The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 42



Para prajurit berlarian mengejar pemanah yang telah hampi melukai Kaisar, hingga pangeran ke 5 menghadang panah itu. Feng Ai masih tetap menangis dengan memeluk tubuh suaminya. Feng Ai tidak menyangka bahwa sang suami akan menghadang anak panah itu.


Beberapa tabib istana nampak berlari mendekati tubuh pangeran ke 5 yang masih tergeletak lemah tidak berdaya. Begitu tabib membuka pakaian dari pangeran ke 5, nampak kebiruan di sekitar luka dari terkena anak panah.


" Yang mulia, ini gawat. Pangeran ke 5 terkena panah beracun.Dan dilihat dari gejala dan kondisi pangeran ke 5 saat ini, jelas ini adalah racun lembah kalajengking. Ini racun yang mematikan yang mulia." lapor tabib istana yang memeriksa pangeran ke 5. Tubuh Feng Ai langsung lemah saat mendengar laporan yang disampaikan oleh tabib istana. Ingin rasanya dia pingsan tapi melihat suaminya yang juga terkulai lemah, rasanya Feng Ai tidak mampu melakukannya.


" Cepat kalian buat penawarnya!!!" titah Kaisar setengah membentak.


" Yang mulia, racun pada tubuh pangeran ke 5 akan menyebar setelah tiga hari. Dan pembuatan penawarnya bisa mencapai waktu enam sampai tujuh hari yang mulia." Feng Ai langsung pingsan.


Semua yang hadir dalam jamuan itu semakin dibuat kacau saat melihat tubuh putri Feng Ai pingsan di samping tubuh pangeran ke 5. Kondisi dari pangeran ke 5 saat ini saja sudah cukup mengkhawatirkan, apalagi ditambah dengan pingsannya putri Feng Ai.


Mingye mendekat dan langsung membawa tubuh nyonyanya ke tempat yang ditunjukkan oleh Kasim Mo. Entah siapa nanti yang akan diminta untuk membawa tubuh dari pangeran ke 5. Setahu Mingye, setiap pergerakkan yang dibuat oleh orang yang terkena racun lembah kalajengking, akan menentukan berapa lama orang itu akan segera mati.


Putra mahkota dan pangeran lainnya, diam-diam begitu senang dengan apa yang mereka lihat saat ini. Sungguh dea telah berpihak kepada mereka sampai membuat adik mereka mengalami hal seperti ini. Jika hanya mereka berempat saja yang ada di ruangan ini, sudah pasti mereka akan tertawa dan juga menggelar pesta perayaan. Namun kesenangan mereka harus ditunda dulu, melihat banyaknya orang yang prihatin pada adik mereka.


Ming Yue, begitu ingin mendekat untuk mengetahui kondisi dari pangeran ke 5. Namun ketakutan pada putra mahkota membuatnya mengurungkan keinginannya itu. Lagipula, banyak orang di tempat ini yang nantinya pasti menyorot apa yang dia lakukan pada pangeran ke 5, jadi sebisa mungkin dia menahan kegelisahannya. Tangannya meremas kuat baju yang dipakainya. Dengan begitu, keinginannya untuk mendekat ke arah pangeran ke 5 bisa dia redam, meski tidak akan bisa menahan dirinya selamanya.


" Aku mohon, sembuhlah. Aku tidak ingin kau mengalami hal buruk di dalam hidup mu." monolog Ming Yue dalam hati. Matanya melihat ada beberapa pengawal dan perawat serta tabib yang membantu memindahkan tubuh pangeran ke 5 ke kamar yang akan digunakan untuk pengobatan pangeran ke 5.


" Jangan terlalu jauh dari putri Feng Ai, dengan begitu putra ku bisa segera sembuh." titah kaisar. Dia menginginkan putranya berada di tempat yang sama dengan menantunya. Dengan begitu, putranya akan semangat untuk berjuang memerangi racun dalam tubuhnya.


