The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 45



Gong Sheng degan ditemani oleh Yi Ye menuju ke arah dapur yang letaknya sedikit jauh dengan paviliun utama. Baru juga sampai beberapa langkah saja, suara seseorang menghentikan langkah dari Gong Sheng. Dia pun membalikkan badannya dan melihat salah satu anak buahnya sudah berlutut memberinya penghormatan.


" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gong Sheng.


" Saya ingin melaporkan bahwa pemanah yang teah menargetkan yang mulia kaisar telah berhasil ditangkap. Menteri pertahanan meminta nada yang mengusut kasus ini." lapor anak buah Gong Sheng.


" Lalu dimana sekarang orang itu?" tanya Gong Sheng tanpa menanggapi laporan dari anak buahnya itu.


" Berada di pengadilan tinggi, jendral." jawab anak buah Gong Sheng.


" Paman katakan pada istri ku, mungkin aku akan pulang terlambat malam ini." pesan Gong Sheng.


" Baik tuan. Semoga perjalanan anda lancar." Yi Ye memberikan hormat.


Bersama dengan anak buahnya, Gong Sheng meninggalkan kediamannya menuju ke pengadilan tinggi yang letaknya tidak jauh dari istana.


Yi Ye langsung bergegas ke dapur untuk menginformasikan kepergian tuannya pada nyonya nya. Dengan begini nyonya nya tidak akan bersembunyi lagi, karena yang ditakutkan sudah pergi.


Feng Ai di dapur terus saja mondar mandir tidak tenang. Jika dipikir lagi, seharusnya suaminya sat ini sudah sampai di dapur. Pasalnya, jarak waktu Yi Ye memberi tahunya tentang kedatangan suaminya , dengan sekarang, sangat lama sekali. Feng Ai jadi tidak tenang menunggu kedatangan suaminya.


Tak lama, yang ditunggu-tunggu oleh Feng Ai datang juga. Yi Ye datang setengah berlari menuju ke dapur, tempat di depan nyonya nya. " Nyonya, anda tidak perlu khawatir. Tuan telah pergi lagi ke pengadilan tinggi, beliau juga menyampaikan akan pulang terlambat." lapor Yi Ye.


" Benarkah?" tanya Feng Ai terkejut.


" Benar nyonya. Saya dengar tadi anak buah tuan mengatakan bahwa pemanah yang mengincar kaisar sudah ditangkap. Dan kasus ini akan ditangani oleh tuan." cerita Yi Ye.


Feng Ai melirik ke arah Shihan, dan pengawal pribadinya itu memberikan kode pada Feng Ai untuk tenang. Melihat itu, Feng Ai secra perlahan mulai tenang kembai. Yi Ye sungguh tidak menyadari tentang Feng Ai dan Shihan yang berbicara lewat gestur tubuh d idepannya.


" Apa yang mulia akan kembali melakukan latihan?" tanya Shihan.


" Tidak. kau boleh beristirahat. Aku akan ke ruang belajar suami ku." ujar Feng Ai memberikan petunjuk pada Shihan.


" Baik, saya akan beristirahat." Shihan menundukkan kepalanya dan pergi dari sana.


" Saya juga undur diri dulu nyonya." pamit Yi Ye ikut meninggalkan feng Ai.


Seperti petunjuk yang diberikan Feng Ai tadi. Kini Shihan berada di dalam ruang belajar dari pangeran ke 5. Ruangan ini memang lama sekali tidak digunakan oleh pangeran ke 5. lalu setelah kedatangan Feng Ai, ruangan ini diperuntukkan untuk Feng Ai setelahnya.


" Bagaimana bisa orang itu adalah anak buah putra mahkota? Bukankah hal ini akan menyudutkannya dan membuat putra mahkota bertindak." ujar Feng Ai mempertanyakan keputusan yang diambil oleh Shihan.


" Orang ini adalah pengkhianat di istana putra dan putri mahkota. Saya menjebaknya kemudian menawari kerjasama padanya." ujar Shihan.


" Jika orang itu jahat, sudah pasti akan banyak orang yang ingin balas dendam padanya. Kini dia menuai semua yang dia tanam selama ini." gumam Feng Ai puas.


