The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 73



Kabar tentang penyerang terhadap pangeran ke 5 telah menggemparkan seluruh isi istana. Kaisar begitu marah, dan meminta masalah ini segera dibereskan dan pelaku serta dalangnya harus ditangkap. Kaisar memerintahkan menteri pertahanan untuk turun langsung dalam menangani ini. Kaisar menghimbau, pelaku harus segera ditangkap dan diadili. Bagaimana pun, pangeran ke 5 tetaplah bagian dari keluarga istana, jadi sudah sewajarnya Kaisar bertindak ketika putranya terancam bahaya.


Di kediaman pangeran ke 5 tidak kalah heboh pagi ini. Seluruh pekerja dan pelayan di kediaman ini dihebohkan dengan hilangnya tuan dan nyonya mereka. Padahal masih sangat pagi, tapi kedua tuan mereka menghilang tidak ada yang melihat keduanya pergi kemana. Penjaga gerbang, pengurus kuda dan pelayan tidak ada satupun yang pagi itu melihat tuan dan nyonya mereka keluar dari rumah.


Shihan dan beberapa pengawal menyisir setiap sudut kediaman ini,namun sampai matahari tinggi pun, tuan dan nyonya nya tidak diketahui keberadaannya. Yi Ye juga meminta para pelayan dan penjaga untuk bertanya pada penduduk sekitar, siapa tahu ada yang melihat tuan dan nyonya mereka keluar rumah subuh tadi.


Namun sekali lagi mereka harus mendengar kabar bahwa tidak satu orang pun yang di sekitar kediaman ini melihat Gong Sheng dan Feng Ai.


" Sebenarnya kemana tuan dan nyonya?" tanya Yi Ye.


" Ck!! Kita ini sama-sama mencarinya, lalu bisa-bisanya kau bertanya pada ku. Aku sendiri juga bingung kemana perginya mereka." Shihan sewot.


" Coba kau cari Muxzi. Dia kan menjada nyoya selama dua puluh empat jam."saran Yi Ye.


" Oh Ya... kenapa aku bisa melupakan orang itu." Shihan langsung mecari dimana keberadaan dari tuan dan nyonya mereka.


Setelah bertemu dengan Muzi, bukannya senang tapi raut wajah Shihan terlihat sangat sedih. Dari sini Yi Ye mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang tahu tentang menghilangnya tua mereka. Dan di saat situasi kediaman pangeran ke 5 kacau, utusan dari istana datang dan memerintahkan pangeran ke 5 untuk segera datang ke istana untuk melapor. Yi Ye memijat pelipisnya, masalah satu belum selesai muncul masalah baru pikirnya.


" Tapi maaf tuan, saat ini tuan kami sedang tidak ada di tempat." ujar Yi Ye.


" Kemana gerangan pangeran ke 5 pergi? Ini adalah titah langsung dari Kaisar untuk membahas tentang kasus penyerangan kemarin. Jadi tolong kalian sampaikan untuk pangeran ke 5 datang memenuhi panggilan Kaisar." setelah mengatakan hal tersebut, utusan dari istana pergi meninggalkan kediaman pangeran ke 5.


Di suatu tempat yang jauh dari ibukota, Gong Sheng dan Feng Ai sedang menikmati indahnya lautan yang memantulkan sinar matahari. menciptakan sebuah cahaya yang indah layaknya harapan manusia.


Semalam setelah Gong Sheng berbaring disisi Feng Ai untuk tidur, Feng Ai tiba-tiba terbangun dari mimpi buruk yang menurut ceritanya mimpi itu adalah mengenai penderitaan sang ibu. Gong Sheng begitu mengkhawatirkan kondisi Feng Ai, hingga akhirnya memutuskan untuk mengajak Feng Ai pergi melihat pantai.


" Terima kasih, karena telah mengajak saya melihat indahnya tempat ini. " ujar Feng Ai dalam pelukan Gong Sheng. Suaminya ini sedang memeluknya dari belakang, dengan tatapan mata ke depan memandang indahnya pagi ini.


