pada ayah dan anak ini untuk sekedar mengucapkan kata sayang yang selama ini mereka pendam. Kaisar masih memeluk tubuh putranya saat Feng Ai sudah menutup pintu kamar itu.


Gong Sheng sedikit terkejut dengan pelukan yang diberikan oleh ayahandanya ini. Selama dua puluh tahun, dia tidak merasakan apa yang disebut dengan kasih sayang dari orang tua. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkannya, dan ayahandanya menjauhkan putranya ini dengan dirinya dengan alasan ingin melindungi putranya ini dari orang yang jahat.Alasan yang menurut Gong Sheng hanyalah untuk membenarkan perilaku dari Kaisar ini padanya.


Lama keduanya hening, tidak ada satu pun dari mereka yang berucap. Bahkan nafas keduanya pun nampak sangat pelan terdengar. Seperti bernafas pun mereka tidak berani. Situasi saat ini sangat canggung untuk mereka berdua. Mungkin karena sudah sangat lama sekali mereka tidak melakukan hal seperti ini. Duduk berdua untuk saling berbincang menceritakan keseharian mereka.


" Ayah senang saat ini kau sudah baik-baik saja." ujar Kaisar setelah lama sekali dia berpikir kata apa yang ingin dia ucapkan.


" Terima kasih atas perhatian yang sudah nada berikan yang mulia." sarkas Gong Sheng. Mulutnya seakan tidak bisa memanggil pria di depannya ini panggilan ayahanda.


" Sebegitu tidak berartikah diri ku bagi mu putra ku?" tanya Kaisar terlihat putus asa.


" Justru saya yang tidak menyangka bahwa Kaisar masih mengingat bahwa saya adalah putra anda." lagi dan lagi, Gong Sheng berucap sangat kasar.


" Saya tahu dengan ucapan saya, kepala saya bisa berada di tiang gantungan. Namun keinginan saya hanya satu, tetaplah yang mulia bersikap seperti yang selama ini yang mulia tunjukkan pada saya. Jujur saya lebih nyaman dengan situasi seperti itu dibandingkan dengan situasi saat ini. Dengan begitu, baik saya maupun yang mulia akan berada di posisi yanng aman." ucapan pangeran ke 5 kali ini benar-benar menohok hati terdalam dari Kaisar.


Sudah menjadi rahasia umum di istana bahwa sikap kaisar sangatlah dingin pada pangeran ke 5 saat pangeran ke 5 masih tinggal di istana. Menemui pun hanya untuk sekedar untuk memenuhi jadwal yang memang dimiliki olehnya. Itupun hanya sebulan sekali. Karena hal itulah, pangeran ke 5 benar-benar tidak nyaman jika Kaisar bersikap seperti seorang ayah dan anak padanya.


Bagi pangeran ke 5, alasan apapun yang digunakan leh Kaisar ketika memperlakukannya tetaplah salah. Melindungi seorang anak bukan juga dengan mengabaikannya. Bahkan burung-burung peliharaan di istana masih mendapat perhatian Kaisar, sungguh tidak seperti dirinya. Sesungguhnya, keinginan dari pangeran ke 5 tidaklah berat dan berlebihan. Ingin dianggap anak dan diakui keberadaanya. Kejadian pada ibunda pangeran ke 5 ketika melahirkannya hingga meninggal dunia, sungguh bukan keinginannya. Dia jelas ingin hidup dalam limpahan kasih sayang ibu dan ayahnya tanpa kurang satu pun.


" kau membenci ku nak?" tanya Kaisar nampak sedih.


" Bagaimana saya bisa dengan beraninya membenci anda, yang mulia. Apa saya sungguh bosan hidup." sekali lagi Gong Sheng berucap menyakitkan.


" Ayah punya alasan untuk melakukan ini semua. sungguh ayah tidak pernah berpikir untuk mengabaikan mu...."


" Namun anda telah mengabaikan saya yang mulia." Gong Sheng langsung memotong ucapan Kaisar.