" jika tidak ada yang ingin yang mulia katakan, maka saya akan pamit undur diri." pamit Shian. Dan diangguki oleh Feng AI.


Setelah kepergian dari Shihan, di dalam ruang belajar pangeran ke 5 ini, feng Ai menyusun rencana untuk menghadapi perlawanan yang kemungkinan akan dilakukan oleh putra mahkota dan saudara lainnya. Feng Ai sadar bahwa dia telah merubah alur dari cerita ini. Dia pun paham betul bahwa pasti akan ada perubahan pada cerita ini. Dan yang perlu dia waspadai adalah rencana dari putra mahkota.


Di penjara yang ada di pengadilan tinggi yang ada di ibukota, Mata Gong Sheng melotot tidak percaya bahwa tahanan yang ditangkap tadi pagi adalah anak buah dari putra mahkota. Orang ini adalah pelayan yang paling setia pada putra mahkota.Bagaimana mungkin orang ini mengkhianati tuannya. Dan apa alasannya, sungguh kah ini adalah rencana untuknya.


Gong Sheng meminta penjaga penjara untuk membukakan pintu yang terbuat dari jeruji besok yang menyatu dengan jeruji besi lainnya untuk menjadi ruangan yang disebut penjara. Orang-orang yang telah melakukan kejahatan, pasti akan berujung ke tempat itu. Menunggu hati dimana mereka akan diadili di depan semua rakyat yang hadir baik sebagai korban, saksi maupun penonton.


" Bawa dia ke ruangan pemeriksaan!! " titah Gong Sheng ditujukan kepada penjaga penjara yang bertugas.


" Baik tuan. " dengan sedikit kasar, para penjaga itu menarik tersangka dibalik perbuatan yang menargetkan nyawa dari Kaisar Xili. Para penjaga itu membawa pelaku itu ke ruangan yang letaknya tepat di sebelah penjara tadi. Ruangan yang sangat gelap, dan nampak banyak alat-alat yang kegunaannya adalah alat yang digunakan untuk memaksa pelaku mengakui perbuatannya.


" Aku akan langsung bertanya, mah jujur atau tidak itu terserah pada mu. Dan kau pasti tahu apa hukuman untuk orang yang berbohong? " ujar Gong Sheng mengambil duduk di depan pelaku.


" Aku tahu kau bukan pelaku sebenarnya, jangan tanya aku tahu dari mana. Yang aku ingin kan hanya nama yang telah membuat siasat ini. " mata Gong Sheng berubah tajam, sehingga membuat pelaku terintimidasi dengan tatapan bak dewa maut itu.


Pelaku itu nampak masih diam, sesungguhnya dia tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia mendapatkan tuduhan berupaya melakukan pembunuhan pada Kaisar. Dia bingung harus berkata jujur atau tidak, dia takut jendral besar di depannya ini tidak akan percaya.


Pelaku yang merupakan anak buah putra mahkota ini tahu bahwa tuannya menargetkan pangeran ke 5 sehingga membuat pangeran pun menargetkan putra mahkota. Kecurigaan pasti akan memberatkannya dengan alasan kematian Kaisar, pihak putra mahkota lah yang diuntungkan.


" Apa anda akan percaya dengan apa yang akan saya sampaikan ini tuan? " tanya pelaku.


" Apakah kau orang yang bisa dipercaya? " pertanyaan Gong Sheng.


" Tentu saja tuan. Saya tidak akan berbohong pada anda. " ujar pria yang telah menjadi tersangka itu.


Gong Sheng tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya pria yang menjadi tersangka itu yang terus mengatakan sesuatu yang sebenarnya sulit dipercaya. Bagaimana mungkin dia tertangkap jika dia tidak melakukan kejahatan. Bukti mengarah padanya, tapi anehnya pria itu mengatakan tidak melakukannya.


Gong Sheng terus memikirkan ucapan pria tadi, tebakannya benar pria ini hanya menjadi kambing hitam oleh pihak dari putra mahkota. Gong Sheng pun memerintahkan pada anak buahnya untuk melakukan penyelidikan secara rahasia dan tergesa-gesa.