The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 74



Dengan kuda hitam miliknya, Gong Sheng bergegas menuju ke istana. Sore hari adi dia baru pulang bersama dengan Feng Ai. Ketika kakinya baru menapak di halaman kediamannya, Yi Ye sudah berlari-lari mengatakan bahwa pangeran ke 5 harus segera ke istana. Kaisar ingin membahas tentang penyerangan yang menimpanya kemarin.


" Darimana orang-orang di istana tahu mengenai penyerangan yang menimpa ku?" tanya Gong Sheng saat itu. Tidak ada saksi mata saat penyerangan itu terjadi, lalu bagaimana berita ini bisa sampai istana.Gong Sheng heran.


Gong Sheng segera menemui Kaisar begitu dirinya sampai di istana. Rupanya Kaisar sedang bersama selir mudanya, Selir Wan. Kaisar begitu menyayangi selir Wan karena selir mudanya ini telah memberinya calon anak diusianya yang sudah berumur itu. Padahal andai Kaisar tahu anak siapa yang ada di kandungan selir Wan, akankah beliau masih menyayangi selir dan calon anaknya ini?


" Saya menghadap pada Baginda Kaisar.." Gong Sheng menundukkan kepalanya memberi hormat.


" Darimana saja kau? Aku dan para menteri menunggu mu sejak pagi?" tanya Kaisar yang sebenarnya sedikit khawatir pada Gong Sheng sat putranya itu menghilang.


" Saya mengajak istri saya untuk melakukan perjalanan ke pantai. Maaf karena tidak memberi kabar sebelumnya.." sekali lagi Gong Sheng menunduk hormat. Sesuatu yang sampai sekarang menjadi penyesalan mendalam Kaisar. Putranya menganggapnya sebagai orang lain.


" Kasim Mo, perintahkan para menteri untuk berkumpul di istana malam ini!!" titah Kaisar.


Sambil menunggu kedatangan para menteri,Gong Sheng memilih untuk berjalan-jalan di luar kediaman milik selir Wan. Dia tidak ingin dianggap mengganggu ketika Kaisar sedang bermesraan dengan selirnya. Namun suara seorang perempuan mengagetkannya.


" Apa yang anda lakukan disini? Kaisar bisa mencurigai anda menggoda putranya sendiri." tegur Gong Sheng dengan tegas. Namun lagi-lagi Gong Sheng terkejut saat selir Wan itu berlutut di depannya.


" Tolong selamatkan kak Xiao Xie. Karena saya, dia harus menderita dalam kendali putra mahkota. Dia tidak benar-benar ingin melawan anda, karena sejak kecil beliau selau melindungi anda dalam diam. Saya mohon selamatkan dirinya tuan ku." selir Wan mengemis di depan Gong Sheng.


" Kenapa aku harus menuruti permintaan mu?" tanya Gong sheng sedikit menguji kesungguhan hati wanita di depannya ini.


" Saya yang bersalah membawanya dalam kekacauan ini. Saya sudah memintanya pergi bahkan pernah menyakitinya. Tapi.... tapi.... dia tidak mau pergi dan memaksa tinggal di hubungan yang tidak pantas ini...hiks...hiks...." selir Wan mulai menangis.


" Apakah kau tahu, bahwa kakak ketiga ku meminta pada istri ku untuk menjaga mu dan anak kalian? Lalu menurut mu mana yanng harus kami penuhi?" selir wan terkejut. Pria yang dicintainya ini mengapa begitu bodoh sekali. Selir Wan menghela nafas panjang tanda dia mulai frustasi.


Gong Sheng mengutuk dalam hati pria yang teah membuat dua orang yang saling mencintai ini saling menyakiti. Karena tahta dan kekuasaan serta keegoisan kakak pertamanya, maka semua adiknya menderita demi dendamnya.


" Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha menjaga dia. Dia kakak ku, pasti aku tidak dengan mudah menyakitinya.." ucapan Gong Sheng ini memberi angin segar pada selir Wan. bagai di padang gurun lalu menemukan oasis yang menyegarkan, begitu yang dirasakan selir Wan saat ini.