" Apa yanng bisa ayah lakukan agar putra ayah ini tidak lagi dingin pada ayah?" Kaisar bertanya dengan senyum khas seorang ayah untuk putranya. Senyum yang selama ini tidak pernah Gong Sheng dapatkan.


" Jika itu yanng kau inginkan, ayah akan mengabulkannya. Kalau begitu ayah akan kembali ke aula istana untuk memulai rapat dengan para menteri." pamit Kaisar berdiri hendak meninggalkan kamar putranya.


" Jaga kesehatan anda, dan selalu waspada dengan orang di sekitar anda yang mulia. ( ayahanda)." dala, batinnya Gong Sheng memanggil pria tua di depannya itu dengan panggilan ayah.


" Tentu." Kaisar kemudian pergi meninggalkan kamar yang kini ditempati sementara olah pangeran ke 5.


Ketika berada di ambang pintu, Kaisar membuka pintu itu dan matanya langsung bisa menangkap wanita yang sedang ingin putranya perjuangkan. Kaisar mengusap puncak kepala Feng Ai tanpa berucap, kemudian meninggalkan Feng Ai yang terheran di tempatnya.


Begitu sudah kembali ke alam sadarnya, Feng Ai langsung memasuki kamar dari suaminya itu. Feng Ai akan kembali melanjutkan kegiatannya tadi, yaitu menyuapi suaminya ini untuk mau memakan dan menghabiskan bubur yang sudah dimasak khusus oleh bagian dapur istana untuknya.


" Apa anda baik-baik saja, suamiku?" tanya Feng Ai. Dia melihat raut wajah suaminya ini berubah menjadi diliputi duka.


" Tidak ada Ai. Akku hanya takut ucapan ku pada ayahanda tadi sedikit kasar." ujar Gong Sheng. Dia tidak pernah menutupi apapun dari Feng Ai sejak mereka masih kecil.


" Ini yang terbaik suami ku. Dengan ini, yang mulai Kaisar akan tetap hidup dan memerintah Xili." Feng Ai berusaha menenangkan kekhawatiran dari suaminya.


" Ai ku ini benar sekali. Ini demi kebaikan yang mulia dan Xili. Benar begitu?" Gong Sheng menoel hidung Feng Ai yang begitu mancung itu.


" Anda ini bisa saja." Feng Ai tertawa.


Yang berada di dalam kamar sungguh tidak tahu, bahwa di luar kamar itu ada seseorang yanng mengepalkan tangannya sangat kuat karena rasa marahnya. Kemarahan karena rasa cemburu yang begitu kuat merasuki tubuh orang itu. Ming Yue, pagi ini berniat menjenguk pangeran ke 5, namun kini dia harus mendengar tawa kebahagiaan dari pasnagan ini.Sunggu seolah-olah pasangan itu telah menginjak-injak harga dirinya.


Dengan kekesalan di hatinya, Ming Yue meninggalkan kamar itu tanpa masuk ke dalam. Sungguh dia tidak akan kuat jika masuk kedalam dan melihat pria yang dia cintai memanjakan perempuan lain. Dalam hatinya, kebencian untuk Feng Ai semakin besar dan tidak lagi mampu dia kendalikan.


" Mari kita lihat, seberapa lama kau bisa bahagia di atas penderitaan dan luka ku. Saat kau terjatuh ke bawah dan dibuang oleh pangeran ke 5, baru kau akan tahu segala kesakitan yang aku derita selama ini. Sungguh Dewa sangat tidak adil pada kita. Aku yang berjuang namun tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan kau hanya diam tapi mendapatkan semua yang aku inginkan." batin Ming Yue murka.


Kakinya membawanya kepada seseorang yang dia kira bisa membantunya untuk membuat wanita yang telah mengambil posisinya menderita. Dalam hatinya Ming Yue bersumpah pasti suatu saat nati, Feng Ai akan merasakan apa yang dia rasakan selam ini.