" Hm... " Gong Sheng hanya berdehem sebagai jawaban.


" Semalam saya bermimpi melihat ibunda sedang menangis di tengah lautan dimana di depannya ada ayah dan bibi Li saling tertawa dan berbahagia di atas penderitaan ibu. Saya terbangun karena sesak dan tidak bisa bernafas, seperti mimpi itu begitu mencekam... " ujar Feng Ai.


" Jangan takut, aku selalu melindungi mu apapun yang terjadi kedepannya. " Gong Sheng menenangkan sang istri.


" Ai.. Jangan pernah merasa bahwa kau sendiri. Karena aku akan selalu bersama dengan mu. Sampai akhir hidup kita... " Feng Ai tertegun mendengar ucapan dari suaminya. Andai.... Andai saja mereka tidak terpisahkan oleh kenyataan, mungkin Feng Ai akan sangat bahagia ketika mendengar hal ini.


Namun nyatanya Feng Ai semakin bersedih karena apa yang diucapkan suaminya ini akan sangat sulit diwujudkan. Satu hari nanti Feng Ai harus kembali menjadi Qiao Feng, dan kembali ke dunia dimana dia tinggal.


" Jika suatu hari nanti tiba-tiba saya tidak lagi di samping anda, apakah anda akan baik-baik saja?" Feng Ai bertanya dengan suara yang sangat pelan. Tapi Gong sheng masih bisa mendengarnya.


" kenapa bertanya seperti itu? Apa kau berniat pergi meninggalkan ku?" Gong Sheng langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Feng Ai, matanya fokus menatap mata Feng Ai yang tidak tahu kenapa terlihat memancarkan kesedihan yang begitu mendalam.


" saya harap itu tidak akan pernah terjadi.." Feng Ai mencoba untuk tersenyum. Tidak ingin jika suaminya ini melihatnya bersedih dan semakin bertanya yang ujung-ujungnya dia sendiri bingung untuk menjawab.


" Jangan pernah katakan hal-hal semacam itu lagi. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." kemudian Gong Sheng kembali meraih Feng Ai untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia akan menjaga wanitanya ini dengan nyawanya sendiri untuk selamanya.


-------------------------------------------------------------------------------------


Di sebuah kedai yang ada di pinggir ibukota, terlihat seseorang yang memakai pakaian sangat mewah tengah duduk di dalam kedai itu menanti seseorang. Beberapa orang yang juga datang ke kedai itu menatap pria yang pakaiannya terlihat mewah bahkan sangat jika dibandingkan dengan pengunjung lainnya.


Pria ini adalah putra mahkota yang menyamar untuk menemui seseorang yang akan dia jadikan sekutunya setelah ini. Seseorang yang bisa dia gunakan sebagai mata-mata di pihak pangeran ke 5. Dengan begini, setiap pergerakan yang dilakukan adiknya itu, maka putra mahkota akan mengetahui semuanya.


" Apa anda sudah menunggu lama Yang Mulia?" sapa pria yang ditunggu-tunggu putra mahkota sejak tadi.


" Lumayan lama, tapi tidak apa. Mari kita langsung saja untuk membahas rencana kita."ujar Gong Lie tidak mau lam-lama di tempat yang sangat kumuh ini.


" Mari ikut saya.." Gong Lie mengikuti pria tua itu menuju ke sebuah dinding yang ternyata bisa dibuka dengan mudah oleh pria tua itu.Gong Sheng sempat terpana sebentar tadi saat melihatnya.


Mata Gong Lie melotot terkejut saat melihat ruangan itu sangat jauh dari tempat dimana dia menunggu tadi. Pria tua itu mempersilahkan Gong Lie untuk mengambil tempat.


" Saya akan melakukan apa yang anda tawarkan pada saya beberapa hari yang lalu. Tapi maaf karena sara tidak bekerja dengan gratis." ujar pria tua.


" Apa yang anda inginkan?" tanya Gong Lie.


" Rumah dan pekarangan sera lahan kosong yang ad di perbatasan dengan Goryeo. Aku menginginkannya>" pinta Gong Lie bernegosiasi.