Beruntung sekali ketika para menteri datang ke kediaman selir Wan, pembicaraan antara selir Wan dan Gong Sheng sudah berakhir. Dengan begini tidak akan ada gosip yang menyebar di istana tentang hubungan gelap selir Kaisar dengan salah satu pangerannya.


" Maafkan atas kelancangan saya sehingga membuat para menteri dan juga kedua perdana menteri harus kembali ke istana saat hari sudah larut,," Gong Sheng meminta maaf, sebagai penerapan etika.


" Pertemuan ini terlalu mendadak, sedangkan saya dan istri sudah pergi terlebih dahulu ketika matahari masih belum muncul. Sekali lagi mohon maafkan saya.." ketika seorang menteri hampir memojokkan pangeran ke 5, Kaisar segera menengahi agar semuanya segera selesai.


" Fokus pada apa yang akan kita bahas." titah Kaisar namun itu adalah sebuah sindiran untuk perdana menteri kiri dan anteknya.


Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan pada pangeran ke 5 dapat dengan mudah Gong Sheng jawab. Namun satu pertanyaan yang sangat melukai harga diri Gong Sheng sebagai jendral besar Xili dengan lima ribu pasukannya.


" Apa anda tahu siapa pelakunya? Kenapa anda terlihat santai sekali? Padahal anda hampir saja mati..." menteri kebudayaan yang bertanya.


" Jika saya tahu, maka malam ini orang itu pasti sudah tidak bernyawa. Anda benar-benar bertanya sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini? " Gong Sheng tersenyum mengejek. Bagaimana bisa orang bodoh menjadi menteri seperti menteri kebudayaan ini.


" Tolong sopan sedikit yang mulia!! Apa karena lama diluar anda menjadi tidak memiliki sopan santun?" tegur mertua putra mahkota itu.


" Anda jangan khawatir tuan perdana menteri, nilai kesopanan saya lebih baik dari para menteri tidak berguna yang ada di pihak anda itu. Seharusnya orang sepandai anda tidak akan merekrut orang bodoh untuk menjadi sekutu anda.." tangan tuan Ming terkepal erat. Mulut pangeran ke 5 memang terkenal pedas jika menghadapi sekutu putra mahkota.


" Kalian berhenti berdebat hal tidak penting semacam ini. Selesaikan masalah ini dulu!! Keluarga kerajaan sedang diincar, ini merupakan masalah berat. Bagaimana bisa kalian berdebat hal yang tidak penting." tegur tuan Feng, perdana menteri kanan.


" Ajari menantu mu itu sopan santun pada yanng lebih tua.." olok menteri kebudayaan.


" Tidak perlu diajari, pangeran pasti akan menghormati orang yang patut dihormati.." pernyataan dari Feng Ying ini menampar mulut para sekutu putra mahkota di ruangan ini. Salah sendiri memojokkan menantu kesayangannya.


Diskusi kembali dilanjutkan meskipun pihak perdana menteri kiri sama sekali tidak peduli mengenai masalah ini. Mereka datang hanya formalitas dan mencari muka pada Kaisar saja. Selebihnya tentang pangeran ke 5, mereka sungguh tidak ingin tahu.


Hasil akhir diskusi ini adalah, menteri pertahanan dan juga para hakim diperintahkan mengusut kasus ini sampai dapat diketahui siapa yang berada dibalik penyerangan itu. Satu yang pasti, dalang dibalik penyerangan itu pastilah musuh bebuyutan dari pangeran ke 5. Dan hal tersebut membawa satu nama sebagai kandidat paling mendekati pelaku.


" Terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk memenuhi panggilan dari ku. Selamat malam, dan hati-hati di jalan." ujar Kaisar mengakhiri pertemuan yang menjemukan itu.


" Selamat malam Kaisar... Semoga Kaisar panjang umur..." para menteri yang hadir di ruangan itu, juga pangeran ke 5 serempak memberikan slam pada Kaisar. Setelah itu mereka membubarkan diri untuk pulang, karena hari sudah semakin larut.


" Ayah mertua..." panggil Gong Sheng setelah semua menteri bubar.


" Saya ingin bicara dengan anda sebentar, apa anda memiliki waktu? Saya harap saya tidak mengganggu rencana anda dengan keluarga baru anda..."