
Sudah dua puluh hari lamanya, pangeran ke 5 belum juga kembali ke ibukota. Hanya kabar tentang dirinya saja yang sampai di ibukota. Meski begitu, Feng Ai tetap merasa bahagia karena kabar itu mengatakan bahwa suaminya saat ini baik-baik saja. Suaminya dan pasukan yang dipimpin olehnya, telah memenangkan perang dengan para perompak. Feng Ai bangga akan keberhasilan dari suaminya.
Selama dua puluh hari ini, Feng Ai juga tetap terus melatih ilmu bela dirinya. Hingga hari ini dia sudah mencapai tingkat spiritualis tingkat tiga. Dia termasuk orang berbakat dalam ilmu beladiri karena sudah sampai tingkatan tiga meski baru dua puluh hari dia berlatih.
" Yang mulia, kita istirahat terlebih dahulu. " ujar Shihan ditengah latihannya bersama Feng Ai.
" Aku akan minta pelayan membawakan minuman dan juga beberapa makanan ringan. " ujar Feng Ai yang sudah lemas. Dua jam dia latihan, tapi masih saja belum bisa menguasai jurus yang diajarkan Shihan.
" Anda duduk saja yang mulia, biar saya yang meminta pelayan untuk menyiapkannya. " tak mendengar kata-kata Feng Ai, Shihan langsung bergegas ke dapur untuk memintakan apa yang tuannya inginkan.
Feng Ai mengusap keringatnya yang sudah membanjiri wajah cantiknya. Meski begitu tak sedikitpun kecantikannya luntur, justru nampak semakin menawan. Feng Ai kelelahan, mengeluarkan tenaga dalam selama dua jam itu cukup banyak menguras energi nya. Tapi semangatnya tidak surut sedikit pun sejak awal dia latihan hingga hari ini.
Berselang beberapa menit, Shihan datang dengan dua sayang di belakangnya membawa minuman dan cuma makanan ringan sesuai keinginan Feng Ai. Tak lagi memperhatikan sopan santun maupun keanggunannya, dia langsung menyambar minuman untuknya dan menenggaknya hingga tandas.
" Aaaahhhhh segarnya.... " serunya. Tenggorokannya yang kering terasa segar saat air melintas di sana.
" Apa anda ingin dibawakan yang lain nyonya? " tanya salah seorang dayang yang tadi membawakan minuman untuk Feng Ai.
" Tidak Terima kasih, kalian bisa kembali bekerja. " jawabnya.
Shihan duduk di hadapan tuannya sambil meminum minuman yang memang dikhususkan untuknya. Agar tak bercampur dengan tuannya, bisa gawat jika mereka satu minuman. Shihan bisa segera berjumpa malaikat maut dihantarkan oleh Pangeran ke 5.
Feng Ai sedikit melamun sambil melihat langit yang sedikit mulai tak seterang tadi. Sepertinya sebentar lagi senja akan tiba. Feng Ai memikirkan banyak sekali hal, salah satunya tentang cerita novel yang sekarang ini tengah dijalaninya.
Jika tak salah menghitung dan mengira, seharusnya sebentar lagi akan diadakan jamuan makan malam yang diadakan untuk menyambut kemenangan dari pasukan Ri Yue yang dipimpin oleh Pangeran ke 5. Feng Ai ingat betul bahwa di dalam jamuan itu terjadi masalah yang bisa membuat Gong Sheng celaka.
" Shihan, apa kau tahu bagaimana hubungan kaisar dengan suamiku? " tanya Feng Ai yang tiba-tiba.
" Kenapa anda bertanya seperti itu yang mulia? " tanya balik Shihan yang kaget mendapatkan seperti itu.
" Aku hanya berpikir saja, sejak Sheng tinggal di kediaman Feng dan menjadi murid ayah ku. Tak pernah aku mendengarnya mengatakan bahwa dia dikunjungi oleh Kaisar. " jawab Feng Ai dengan raut wajah yang sedih.
" Hal itu tak berjalan dengan baik sesuai keinginan kaisar, buktinya Sheng sudah ditargetkan oleh mereka. Sheng dalam bahaya Shihan. " ujar Feng Ai. Kedua matanya menampakkan kesedihan yang sesungguhnya. Sedih karena kehilangan orang yang dia cintai.