Bagian kedokteran istana dibuat kerepotan dengan peristiwa pada jamuan pada siang tadi. Semua orang yang bekerja di departemen kedokteran harus lembur untuk membuat ramuan yang bisa menekan racun lembah kalajengking agar bisa memperlambat penyebarannya. Beberapa tabib juga dibuat senam jantung karena seharian ini harus mendengar kaisar berteriak pada mereka. Kaisar begitu panik sehingga tidak dapat menguasai emosinya.


Ketika hari benar-benar sudah larut, tiba-tiba saja seseorang memasuki kamar yang digunakan untuk merawat pangeran ke 5. Orang dengan pakaian serba hitam itu langsung menuju ranjang tempat pangeran ke 5 berbaring tidak berdaya. Orang itu langsung membuka perban yang membalut luka dari pangeran ke 5. Beruntung luka itu berada di dada sehingga orang tersebut tidak kesulitan untuk membuka perban itu.


" Sebenarnya ramuan itu terbuat dari apa? Bukannya membantu tapi justru memperburuk keadaan saja." orang yang berpakaian serba hitam itu tidak berhenti berkomat kamit.


Kedua tangan dari orang misterius itu diletakkan di atas dada dari pangeran ke 5 yang terdapat luka. Pelan dan pasti, tiba-tiba mengalir air yanng kemudian berputar-putar di sekitar luka panah pangeran ke 5. Sensasinya begitu menyejukkan, dari dalam komanya pangeran bisa merasakan perasaan yang sangat nyaman.


Luka yang mulai menghitam itu, perlahan kembali berubah warna menjadi warna biru bercampur merah. Pada warna ini, tingkat racun dalam tubuh pangeran ke 5 sudah berkurang sangat banyak. Hanya perlu melakukan pengobatan yang benar hingga bisa mengeluarkan semua racun dalam tubuh pangeran ke 5.


" Semoga anda lekas sembuh yang mulia." ujar orang misterius itu pelan tepat di telinga kanan pangeran ke 5. Setelah mengatakan itu, orang itu kemudian pergi meninggalkan kamar rawat dari pangeran ke 5. Semoga saja keesokan harinya, pangeran ke 5 bisa lekas sadar.


Pagi telah datang. Kaisar ditemani oleh kasim Mo segera bergegas menuju ke tempat putranya dirawat. Semalam tidurnya begitu tidak nyenyak karena begitu khawatir pada kondisi dari putra kesayangannya. Berkali-kali kaisar hanya mondar mandir ki kamarnya, tidak tidur sama sekali. Baru mendekati matahari tadi, kaisar bisa memejamkan matanya sejenak.


Kamar tempat putranya dirawat terdengar sangat ramai sekali. Segera saja yang mulia Kaisar membuka pintu kamar tersebut. Senyum langsung merekah diwajah tua dari Kaisar, kala dapat melihat putra kesayangannya tengah duduk dan disuapi oleh menantunya.


" Syukuran kau sudah sadar pangeran ke 5." ucap syukur terlontar dari mulut kaisar..


" Terima kasih atas perhatian yang sudah yang mulia kaisar berikan pada saya." ujar Gong Sheng hormat.


" Haruskah kau bersikap formal ketika kita hanya sedang berdua." sarkas kaisar.


" Maaf yang mulia kaisar, tapi saya dengan yang mulai tidak hanya berdua di kamar ini. Masih ada istri saya dan juga kasim Mo." ujar Gong Sheng yang langsung membuat kaisar mengatupkan bibirnya.


" Sudah bisa mendebat ku, berarti kondisi pangeran ke 5 sudah membaik." Kaisar mendekat ke arah Gong Sheng berbaring.


Tidak ada kata yanng terucap, hanya secara tiba-tiba Kaisar memeluk tubuh rentan pangeran ke 5. Sangat erat, seolah ingin mengatakan bagaimana dia begitu mengkhawatirkan kondisi dari putra yang sedang dipeluknya ini.