" Yang mulia, apa maksud anda? " tanya Shihan terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Feng Ai.
" Mereka, Orang-orang yang berada di belakang putra mahkota sudah mulai menargetkan suami ku. Mereka sudah mulai mencari kelemahan dari Sheng. Apa kau tahu, beberapa hari lalu aku memerintahkan mu untuk mengurus seseorang? Dia adalah orang dari Gong Lie. " terang Feng Ai.
Dengan melihat wajah Feng Ai yang tidak menampilkan kebohongan, Shihan mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh Feng Ai. Dia cukup terkejut mendengar apa yang tuannya katakan meski dia sudah menduganya. Hubungan Pangeran ke 5 dan putra mahkota memang tidak baik dan itu sudah menjadi rahasia umum.
Shihan tak menyangka, putra mahkota benar-benar memulai perang dengan Pangeran ke 5.Padahal Shihan tahu betul bahwa Pangeran ke 5 sama sekali tak menginginkan Tahta. Pangeran ke 5 tak ingin menjadi kaisar kemudian harus menikahi wanita lain selain Feng Ai.
Pangeran ke 5 tak ingin melihat Feng Ai harus menderita seperti ibunya. Selir Xia adalah 2anuta yang paling dicintai oleh kaisar, tapi harus mengalah demi membuat pria yang dia cintai mendapatkan kekuasaan dengan menikahi permaisuri yang sekarang. Tidak ingin ada wanita yang memiliki nasib seperti ibunya, karena itu Gong Sheng melepaskan kesempatan untuk bisa duduk di singgasana kaisar Xili.
" Beberapa hari lagi Sheng akan pulang. Akan diadakan jamuan makan malam di istana. Tapi karena putra mahkota telah menghasut kaisar, maka dari itu perjamuan itu hanya akan membuat Sheng dipermalukan. Maukah kau membantu ku untuk memperkuat posisi Sheng di hati kaisar? " celetuk Feng Ai. Shihan menatap tuannya itu penuh dengan kekerasan, darimana tuannya itu tahu. Apakah tuannya itu adalah cenayang.
" Anggap saja aku seperti cenayang jika itu bisa membuatmu percaya pada ku. Aku tak ingin Sheng dicap sebagai pengkhianat hingga dia harus dipenggal di alun-alun ibukota. " lirih sekali Feng Ai bicara. Tapi masih sanggup didengar oleh Shihan.
" Aku orang baik, dan aku ingin Sheng mendapatkan nasib yang baik. Jadi aku mohon maukah kau membantu ku? " tanya Feng Ai sekali lagi.
Shihan lama sekali terdiam, tidak menolak juga tidak mengiyakan. Hanya diam dengan tatapannya yang tajam mengintimidasi Feng Ai. Shihan ingin melihat kejujuran atau kebohongan, apa yang baru saja dikatakan oleh Feng Ai. Dan pada akhirnya hanya kejujuran yang ditemukan Shihan dalam kedua manik abu itu.
" Bukankah saya sudah membantu Anda yang mulia. Kenapa Anda masih saja bertanya kesediaan saya. Bukankah di awal, Anda mengatakan bahwa saya hanya boleh mendengarkan perintah Anda? " jawaban Shihan berhasil membuat Feng Ai terharu.
" Terima kasih.... Hiks... Hiks..... Sheng adalah orang baik Shihan, tapi nasibnya yang buruk... Hiks... Hiks.. " Feng Ai berucap dengan isakan.
Shihan terdiam, ternyata sedalam itu cinta dan kasih sayang dari Feng Ai untuk tuannya yang sesungguhnya. Shihan selalu menilai, Feng Ai hanyalah wanita yang hanya tahu melakukan semua yang dia suka. Tidak pernah memikirkan tentang perasaan orang lain, selalu bertindak sesuai suasana hatinya.
Kini Shihan bisa menarik kesimpulan, bahwa seseorang yang baik tidak harus mengatakan pada dunia bahwa dia orang baik. Mereka bisa mengekspresikan setiap rasa mereka, dan masih berbuat baik yang tak akan tertinggal.